
BAB 22
Lain halnya di dalam rumah sakit tampak seorang lelaki tampan berwibawa sedang terburuh buruh berjalan menuju ke sebuah ruangan yang tak lain adalah ruangan yang di tempati jelita sejak beberapa hari belakangan ini.
Akan tetapi alangkah kagetnya lelaki yang bernama bram setelah membuka pintu ruangan tersebut karena sudah tak berpenghuni.
"Di mana dia....?
" apa dia kabur...?
"Tidak tidak, itu tidak mungkin.
" Oh mungkin dia di ruangan ibu mira, monolog bram.
Dengan langkah yang sangat tergesa gesa dia keluar dari ruangan tersebut lalu segera menuju ke ruangan di mana tante mira di rawat dengan sigap dia membuka pintu dan ternyata sama di sana sama sekali tak melihat seseorang selain tante mira sendiri yang terbaring tanpa ada pergerakan sedikit pun.
Bram kembali berlari keluar dari ruangan itu dan kali ini dirinya menuju ke ruangan dokter yang menangani jelita.
"Tok.. Tok..
" Kreekk.. Suara pintu terbuka.
"Assalamu alaikum dokter.
" WA alaikum salam wr:wb, oh tuan bram silahkan duduk tuan.
"Iya dokter Terima kasih. Balas bram sambil menarik kursi lalu menghempaskan bokongnya dengan sedikit kasar lalu mengusap wajahnya.
" Maaf tuan bram apa ada masalah?
"Maaf dokter sedikit menganggu waktu dokter, saya cuma mau nanya soal jelita kira kira jam berapa ya dia mendapat info jika dirinya sudah bisa keluar dari rumah sakit ini?
" Kalau aku nggak salah tadi pagi pas aku periksa keadaannya lalu aku memberi tahu dirinya sudah bisa pulang tapi masih harus melakukan kontrol, tapi tak lama setelah itu aku segera menghubungi tuan akan tetapi sekretaris tuan bilang tuan sedang melaksanakan meeting penting jadi aku cuma menyampaikan agar tuan segera ke rumah sakit.
"Aaarrrghh bodoh. Teriak bram setelah mengingat bahwa rey tadi berusaha untuk menjelaskan sesuatu akan tetapi dirinya selalu menolak karena buruh buruh menyelesaikan semua tugasnya dengan niat akan menghabiskan waktu bersama jelita keesokan harinya.
" Kenapa tuan, apa sekretaris tuan tak memberi tahu pesanku.?
"Bukan salah mereka dokter tapi salah saya, saya yang menolak info dari mereka.
"Lalu.
" Bisa kita lanjutkan pencarian melalui CCTV?usul bram
"Oke ,kita bisa segera ke sana, ucap dokter.
" Oke, ayo dokter.
Dengan segera ke duanya menuju sebuah ruangan lalu meminta ijin kepada sang menejer di rumah sakit tersebut.
__ADS_1
Setelah mereka berdua mendapatkan ijin barulah ke duanya menemui salah satu pegawai yang bertugas di sana.
Tak butuh waktu lama keduanya sudah bisa melihat kemana arah jelita pergi.
Setelah mengucapkan terimakasih kasih kepada pegawai tersebut mereka lalu pergi meninggalkan ruangan itu lalu melanjutkan langkahnya menuju ruangan milik dokter yang menangani jelita .
"Terima kasih banyak atas waktunya dan maaf karena aku merepotkan anda dokter.
" Tidak masalah tuan.
"Kalau begitu aku pamit dulu, assalamu alaikum.
" Wa alaikum salam wr:wb, balas sang dokter
*****
Kini bram sudah berada di dalam rumah makan tersebut dengan perlahan di melambaikan tangannya ke arah ibu sum.
"Siang tuan, mau pesan apa?
" Maaf Bu saya cuma mau nanya sma ibu.
"Nanya soal apa tuan?
Tampak bram sedang mengotak atik hpnya lalu memperlihatkan sebuah foto kepada ibu sum.
" Apakah benar tadi pagi gadis ini ke sini?
" Lalu kemana dirinya sekarang?
"Ada, ada tuan sedang di rumahku.
"Kalau begitu tolong antar aku ke sana bu.
" Baik tuan mari.
Di tengah perjalanan bram memperkenalkan dirinya kepada ibu sumiati.
"Maaf Bu klau aku jadi merepotkan ibu.
" Nggk apa apa tuan .
"Oh ya namaku bram , kalau nama ibu siapa?
"Kalau aku sumiati tuan tapi biasanya aku di panggil ibu sum saja.
" Oh ya ,mengapa tiba tiba jelita ada di rumah ibu sum.
"Sebenarnya tadi pagi tuan jelita datang membeli segelas teh hangat kebetulan pas nggak ada pembeli lain jadilah kami ngobrol banyak tentang kedatangannya ke kota ini dia bercerita banyak tentang halyang menimpanya.
__ADS_1
" Terus?
"Karena aku merasa kasihan aku nanya ke dia apa di sini ada keluarga atau kerabat tapi katanya tidak ada selain tantenya sedang koma akhirnya aku ajak dia tinggal sementara di rumah biar dekat dari rumah sakit untuk menjenguk tantenya setiap hari dia pun setuju dengan syarat aku harus membiarkan dia membantuku di rumah makan kalau aku tak mau makan dia pun tak mau tinggal di rumahku jadinya aku setuju saja. Cerita bu sum dengan panjang lebar.
" Makasih bu sum berkat kebaikan bu sum jelita tak pergi jauh.
"Maaf nih tuan bram kalau ibu dengan lancang bertanya, sebenarnya jelita itu siapanya tuan.
Sambil tersenyum bram menoleh ke arah ibu sum lalu dengan enteng menjawab.
" Calon istri saya bu sum.
"ha.... Calon istri tuan?
" Iya jelita adalah calon istri saya bu sum.
"Kalau begitu maafkan aku tuan dengan lancang nya aku membiarkan calon istri seorang tua bram pengusaha terkaya di kota ini akan ikut bekerja denganku sebagai buruh cuci piring. Tutur bu sum meski pun dia cuma sekedar pemilik warung kecil namun ibu sumiati termasuk perempuan yang hobby membaca koran atau buku buku bisnis karena dirinya juga memiliki anak seorang pengusaha yang meski tak sepopuler Bram tapi cukup berhasil.
" Tidak apa apa bu sum, malah aku yang berterimah kasih kepada bu sum karena sudah menjaga calon istriku dengan baik.
"Ah.... Lupakan tuan aku itu cuma tidak mau gadis cantik seperti nona jelita hidup terlunta lunta di kota,
Tiba tiba ibu sum memutuskan pembicaraannya lalu menunjukkan sebuah rumah sederhana .
" Itu, itu tuan rumahku.
"Yang mana bu sum?
" Yang cat biru.
Bram pun segera memarkirkan mobilnya di depan rumah yang sangat sederhana milik ibu sum.
Ibu sum dengan cepat turun dari mobil lalu membuka pintu rumahnya.
"Kreek....
"Assalamu alaikum, tapi salam bu sum tidak mendapatkan jawaban.
" Mari tuan silahkan masuk.
Dengan cepat Bram ikut melangkah masuk ke dalam rumah mengekor di belakang ibu sum.
"Jelita nya di mana bu sum.?
" Silahkan duduk tuan biar aku cari dulu jelita di kamar barangkali dia ke tiduran.
Dengan sedikit tergesa gesa ibu sum berjalan ke arah pintu kamar lalu sedikit membuka dan mengintip benar saja jelita sedang tertidur dengan pulas.
***like dan komennya dong sayang ***
__ADS_1
***biarkan diriku merajuk benang kusut agar ku bisa mengenal dunia dari yang kusut hingga menjadi sehelai kain***by anjas muliana