
BAB 39
Ada pak, itu pun kalau bapak dan ibu mau menerima karyawan.
"Bapak sama ibu mau kalau ada tapi ya itu tadi ,tidak mampu memberi gaji banyak .
" Nggak apa apa pak. Ucap jelita.
"Tapi tunggu dulu ini... Siapa sih yang lagi nyari kerja? Tanya bapak bapak paruh baya yang tak lain adalah suami ibu ibu pemilik warung itu sendiri.
Jelita yang di tanya oleh bapak bapak tersebut hanya bisa nyengir kuda dengan memperlihatkan giginya yang putih berbaris rapi lalu berkata.
"Aku pak, jawab jelita.
" Ha... Kamu? Ucap bapak itu bersamaan dengan istrinya yang setengah berteriak karena kaget.
"Iya... Pak , bu aku yang lagi nyari kerja.
" Neng mau bekerja sama kami? Tanya pasutri itu lagi yang seakan tak percaya.
"Emangnya muka aku kelihatan lagi bercanda ya bu...? Ucap jelita dengan sedikit tertunduk.
Membuat pasutri tersebut sontak saja saling bersitatap.
" Nggak sih neng cuma kami lihat dari penampilan neng sepertinya neng ini bukan orang susah, jawab keduanya.
Mendengar ucapan pasutri tersebut jelita baru menyadari penampilannya yang memang sangat santai tapi berbalut dengan kain mahal meski pun cuma baju kaos akan tetapi harganya sangat pantastic lalu berbalik menatap pasutri yang sedang menatap dirinya dengan pandangan penuh tanya.
Dengan sedikit berbohong jelita menjawab dengan santai rasa penasaran pasutri yang lagi berjiwa kepo.
__ADS_1
"Masalah pakaian yang aku pakai ya bu? Sebenarnya ini memang pakaian kaum sultan alias orang kaya, tapi ini itu tak lain adalah baju bekas pemberian dari mantan majikan tempat aku bekerja.
" Ooo.. Keduanya lalu ber O ria.
"Kalau pernah bekerja kenapa berhenti neng? Tanya bapak itu
Jelita tampak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena terpaksa harus kembali berbohong,lalu bergumam dalam hati, benar kata orang jangan memulai sesuatu dengan kebohongan karena semuanya akan tertutupi dengan kebohongan demi kebohongan.
" Neng mengapa melamun? Tanya ibu paruh baya yang sedang duduk di depannya.
Pertanyaan ibu tersebut mengangetkan jelita.
"Ha.. Ngg... Nggak kok bu aku nggak lagi ngelamun. Jawab jelita dengan tergagap gagap.
"Kalau begitu coba neng jawab pertanyaan bapak tadi. Ucap bapak bapak itu sambil tersenyum.
"Jadi beneran neng mau kerja sama kami meski hanya di warung kecil ini? Tanya pasutri tersebut.
" Kalau di Terima aku sudah siap dari sekarang bu soalnya aku dari tadi pagi pagi sekali aku sudah berjalan kaki menyusuri jalan mencoba bertanya di warung warung yang di pinggir jalan apa ada yang lagi membutuhkan karyawan namun semuanya tidak lagi butuh .
"Kenapa neng pilih bekerja di warung tidak di kantor kantor atau toko..?
Jelita mala menaggapinya dengan cengengesan.
" He.. He.. He.. Ngimana ya pak aku ini sekolahnya nggak sampai tamat SMP.
"Ooo gitu ya nak , kalau begitu besok aja mulainya datang pagi pagi ya, tapi ingat gaji pertamanya cuma sejuta nanti kita lihat kinerja neng lagi kalau bagus kami janji akan menaikkan menjadi satu juta setengah. Ucap pasutri tersebut.
" Beneran pak aku di Terima bekerja di sini? Tanya jelita yang penuh rasa gembira.
__ADS_1
Sakin gembiranya dirinya sontak saja meraih tangan pasutri tersebut lalu menyalaminya satu persatu lalu mencium tangan dan berakhir dengan jelita memperkenalkan dirinya.
"Terima kasih banyak bapak.
" Terima kasih ibu, o.. Iya sampai lupa nama saya jelita bapak, ibu.
orang terdekatku sering memanggil dengan nama je..
"Ooo... Iya sampai lupa kita berkenalan , ucap pasutri itu.
"Nama bapak Budiman pelanggan di sini sering manggil budi aja, sedangkan ibu namanya Rahimah di panggil dengan nama ima aja. Ucap pak budiman
" Jelita senang berkenalan dengan bapak sama ibu, ya sudah kalau begitu jelita pulang dulu insya allah besok pagi pagi sekali jelita datang.
"Iya neng hati hati.
" Iya Pak , bu Terima kasih banyak.
Setelah itu jelita melangkah pergi tapi baru berapa kali kakinya melangkah tiba tiba dirinya berhenti dan menoleh ke arah pasutri yang sedang memandangnya dengan penuh senyum.
"Kenapa nak, tanya ibu yang terlebih dahulu bertanya.
" Itu bu..he.. he.. he.. Berapa harga air yang aku minum tadi, maaf jadi lupa ucap jelita sambil terkekeh dan menggaruk kepala bagian belakang.
"Ooo... Itu toh.. Neng nggak usah bayar ibu nggak jual air putih di gelas kecuali air putih berkemasan seperti air mineral botolan. Ucap ibu ima sambil tertawa.
" Kalau begitu Terima kasih banyak bu jelita pamit ya.
"Iya hati hati...
__ADS_1