
BAB 75
Setelah keduanya puas saling memenuhi kebutuhan ke duanya pun bangun lalu berniat untuk mandi.
" Dek mandi yuk mas udah gerah banget nih. Ucap bram
"Iya mas, aku juga udah gerah.
" Mandi sama sama yuk, ucap bram lagi.
"Ogah ah mas... Nanti mas mesum lagi.
" Nggak sayang, ayolah.
"Pokoknya nggak, mas aja duluan.
" Kenapa sih dek, nggak percaya amat sama mas.
"Kira kira adakah perempuan yang akan percaya sama kamu mas, kalau keadaan kamu seperti itu.
" Maksud kamu dek.
"Yaelah... Masih nggak sadar saja, mas coba lihat ke bawah ada tongkat yang masih belum terbaring.
Bram yang memang tidak sadar dengan keadaan dirinya menunduk ke bawah, dan dirinya pun sempat kaget atas apa yang di lihatnya.
" Astaga, ternyata dia masih ngeyel minta jatah dek.
"Ha.. ha.. ha... Jelita kembali tertawa.
" Kasihan dia, ngemis ngemis minta barang orang.
"Tampar aja mas biar dia tidur kembali.
" Kasihan lho dek, nanti kepalanya oleng.
"Jadi gimana dong.
__ADS_1
"Kasih gesek aja kayak kartu ATM.
" Di gesek, kartu ATM..... Tanya jelita.
"Gini nah adek..
" Nggak ah...
"Bentar aja dek, dia sudah kebelet pipis.
" Tapi.
"Bentar aja, adek diam.
Setelah jelita diam bram pun melakukan kegiatannya sampai miliknya tak menangis lagi.
" Ah mas.. Aku jadi kotor kan.
"Nggak apa apa tinggal cuci sudah.
"Maaf ya sayang, ucap bram sambil mengecup puncak kepala jelita.
" Iya deh, tapi aku duluan yang mandi ya mas.
"Oke deh, mas juga mau mengecek laporan rey yang di kirim tadi pagi.
" Emang mas bawa alat kerja mas.
"Iya dong sayang, tadi kan mas rencana nginap sini.
" Jadi sekarang mas mau pulang gitu, nggak nginap.
"Nggak tau nanti.
" Ya nasib, baru kekasih tapi udah hamil minta di koloni aja susah banget.
Bram lalu mendekat ke arah jelita lalu menarik tubuh jelita duduk di pangkuannya.
__ADS_1
"Dek nggak boleh ngomong gitu ya, mas itu sayang sama kamu, atau bagaimana kalau kamu kembali tinggal di rumah utama mas.
" Nggak mas, aku di sini aja.
"Tapi mas nggak bisa tinggal di sini karena di sini nggak ada ruangan yang bisa di jadiin ruang kerja untuk mas.
" Kata siapa nggak ada, mas aja tuh nggak mau.
"Baiklah, aku akan pindah ke sini jika itu yang bikin kamu nyaman bersama bayi kamu.
" Aku kan nggak maksa mas, kalau mas memang nggak merasa nyaman di sini nggak usah di paksakan.
"Dek, jangan lagi berkata begitu kamu tau kan mas nggak pernah nginap ke sini karena menghindari apa yang di katakan dokter karena jujur saja jika mas tersentuh kulitmu sedikit saja jiwa lelakiku terus meronta seperti tadi dan akhirnya kamu yang susah.
" Tapi mas, aku ini wanita ada saat saat tertentu timbul rasa ingin di manja, di sayang bahkan ada banyak rasa yang tiba tiba datang.
"Baiklah dek, biarlah aku ikut tinggal di sini, tapi aku minta kamar sebelah ini di renop untuk ruang kerja mas ya, karena jujur mas juga sangat khawatir dengan kamu jika mas jauh, sedangkan kamu di minta pindah ke rumah utama kamu nggak mau.
" Oke, kapan baru mulai merenop kamar sebelah, lalu kamar anak kita nanti di mana.
"Kalau itu sudah aku renop di rumah utama.
" Kok nggak bilang sama aku sih mas.
"Iya, karena keputusan mas tidak boleh di ganggu setelah kita menikah kamu dan tante mira sudah harus tinggal di sana .
" Lha... Kok gitu sih.
"Iya sayang karena mas ingin hanya kamu seorang ratu di rumah utama milikku.
" Tapi aku sudah nyaman di sini.
"Dan akan lebih nyaman lagi si sana.
" Bagaimana kalau sampai aku melahirkan ibu kandung mas tidak di temukan.
"Nggak sayang, itu tak akan mas biarkan karena anak mas tidak boleh lahir di luar nikah.
__ADS_1