
BAB 25
Jari jemari Bram semakin lincah bermain di dalam sana bukan hanya satu tapi kini kedua tangannya sudah bermain di kedua gunung tersebut bahkan yang sebelah sudah dia keluarkan lalu dia segera meng***** dan me****it sehingga jelita tak mampu lagi menahan d******** yang lolos begitu saja.
"Auw..... Mas..
" Emm
Jelita tak mampu lagi melanjutkan omongannya karena suhu tubuhnya terasa semakin panas keringat sudah mulai membasahi dahinya sensasi yang baru dua kali di rasakan nya ini sangat luar biasa, rasa geli sakit dan denyutan di bawah sana semakin menyiksa tapi enak luar biasa meluruhkan tenaga jelita, lututnya seakan tak bertenaga lagi sehingga membuatnya bertahan dengan satu tangannya yang masih normal menyanggah di sisi dipan ranjang.
"Mas....
" Eem
"Aku tak kuat mas...
Mendengar itu Bram lalu menarik pelan pelan tubuh jelita lalu membaringkan nya di ranjang king sizenya dan kembali melanjutkan kegiatannya dengan sangat leluasa meng***** , men*****, dan terkadang meng**** puncak gunung itu puas dengan itu Bram kembali me******* sehingga jelita semakin menggeram dan merasakan ada sesuatu yang hendak keluar sehingga membuat dirinya berteriak sambil meliukkan tubuhnya dan menarik rambut bram sekuat tenaga.
"Aaarrrhhhh...... Mas...... Auw.....
Setelah itu tubuhnya terasa lemas semua akibat ketegangan voll.
" Melihat itu Bram lalu menghentikan kegiatannya dengan penuh senyum lalu memeluk tubuh jelita.
"Sampai sini aja dek ya, kamu sudah merasakan pelepasan pertama.
" Eum, cuma sedikit ******* yang keluar dari bibir jelita.
Setelah itu Bram kembali melepaskan pelukannya lalu mencium kening jelita dan merangkak bangun berjalan masuk ke dalam kamar mandi dan menyiram tubuhnya dengan air hangat agar gairahnya menghilang dia belum ingin berbuat jauh sampai di titik sensitif.
Tak lama Bram sudah keluar dengan handuk terlilit di pinggang membuat mata jelita terbelalak.
"Tampan sekali ciptaan Tuhan.
" Hey, kenapa dek.
"Tampan mas.
" apa? Coba ulangi lagi dek.
"Nggak ya mas tidak ada siaran ulangnya.
" Mas...
__ADS_1
"Ya, apa ...minta lebih dari yang tadi kah?
" Emang ada lagi lebih dari yang tadi?
"Ada.
" Nggak ah. Mas.
"Lalu apa?
" Hem, itu tadi aku kenapa ya mas.
"Yang mana? Ucap Bram yang pura pura nggak tau sengaja menggoda jelita
" Itu lho mas, yang tadi.
"Yang mana?
" Ah.. Mas ini, itu yang kayak pipis itu lho tapi kok enak luar biasa, itu aku kenapa berdenyut hebat gitu apa itu yang di bilang ber******* . Tanya jelita dengan kepolosannya.
"Itu namanya kamu sudah merasakan pelepasan.
" Berarti aku sudah tak perawan lagi dong?
" apa itu pembelahan?
" Ada,Kalau itu kita lakukan kamu akan sedikit terasa sakit tapi itu hanya beberapa saat saja.
"Ooo ,Lanjut.
*nggak dek, sebaiknya adek bangun biar aku bantu melepaskan pakaian kamu lalu mandi kita makan malam kamu harus minum obat.
" Yah... Kok udah.
"Iya lain kali kita lanjut ya, kamu harus minum obat biar cepat sembuh. Ucap bram sambil mengusap usap kepala jelita.
" Terus mas ke mana?
"Ke tempat yang tadi tertunda.
" Lha terus aku gimana mandinya?
Tanpa berucap sepatah kata bram langsung bergerak lalu menggendong tubuh jelita masuk ke dalam kamar mandi lalu dengan perlahan dirinya membuka satu persatu pakaian jelita hingga yang tersisa tinggal segi tiga saja.
__ADS_1
Wajah jelita tampak merona merah seperti tomat matang melihat dirinya sudah tak ada pakaian di bagian atasnya lalu menunduk ke bawah yang hanya tinggal segi tiga saja apa lagi saat dirinya menoleh dan melihat bram berdiri sambil tersenyum sentak saja jelita berteriak dan menutup seluruh wajahnya dengan ke dua telapak tangannya.
"Masssss...
Jelita lalu duduk berjongkok dan memeluk kedua lututnya menyembunyikan dua gunung yang sedang bergelantungan tanpa ada sehelai benang.
"Bangun dek, ayo biar mas mandiin .
"Tapi je malu mas.
"Malu sama siapa...dek..?
" Ya, sama mas lah masa malu sama tembok.
"Ngapain malu sama mas, tadi aja nggak malu malahan merem melek sampai bilang enaknya luar biasa. Timpal bram dengan sedikit menggoda jelita.
" Tau... ah. Ucap jelita kesal.
Akan tetapi bram hanya menanggapinya dengan tersenyum saja dan kembali mengangkat jelita lalu mendirikannya di bawah shower dan dan mulai membersihkan tubuh jelita.
Setelah keduanya selesai membersihkan dirinya mereka berdua lalu turun ke bawah untuk makan malam.
"Silahkan tuan, nona semoga suka dengan makanan yang bibi masak.
" Iya bi, makasih. Ucap ke duanya bersamaan.
"Bi... Kenalkan namanya jelita dia istri saya.
"Istri tuan bram? Ucap bi surti
" Iya bi istriku.
"Mas ...mulai deh. Ucap jelita
"Jadi gini bi dia baru calon istriku insya allah kami akan menikah setelah tante mira sudah bangun dari komanya.
" Oh... Gitu tuan, maaf tuan sebelumnya bukanlah lebih baik kalau tuan nikah saja dulu bukan apa bibi takut saja tuan kebablasan.
"Insya allah tidak yang satu itu bi, makasih karena selalu sayang sama saya.
" Sama sama tuan,insya allah bibi akan selalu ada selagi sehat.
"Ya sudah bibi permisi ke belakang dulu tuan nona.
__ADS_1
" Silahkan bi. Ucap jelita.