
BAB 24
Setelah bram berhasil membujuk jelita untuk ikut bersamanya tinggal di rumah miliknya ,akhirnya Bram dan jelita berniat meninggalkan rumah bu sum karena hari sudah menjelang malam.
"Mas sebelumnya kita mampir di warung bu sum ya je mau pamit.
" Iya yank.
"Mas... Jangan manggil je gitu dong.
" Emangnya kenapa?
"Je agak risih aja.
" Bagaimana kalau aku panggil adek aja.
"Ah... Itu aku juga setuju mas.
" Okey, gimana kita berangkat sekarang?
"Iya, ayo mas.
*****
Kini mereka berdua sudah sampai di rumah makan ibu sum dengan sangat antusias ibu sum menyambut ke duanya dengan sangat ramah.
" Silahkan masuk tuan nona jelita.
"Apaan sih bu sum biasa aja panggil jelita .
" Maaf nona tadi ibu tidak tahu kalau ternyata nona adalah calon istri dari tuan Bram bastian putra pemilik perusahaan terbesar di kota ini.
"Calon istri? Kata siapa bu sum?
" Kata tuan Bram tadi.
Bram yang di lirik hanya cuek lalu memilih memotong pembicaraan dua wanita yang beda generasi itu.
"Maaf bu sum kami datang ke sini berniat untuk pamit karena kami mau pulang ke rumah tapi sebelumnya kami mau membesuk tante mira terlebih dahulu.
" Bu sum jelita pamit dulu ya, nanti kapan kapan aku main ke sini, ucap jelita sambil memeluk ibu sum.
"Iya nak, hati hati semoga tante kamu cepat sembuh begitu juga dengan kamu.
" Amin, dan Terima kasih banyak. Ucap jelita.
"Kalau begitu kami pamit ya bu sum. Timpal Bram.
Mereka kini berjalan beriringan masuk ke dalam menyusuri loby rumah sakit hingga tiba di sebuah ruangan yang di tempati oleh tante mira lalu mereka berdua masuk ke dalam dan mendekati tante mira jelita langsung meraih tangan tante mira yang lemah lalu mencium dan mengusap punggung tangan tante mira dan sedikit membungkuk memeluk dan terakhir jelita mencium semua sisi wajah yang sudah pucat.
"Mas tak apa kah kalau je meminta waktu agak lama si sini?
" Dek kita ikut peraturan rumah sakit ya.
"Tapi....
__ADS_1
" Sssttt... Nggak boleh membantah mas, lagian kamu juga butuh istirahat ingat kamu belum terlalu sehat.
"Kasihan tante di sini seorang diri.
" Dia tidak sendiri dek, mas akan kirim seseorang yang menjaga tante di sini, aku juga sayang sama tante mira entah mengapa aku terasa damai jika bersamanya kamu sadar nggak sih kalau kita bersama ada ke samaan.
"Kesamaan?
" Iya, coba perhatikan alis tante mira dengan alis kamu dan aku begitu juga dengan bibir kita sama kan?
"Sama dari mananya sih mas?
" Sama sama seksinya, bisik Bram.
"Hadeeeh mulai lagi deh.
" Habisnya adek sih nggak percaya banget, itu artinya kita jodoh.
"Sudah kalau gitu kita pulang dari pada berisik di sini berdebat sama mas nggak bakalan menang kita. Ucap jelita sedikit jengkel.
Bram hanya menanggapinya dengan senyum yang membuat jelita semakin terpesona.
" Ayo, mereka berdua pun keluar setelah pamit kepada tante mira sebelum pergi Bram juga menyempatkan diri memeluk tante mira yang membuat jelita menjadi terharu.
Setelah menempuh perjalanan kira kira dua puluh menit akhirnya mereka sampai di depan rumah yang besar dan mewah dengar pagar yang tinggi menjulang.
Di depan pintu pagar yang lengkap dengan penjaga yang berseragam tampak jelita menjadi bengong melihat seorang satpam membuka pintu sambil menundukkan kepalanya.
Jelita yang tampak sangat penasaran dengan sigap menarik tangan Bram.
"Mas...
"Kenapa ke sini?
" Turunlah kita sudah sampai.
"Je nggak mau mas... Apaan coba membawa je ke hotel.
" Bram yang nggak pernah menyangka kalau jelita akan berpikiran seperti itu langsung tertawa lepas.
"Ha.. Ha... Ha... Ayo turun atau mas akan gendong kamu. Ucap Bram
Seketika para karyawan yang bekerja di rumah itu termasuk pak joko menjadi terpaku ketika mendengar suara tawa dari sang tuannya karena selama ini belum pernah melihat dan mendengar tawa seorang Bram jangankan tawa suara dan senyumnya saja sangat irit .
" Nggak mau ah mas.
Bram yang tak main main dengan ancamannya segera menarik pintu mobilnya lalu membuka dan mengangkat jelita lalu berjalan tanpa merasa bersalah membuat para pekerja di rumahnya kembali terpaku karena selama ini belum pernah Bram membawa wanita kerumahnya selain ibu dan adik perempuannya.
Sedangkan jelita yang merasa risih dan malu di lihatin oleh para pekerja yang ada di sekitarnya terus meronta namun itu juga tak berarti apa apa karena Bram tak mengindahkan dirinya kini hanya pasrah karena dia sendiri yang akan sakit.
Setelah masuk ke rumahnya Bram berpapasan dengan wanita yang sudah agak tua.
"Selamat malam tuan.
" Malam, bibi masak makan malam yang sehat untuk nyonya ya.
__ADS_1
"Baik tuan, jawab bi surti yang setengah bengong.
Kini Bram menaiki anak tangga satu persatu sambil menggendong jelita seperti koala.
" Nah sudah sampai dek. Ucap Bram sambil meletakkan jelita di atas kasur king sizenya.
"Mas ayo kita pulang katanya ke rumah mas ternyata ke hotel, mau ngapain coba?
" Dek ini bukan hotel tapi rumah mas dan kamar ini adalah kamar mas yang akan kita pakai bersama sama.
"Ha... Rumah mas Bram segede ini? Ucap jelita setengah teriak karena kaget.
" Iya.... Dek biasa aja ah... Nggak usah lebay gitu.
"Sungguh mas je belum pernah melihat rumah segede ini apa lagi masuk ke dalamnya seperti ini.
" Sudah sana mandi atau mau aku mandiin.
"Nggak ah...biar aku sendiri yang mandi , nggak mandi aja hampir kebablasan apa lagi mandi yang udah pasti t******** .
" Tapi kan enak dek. Ucap Bram dengan menaik turunkan alisnya.
"Udah aah... Aku mau mandi. Ucap jelita sambil berdiri.
" Baiklah aku ke ruang kerjaku dulu ya. Ucap Bram sambil berjalan.
"Mas tunggu.
" Iya ada apa dek.
"Aku bisa minta tolong nggak mas.
" Tolong apa?
"Aku mau minta tolong sama bibi tadi?
" Untuk apa?
"Bantu buka bajuku.
" Astaga dek, aku aja ngapain pakai jasa bibi segala.
"Tapi aku malu kalau mas.
" Untuk apa malu, hampir semuanya sudah aku lihat bahkan tadi yang ini sangat manis rasanya. Ucap Bram sambil meremas kedua gunung kembar milik jelita.
"Auh.... Mas.
" Kenapa sayang enak...
"Jangan mesum lagi deh mas bukan enak tapi sakit.
" Masa sih tapi wajahmu mengatakan lain sayang, ucap Bram dengan semakin mengelus elus dua buah gunung kembar tersebut bahkan sebelah jari jarinya sudah menyusup masuk dan memiling buah ceri yang ada di puncak gunung itu membuat jelita mengigit bibir bawahnya mencoba tak mengeluarkan suara desahannya karena malu jika Bram mendengarnya.
***jangan lupa baby like dan komennya biar autor nya tambah semangat dan maaf apa bila masih banyak kesalahan dalam menulis****
__ADS_1