
BAB 23
Ibu sum kembali ke ruang tamu di mana Bram sedang duduk menunggu.
"Maaf tuan Bram jelita lagi tidur di kamar.
" Biarkan bu sum biar aku bangunin nanti, ibu kalau mau kembali ke warung biar aku antar nanti aku balik ke sini jemput jelita.
"Nggak usah tuan Bram biar aku naik ojek aja ke sana.
" Tidak bu jangan biar aku antar aja.
"Nggak usah tuan biar aku pergi naik ojek, tuan Bram istirahat saja
" Tapi kasihan bu sum.
"Nggak apa apa, aku pamit tuan titip jelita.
" Baik bu sum, hati hati di jalan.
Setelah bu sum berlalu pergi Bram dengan langkah yang sangat hati hati masuk menuju kamar di mana jelita sedang tidur.
Bram perlahan mendekat lalu tanpa permisi dirinya mengecup puncak kepala jelita sehingga membuat jelita tiba tiba membuka mata karena kaget dan takut akan tetapi setelah jelita membuka mata lalu melihat siapa yang berdiri di dekatnya dia segera menggosok matanya lalu memejamkan kembali sambil bergumam tapi masih sangat jelas di dengar oleh Bram yang membuat Bram tiba tiba melukis senyum penuh bahagia.
"Hadeeh di mana mana ada bayangan dirinya mungkin gara gara kejadian itu membuat aku terus berhalusinasi dasar horang kaya seenaknya saja merenggut ciuman pertamaku membuat bibirku yang seksi ini tak perawan lagi.
Tiba tiba mata jelita kembali terbuka setelah mendengar suara seseorang yang beberapa hari ini selalu dia dengar.
" Benarkah aku yang pertama menyentuh ini? Ucap Bram sambil mengusap bibir seksi jelita.
Sedangkan jelita hanya diam seribu bahasa sambil menatap wajah Bram yang sudah agak dekat dari wajahnya karena saat ini Bram sedang duduk di dekat kepala jelita sambil menunduk.
"Tuan Bram kok ada di sini? Tanya jelita sambil berusaha untuk bangun akan tetapi Bram segera meng halanginya.
" Istirahat saja yank.
"Nggak aku mau bangun.
" Baiklah biar aku bantu ya.
Jelita hanya menganggukkan kepalanya karena malu dengan ucapannya tadi.
Dengan penuh hati hati Bram menelunsupkan sebelah tangannya di bawah pundak jelita lalu dengan perlahan mengangkat jelita untuk duduk tapi jelita sedikit kaget lalu sedikit menjerit setelah merasakan lengan Bram yang sebelahnya menyusup di bawah pahanya .
"Aaahh... Tuan jangan.
" Diam yank,
"Tapi.. apa yang tuan lakukan
"Aku akan melakukan yang lebih dari m****** b****mu jika kamu masih memanggilku tuan bukannya tadi pagi kau sudah memanggilku dengan mesra.
" Tapi itu kan ada perawat.
__ADS_1
"Terus di sini kenapa berubah jadi tuan lagi.
" Karena itu anu, ucap jelita sambil menunduk.
"apa karena kamu ketahuan terus memikirkan apa yang terjadi kemaren?
Mendengar penuturan Bram jelita tiba tiba mengangkat kepalanya dengan sedikit menganga.
" Kenapa?
"Nggak tuan Bram
" Mas...
"Tapi....
" Tidak pakai tapi, kalau nggak aku akan c***** seluruh tubuhmu saat ini.
"I.. Iya
" Ayo
"I.. Iya... M.. Maasss.
" Nggak jelas ulangi.
"I.. Ya.. Mmm... ***.
"Kok gitu sih malah di cium lagi.
" Makanya yang bener kalau salah lagi aku akan membuat lebih lama.
"Ist... Kebiasaan deh nggak denger apa jantung gue udah kayak gini rasanya, monolog jelita di dalam hati.
" Kenapa diam?
"Iya deh mas, tapi lepasin tangan mas yang di bawah,je geli rasanya . Ucap jelita dengan sedikit mengerutkan dahinya.
" Maafkan mas ya, bukannya berniat kayak gini tapi mas itu mau ngangkat kamu agar lebih dekat di sini biar enak nyandarnya.
"Iya mas Bram tapi kalau sudah lepasin ya paha je geli soalnya.
" Tapi mas bolehkan minta ini. Ucap Bram sambil menunjuk bibir jelita.
"Ih.. Apaan sih mas.
" Ya.. Ya.. Bolehkan kalau nggak ada jawaban mas anggap boleh.
Setelah posisi jelita sudah bersandar di dipan ranjang, Bram lalu menarik tangannya yang sebelahnya lalu dengan sigap meraih sedikit dagu jelita lalu m****** b**** jelita dengan sangat lembut akan tetapi semakin lama semakin dalam dan semakin panas jelita pun entah mengapa semakin terbuai dengan permainan Bram dia kini sedang mengimbangi permainan Bram yang semakin p**** sehingga suara decapan seakan menggema di seluruh kamar yang hanya berukuran tiga kali tiga.
Permainan yang semula sangat lembut semakin lama semakin panas l**** Bram semakin ganas menari kesana kemari di dalam mulut jelita lalu kembali menyusuri telinga dan leher sehingga membuat jelita terus mendesah membuat Bram semakin menggila hingga tanpa dia sadari dirinya sudah semakin ke bawah menyusuri gunung gunung yang sangat membuat Bram hilang kendali hingga dengan rakus dirinya melahap puncak gunung yang sangat menggoda membuat jelita tanpa sadar kembali mendesah dan menggelinjang tak karuan sehingga menimbulkan rasa sakit di bagian bahunya.
"Aaarrhhh.... Sakit... Mas.
__ADS_1
Bram pun dengan terpaksa menghentikan kegiatannya
" Kenapa yank?
"Sakit mas. Ucap jelita sambil memegangi sebelah pundaknya.
" Maaf ya, mas lupa.
"Maasss tolong pasang kembali itunya. Ucap jelita dengan manja.
" Tapi mas masih mau yank.
"Sudah mas aku nggak tahan kalau gituan.
" Kenapa? Ucap Bram sambil mengedipkan matanya.
"Geli mas, ucap jelita polos membuat Bram tertawa lepas.
" Ha... Ha... Ha... Tapi enak kan. Ucap Bram sambil mentoel hidung jelita.
"Mulai deh ngolok je.... Ucap je dengan sedikit memanyungkan bibirnya.
" Jangan di gitukan itu bibir yank takut mas hilap lagi.
"Mas suka gitu deh.
" mas mau nanya ,
"Soal apa mas.
" Soal kamu, kenapa tadi pagi kamu pergi begitu saja, apa kamu tidak mengharapkan kedatangan mas?
"Jelita kembali menunduk.
" Kenapa?
"Maaf mas tapi je hanya orang asing dan bukan siapa siapa mas, jadi aku tak pernah memberanikan diri untuk menaruh sedikit pun harapan yang akan membuat je akan semakin terpuruk.
" Tapi apa kau tahu kalau sejak aku melihat dirimu di malam saat kecelakaan itu aku sudah jatuh cinta sama kamu.
"Secepat itu?
" Iya.
"Apakah mas yakin itu cinta bukan obsesi?
" Aku sangat yakin, dan jika aku hanya terobsesi sama kamu dari segi mana kira kira sedangkan aku melihat dirimu saja baru pertama kali.
"Iya juga sih mas, aku juga orang miskin dan pendidikan SMP saja aku nggak tamat.
" Aku nggak perduli semua itu, yang aku tau aku jatuh cinta sama kamu dan harus menjadi milikku.
***minta like dan komennya sayang ****
__ADS_1