TAKDIR CINTA JELITA

TAKDIR CINTA JELITA
pikiran bara


__ADS_3

BAB 2


Perlahan bara meraih tas kerjanya lalu ikut duduk di sebelah jelita sambil mengamati gadis kecil yang selalu membuat jantungnya berdebar entah mengapa melihat keadaan gadis yang sangat di kasihinya seperti ini tiba tiba timbul rasa marah yang bergojolak di dalam hatinya ingin rasanya bara mendatangi Ibu itu lalu melakukan hal yang sama namun dia tetap bertahan dan lebih memilih untuk memberi pertolongan dengan cepat.


"Je... Posisi duduk kamu di putar agak ke sini ya berhadapan sama kak bara biar kak bara cabut beling yang masih tertancap di muka kamu.


Jelita hanya membalas dengan menganggukkan kepalanya dan sedikit bergeser merubah duduknya dengan kedua tepak tangannya masih setia menutup wajahnya.


Kini posisi duduk jelita sudah berhadapan dengan bara.


Sedangkan bara masih belum melakukan apa apa dirinya masih setia menatap jelita dengan rasa ibadah sedikit bermonolog.


"Kasihan kamu je... Seandainya kamu sudah cukup umur dan keadaan keluarga kita tak di landasi dengan perselisihan dan kesalapahaman sudah tentu aku akan meminta ijin kepada bapak untuk menjadikan kau pendamping hidupku hingga di penghujung usiaku sungguh hanya dirimu saja yang mampu menggetarkan hatiku, haaadeeeh.... Anak kecil bara, gumam bara .


Namun suara rintihan jelita kembali menyadarkan bara bara dari lamunannya.


"Aduuuuuuh..., sakit.... Ucap jelita.


Dengan cepat bara membuka tasnya lalu mencari alat yang akan di gunakannya.


" Je.... Buka ya, ucap bara sambil menarik ke dua tangan jelita lalu dengan tenang bara mulai membersihkan sisa sisa darah dan mengoles sedikit obat di kulit wajah jelita lalu dengan perlahan dia mencabut satu persatu beling yang sedang tertancap dengan sempurna di wajah jelita .


Sesekali jelita tampak mencekram pinggir tempat duduk di mobil itu hingga tanpa sadar tanganya beralih menarik kemeja di bagian dada bara lalu terdengar suara rintihan kecil jelita yang terdengar agak manja yang berhasil lolos dari bibir yang sangat seksi dengan sedikit agak terbelah membuat bibir itu seperti gambar love sehingga bara sedikit menimbulkan pikiran mesum di dalam hatinya.


"Ya Allah semanja inikah dia, mungkinkah dia akan merintih seperti ini andai dia berada di bawah kungkungan tubuhku entah mengapa rintihan ini sangatlah indah di pendengarangku, Tuhan semoga dia engkau ciptakan untukku agar aku bisa mendengar rintihan ini di saat malam pertamaku semoga jika waktunya sudah tepat akulah yang mendengar rintihan dan cengkraman tangannya di saat penyatuan pertamaku dengannya. Tanpa sadar bara telah berdoa di dalam hatinya sebagai akhir dari pikiran mesumnya sambil menatap jelita lalu dia menyadarkan dirinya dengan sedikit memukul kepalanya sendiri lalu berkata.


"Astagfirullah al adzim apa yang aku pikirkan,ya allah ampuni hambamu ini.


Tiba tiba suara bara mengagetkan jelita.

__ADS_1


" Je.... Udah selesai atau masih sakit...?


"Ngg.....Nggak .,... Nggak kok kak cuma sedikit perih.


Perlahan bara mengusap kedua punggung tangan jelita yang masih memegang baju bara sambil berkata.


" Sabar ya je.... Nanti aku kasih obat pereda nyeri dan anti biotik dan jangan lupa nanti kau ganti juga perban perbannya ya nanti ku kasih sekalian.


"Iya kak.


" Je...... Kan sudah nih di kerjai dan katanya sudah tidak sakit lagi kalau gitu lepasin dong kemeja kakak. Ucap bara sambil tersenyum


"Ah... Oh... Maaf kak jelita jadi lupa. Ucap jelita sambil tertunduk malu


" Ya udah nggak apa apa


" Udah nggak apa apa biarkan saja nanti bisa di cuci di rumah.


"Bener nggak apa apa?


" Iya... Nggak apa, oh... Iya umur kamu sekarang berapa? Tanya bara


"Sebentar lagi enam belas kak.


" apa kamu nggak sekolah lagi .


"Nggak..., ucap jelita sambil menunduk.


"Kenapa?

__ADS_1


" Nggak ada biaya kak, ucapnya dengan polos.


"Sekarang kan ada program pemerintah yang berupa beasiswa yang beragam jenis dan kamu bisa masuk dalam kategori itu semua.


" Mana bisa anak seperti saya bisa dapat itu kata temanku susah kalau nggak, ada orang dalam.


"Itu kan kata temanmu,kamu belum pernah mencoba apa lagi kamu anak yang pintar sudah pasti dapat masuk dengan kategori yang pasti.


" Uuuhhh... Nggak usah deh kak biar jelita cari kerja aja untuk memenuhi kebutuhan utama aku, jika aku mengejar beasiswa pintar takut aku nggak bisa membagi waktu, ucap jelita dengan menarik napas dengan agak kasar.


"Tapi je... Masa depan kamu masih panjang kau masih terlalu muda.


" Masa depan jelita sudah di atur dengan yang di atas kak, jelita hanya tinggal menjalaninya saja.


"Mengapa kau berkata begitu, itu namanya putus asa.


Kini jelita terlihat menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi mobil yang berada di sebelah bara sambil berkata.


" Lalu, aku harus apa kak bukankah kakak sudah lihat sekuat apa pun jelita berusaha menjadi baik hasilnya hanya sebuah kehancuran, bukan aku putus asa akan tetapi Tuhan sudah memberi jalan penentuan garis nasib yang je.... harus lewati dan je yakin jika yang je sudah lalui hanyalah sebuah permulaan.


Tiba tiba raut wajah bara berubah menjadi merah karena berusaha menahan air matanya sedangkan jelita sudah berderai air matanya dengan sangat deras.


"Stop.... Jangan lagi kau lanjutkan aku tak mampu mendengarnya lagi.


Jelita hanya menanggapinya dengan senyum getir.


" Kamu tunggu di situ aku beli minum dulu.


Jelita hanya mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2