TAKDIR CINTA JELITA

TAKDIR CINTA JELITA
mencari rumah untuk jelita


__ADS_3

BAB 51


Pak budi dan ibu ima sangat serius menanggapi cerita jelita dari pertama hingga akhir.


Setelah mendengarkan cerita jelita pak budi pun menganggap kepergian jelita dari rumah bram adalah keputusan yang tepat.


"Kamu sangat bijak dalam mengambil keputusan nak. Ucap pak budi.


" Sangat jarang ada wanita mau berkorban perasaan demi kebahagiaan kekasihnya beserta keluarga sang kekasih. Timpal ibu ima.


"Betul sekali kata mama.. Sambung pak budi lagi.


" Tapi pak...bu aku masih saja terus memikirkan dirinya bahkan saat ini pikiranku sangat kacau di hatiku di penuhi dengan namanya. Ucap jelita junur


"Memang begitu nak... Terkadang sangat mudah memulai sesuatu namun begitu susah untuk melupakan karena ini masalah hati , meski mulut berkata tidak tetapi hati berkata iya. Ucap Ibu ima


" Insya allah kau pasti bisa dengan seiringnya waktu nak.. Ucap pak budi


"Semoga ya pak aku bisa melalui segalanya dan dengan cepat aku bisa melupakan mas bram.


" Amin... Ucap ke duanya secara bersamaan.

__ADS_1


"Kalau begitu sekarang kita siap siap pulang ya karena hari sudah agak sore hari ini kita sampai sore saja jualannya soalnya bapak dan ibu ada undangan dari tetangga.


" Ooo ... Gitu ya pak, ucap jelita singkat lalu bangkit perlahan berjalan menuju tas kecilnya.


"Jelita... Tunggu bapak dulu ya.. Teriak pak budi.


" Iya pak, balas jelita setengah berteriak.


Tak lama kemudian pak budi datang membawa sebuah paper bag lalu menyerahkan kepada jelita.


Jelita pun menerimanya dengan tampak bengong.


"Maaf pak tapi ini apa...?


"Tapi maaf pak.. Ibu aku ini baru kerja masa udah dapat hadiah...


" Iya nak... Biar enak berkomunikasi dengan kamu, ucap pak budi.


"Tapi rasanya tidak etis pak dengan semua ini jadi aku minta maaf karena tidak dapat menerima hadiah dari bapak.


" Sungguh nak kami sangat ikhlas memberikannya pada kamu tolong jangan di tolak karena kami sudah menganggap kamu adalah anak kami sendiri. Ucap Ibu ima dengan wajah memelas.

__ADS_1


"Baiklah pak ... Bu aku Terima hadiah ini tetapi tidak gratis aku akan membayarnya dengan cara bapak harus memotong uang gaji saya setiap bulan sesuai sampai HP ini lunas. Ucap jelita sambil tersenyum.


" Atur lah nak sesuai apa yang kamu mau tetapi ingat kami memberi hadiah bukan untuk di kredit kan, ucap pak budi.


"Siip... Kalau begitu jelita pamit duluan ya pak.. bu..


" Iya hati hati di jalan .


"Oke makasih banyak. Ucap jelita sambil berjalan ke arah tukang ojek langganan nya yang sejak tadi menunggunya.


Sedangkan pak budi dan Ibu ima masih setia berdiri di depan pintu sambil menatap kepergian jelita.


" Bu ayo kita pulang..


"Ayo pak kita cari rumah kost untuk jelita dan tantenya biar lebih cepat lebih bagus. Ucap Ibu ima.


" Kita cari di daerah sini saja biar dekat dari rumah makan kita.


"Iya betul pak


" Bagaimana kalau yang di sana kayaknya rumahnya bersih dan asri sangat nyaman untuk di tempati jelita.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu ayo kesana. Ucap pak budi lagi.


***** ada kalanya kita harus mengalah untuk menang ikuti alurnya dan cobalah untuk berdamai dengan keadaan meski terkadang kita harus menangis dalam hati luahkan emosi di saat sendiri sehingga tak ada hati lain yang ikut tersakiti karena terkadang emosi membuat lidah kita berucap tanpa berpikir. by anjas muliana.


__ADS_2