
BAB 93
Tanpa terasa hari ini adalah hari ketiga kepergian bram tetapi suasana di rumah duka masih sangat menyedihkan tiada siapa yang bertegur sapa semua larut dalam duka dan penyesalan terbesar mereka apalagi tuan bastian dan ibu siti serta bara, mereka berpikir bahwa sanya mereka tidak egois maka tidak menutup kemungkinan bram masih ada di antara mereka.
Tuan bastian terdengar sesekali melepas napas dengan kasar sambil menyeka air matanya sambil menatap gundukan tanah basah di tengah tengah taman yang indah.
"Maafkan bapak nak, selama ini bapak kira kamu akan bahagia ,cukup dengan memiliki kami, tetapi aku salah ternyata kehadiran perempuan yang mengandung dan melahirkan kamu sungguh sangat berarti di dalam hidup kamu.
" Pak..... Sesuatu yang sudah terlewatkan adalah masa lalu dan itu tidak perlu di sesali tetapi kita harus menganggap itu sebuah kesalahan yang perlu kita perbaiki di masa depan selagi masih ada kesempatan, Ucap Ibu siti.
"Benar bu ,apa yang ibu ucapkan kita harus memperbaiki semuanya agar tidak lagi ada hal yang seperti ini terjadi di kemudian hari.
Lain halnya dengan jelita yang sekarang menempati kamar bram, dirinya di sibukkan dengan membersihkan kamar dan semua milik bram seperti foto dan piagam bahkan semua buku buku dan pakaian bram tanpa mau di bantu oleh siapa pun.
Meski sesekali dirinya menatap foto bram dan dirinya yang di simpan di meja kerja bram, dengan isak tangis yang tiada hentinya tetapi dirinya berusaha tegar karena dirinya masih mengingat jika sedang mengandung anak dari kekasihnya sekaligus kakak laki lakinya.
__ADS_1
"Mas..... Mengapa cerita kita sesingkat ini lalu mengapa sesakit ini..... Kehilangan dirimu bagaikan hanya mimpi buruk bagiku...... Sungguh aku tidak kuat tanpa kamu mas..
" Jelita tau jika di mana ada pertemuan pasti akan ada perpisahan tetapi ini terlalu cepat...... Terlalu sakit..... Terlalu sadis...sungguh bagi aku dan kamu mas... Ini sangat tidak adil.... Ucap jelita sambil berderai air mata.
"Rasanya baru kemaren kita di pertemukan lalu dengan waktu yang sesingkat ini kita di pisahkan yang menyimpan luka begitu membekas di hati ini dan membuat aku serapuh ini sungguh takdir begitu kejam.
Tiba tiba pintu kamar jelita di ketuk dari luar membuyarkan lamunannya.
" Tok...... Tok..... Tok.....
"Siapa...... Tanya jelita.
"Masuk.... Ucapnya lagi.
Setelah itu pintu terdengar terbuka.
__ADS_1
" Kreeet....
"Lagi apa..... Tanya Amel sambil duduk di dekat jelita.
" Nggak.. Lagi ngapa ngapain Amel....
"Itu apa...... Tanya Amel lagi.
" Uuuch.. Terdengar jelita menarik napas kasar sambil membuka sebuah foto dirinya dan bram yang tampak begitu bahagia.
"Cuma foto aku dan mas bram Amel... Ucap jelita sambil menangis.
Amel yang melihat sahabatnya berderai air mata secepat mungkin meraih pundak jelita lalu memeluknya erat.
" Menangislah hari ini sepuasmu lalu lepaskan segalanya besok dan bukalah lembaran baru bersama buah hatimu jangan sampai dukamu hari ini akan mempengaruhi hari esokmu, belajar ikhlaskan yang sudah pergi percayalah allah menitipkan suatu hal yang istimewa untukmu di suatu tempat.
__ADS_1
"Aku juga ingin begitu Amel tetapi entah mengapa begitu berat rasanya.
" Kehilangan mas bram membuat hidupku seakan tak bermakna lagi terlalu sakit dan terlalu sukar untuk aku melupakan segalanya, ucap jelita sambil menangis.