
BAB 94
"Jangan seperti itu je.......kamu harus kuat jika kamu tidak menyayangi siapa siapa lagi di dunia ini , maka ingatlah jika di dalam rahim kamu ada satu kehidupan yang mungkin sangat penting bagi kamu, ucap amel dengan memegang ke dua baju jelita.
Mendengar ucapan amel jelita lantas mengusap perutnya yang sudah mulai sedikit membuncit sambil menyeka air matanya.
Sedangkan amel yang ikut merasakan kesedihan yang sama dengan sahabatnya merasa ikut larut dalam suka dan ikut serta mengusap perut jelita dengan lembut.
"Dede... Yang kuat ya... Berikan kekuatan kepada ibu, ucapnya sambil menatap jelita.
Sedangkan jelita pun ikut tersenyum meski linangan air mata masih setia menganak sungai di kelopak matanya.
Setelah melihat keadaan sahabatnya sudah agak baikan amel barulah mengatakan niatnya datang ke kamar sahabatnya itu.
"Je..... Aku ke sini karena di suruh bapak dan ibu, kamu di tunggu di ruang makan oleh mereka, ucap amel sambil tersenyum.
" Baiklah amel..... Aku bersihkan dulu badanku, ucap jelita sambil berlalu.
"Oke, aku tunggu di bawah ya, balas amel.
" Iya, jawab jelita singkat.
Sedangkan di ruang makan sudah ada tuan bastian ibu siti dan juga bara dan amel mereka sudah berkumpul untuk makan siang.
__ADS_1
Tidak lama kemudian jelita datang dengan menggunakan dress yang di belikan bram yang sangat kontras dengan kulit dan tubuh jelita membuat semua yang ada di ruang makan sontak memandangnya termasuk bibi surti yang kebetulan ada di situ sedang menyiapkan makanan.
"Wah... Non jelita cantik banget... Ucap bi surti sambil tersenyum.
" Makasih bi surti, ucapnya.
" Je.... Bagaimana kabar kamu dek, tanya bara sambil menatap jelita tanpa berkedip.
"Baik kak bara, ucapnya singkat.
" Ayo duduk.... Ajak amel sambil menepuk kursi yang ada di sebelahnya.
"Iya, Terima kasih amel.
"Makasih tuan, ibu siti, ucapnya sambil membungkukkan sedikit badannya.
"Sudah dek... .. Ayo duduk jangan terlalu lama berdiri tidak baik untuk wanita hamil, ucap bara.
" Iya kak, sebaiknya tuan dan ibu siti serta semuanya makan duluan biar aku makan di belakan bersama bibi surti, ucap jelita.
"Je..... Ucap mereka berempat .
" Tidak nak, kamu harus makan sama kami di sini kamilah tamu dan kamu adalah pemilik semua apa yang di miliki bram, ucap tuan bastian sambil berdiri mendekati jelita.
__ADS_1
"Tuan tidak boleh berkata begitu saya bukan siapa siapa di sini, ucap jelita sambil menunduk.
" Sudah, jangan kau merasa orang lain di keluarga kami, maafkan aku nak ....jika dulu aku bersikap dingin kepadamu itu adalah kesalahan besar dan aku sudah menyesali itu, kamu mau kan memaafkan kakek dari calon bayi kamu itu, ucap tuan bastian sambil mengusap kepala jelita .
Jelita yang baru pertama kali mendapat perlakuan baik dari tuan bastian , seketika itu mengalirkan air matanya mengingat semua perlakuan tuan bastian di masa lalu sangat berbanding terbalik dengan yang sekarang.
Begitu juga dengan ketiga orang yang sedang duduk di hadapan mereka berdua sangat tidak percaya dengan apa yang di lihat dengan mata kepala mereka mengingat akan bagaimana sikap tuan bastian terhadap jelita apa lagi saat tuan bastian tau jika bara ada rasa terhadap jelita.
"Sungguh.....pemandangan yang sangat indah, andai sejak dulu hadir sebuah keikhlasan di hati bapak tentang semua yang telah terjadi maka mungkin kita semua akan hadir di sini tertawa bersama termasuk kau abang.... Bisik bara di dalam hati sambil menunduk menyeka air matanya.
Tiba tiba ibu siti berdiri dan berjalan mendekat kearah di mana suami dan calon menantunya berdiri lalu seketika itu merangkul ke duanya .
"Terima kasih suamiku, aku tidak pernah menyesal meski hadirnya kedamaian di dalam rumah tangga kita baru datang sekarang, ucapnya sambil menangis.
" Dan Terima kasih nak, semoga kau masih tetap jelita ku yang dulu yang selalu mengerti akan sifat bapak, dan tetap menjadi wanita yang selalu di sanjung ibu. Ucapnya sambil berbalik memeluk jelita.
"Ibu..... Maafkan je...... Jika aku tau mas bram adalah putra ibu aku mungkin tidak akan menerima dia menjadi kekasih ku dan mungkin ke jadian ini tidak akan terjadi, ucap jelita dengan derai air mata.
" Jangan menyesali akan semua yang sudah kita lewati nak, aku tidak masalah dengan semua itu karena apapun yang terjadi di dalam hidup kita tidak lain adalah takdir yang sudah di gariskan oleh yang kuasa.
"Tetapi bu..... Mengapa takdir sekejam itu...?
"Sssttt.... Jangan berkata begitu nak.
__ADS_1
" Tetapi bu.... Mas bram adalah kakakku sendiri, lalu bagaimana dengan anakku ini. . . . ?