
BAB 75
"Baiklah mas, terserah mas aku ikut aja.
" Nah gitu dong, sekali kali nurut kan enak.
"Iya deh, kalau gitu aku mandi dulu.
" Oke dek,
Setelah kepergian jelita ke kamar mandi, bram mulai memeriksa semua pekerjaan yang di kirim rey untuknya.
Sedangkan jelita kini sudah selesai mandi lalu keluar berjalan dengan hanya menggunakan handuk dan mendekati bram.
"Mas, mandi dulu biar segar..
" Nanti aja dek sayang, nanggung ini.
Setelah bram berucap dia baru menoleh ke belakang.
"Dek, pakai baju kamu nanti masuk angin.
" Iya mas, bentar lagi aku masih mau di sini.
"Ayo dek, nggak boleh gitu nanti kamu sakit.
" Iya deh mas, tapi gendong...
"Aduh... Sayangnya mas manja banget, sini biar mas gendong.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama bram sudah menggendong kekasihnya menuju depan lemari pakaian tidak lupa bram memilih pakaian yang akan di pakai jelita lalu memakaikannya tetapi sebelumnya bram dengan telaten mengusap lotion di seluruh tubuh jelita tanpa ada yang terlewatkan.
Setelah selesai memakaikan pakaian jelita, bram lalu mengambil handuk dan dengan perlahan dia mengusap rambut jelita hingga kering.
"Nah... Sudah dek, kamu tinggal poles muka kamu saja.
" Oke, makasih banyak mas... Cup..
"Hem...
" Kok cuma berdehem sih mas.
"Lalu mas harus bagaimana, tempel tempel lagi... Atau kamu ketagihan ya..
" Puk.... Puk... Puk... Tiba tiba jelita memukul bram secara bertubi tubi.
" Makanya jangan soudzon.
*****
Sementara di rumah sakit tuan bastian sudah terbangun dengan memanggil nama mira sambil berteriak.
"Mira... Mira... Mira... Ucapnya dengan sedikit keras.
"Pa.. Pa... Sadar pak mira belum kita temukan.
" Bu... Kita di mana di mana mira...?
"Kita sedang di rumah sakit karena bapak tadi pagi habis kecelakaan.
__ADS_1
" Lalu bagaimana dengan mira apa ibu berhasil mengejarnya.
"Sudah pak, nggak usah dulu bahas tentang mira, tunggu kalau bapak sudah sehat baru kita sama lagi mencari mira sampai dapat.
" Tidak bu, aku harus menemukan mira secepat mungkin agar aku bisa dengan cepat meminta maaf kepadanya lalu mempertemukan mira dengan bram kasihan mereka menjadi korban ke egoisan keluargaku.
"Iya Pak,ibu tau bagaimana perasaan bapak tetapi kita tidak boleh membiarkan bapak begini terus, coba bapak pikirkan kalau bapak tidak sehat secepat mungkin kira kira apa kita bisa menemukan mira lalu apakah kita bisa mempertemukan mira dengan bram.
" Baiklah bu, apa yang kau katakan memang ada benarnya.
"Iya istirahatlah pak, ucap Ibu siti sambil mengusap usap kepala tuan bastian sambil tersenyum.
" Bu, Terima kasih ya, mau mendampingi aku dan terus bertahan meski sifat keluargaku seperti itu bahkan aku sendiri sering kali menyakiti kamu yang kadang kala masih sering salah menyebut nama kamu dengan mira.
"Iya Pak nggak apa apa namanya juga manusia pasti ada khilaf nya.
" Tapi bu jarang ada perempuan yang mau bertahan dengan hidup seperti ini.
"Itukan orang lain pa, bukan ibu yang memiliki pemikiran lain dalam membina suatu hubungan ,apa lagi ibu memang dari dulu tau jika bapak tidak akan pernah mudah melupakan mira.
" Iya benar sekali apa yang kau ucapkan itu bu, sebenarnya perasaan benci di hati aku jika melihat dia hanyalah sebuah ungkapan rasa kecewa yang sangat besar kepadanya karena aku menganggap apa yang terjadi selama ini adalah satu kesalahan dan kelakuan dia, sungguh aku tidak pernah berpikir jika ada sesuatu yang besar tumbuh dan beranting banyak dalam rumah tangga kami.
"Sudahlah pak, mari kita lupakan yang lalu, mari kita bangun kedamaian dalam rumah tangga baru hidup rukun bersamanya kembali.
" Maafkan aku bu, karena selama kita bersama kamu banyak tersakiti.
"Tidak pa, saya merasa tidak pernah tersakiti yang penting suamiku dan sahabatku kembali rukun kembali seperti dahulu.
" Mungkinkah mira akan memaafkan aku yang sudah menghancurkan hidupnya hingga berkeping keping tak bersisa.
__ADS_1