
BAB 21
Kini jelita tinggal sendiri di ruangannya dengan wajah tampak gelisah mengingat ucapan dokter kalau hari ini dia sudah bisa pulang.
"Bagaimana ini tante mira masih belum bangun dari komanya sedangkan aku sudah bisa pulang tidak mungkin aku meninggalkannya sendiri, apakah aku harus tinggal di depan ruangan tante mira atau aku keluar mencari kontrakan, tapi uang di dompetku tinggal berapa saja mana uang makan uang kontrakan kalau aku pakai mencari kontrakan aku tidak bisa membeli makan mana harus kontrol lagi tidak mungkin tuan bram akan kembali membiayai aku karena aku sudah keluar dari rumah sakit.
"apa aku cari kerja aja tapi apa ada orang yang mau mempekerjakan orang yang sedang sakit seperti aku terlebih lagi aku harus menjaga lengan yang sebelah lagi tidak boleh terlalu di gerakkan dulu kata dokter tadi karena takut infeksi. Jelita bermonolog sambil mengemasi pakaian yang di belikan Rey asisten pribadi bram.
Kini jelita sudah meninggalkan kamar tempat di mana dirinya di rawat dan sekarang tengah duduk di sebuah kursi pas di depan kamar rawat tante mira sambil memegangi paper bag yang berisikan pakaiannya.
"Sebaiknya aku masuk ke dalam aku sangat rindu sama tante mira.
" Assalamu alaikum , ucap jelita sambil menarik gagang pintu ruangan tante mira.
Tanpa harus menunggu jawaban jelita segera masuk dan menghampiri tempat tidur tante mira setelah posisinya sudah berada tepat di dekat tante mira jelita segera meraih tangan yang begitu lemah seakan tak berdaya.
"Assalamu alaikum tante ini jelita sudah datang tante, ucap jelita dengan sedikit mengusap punggung tangan tante mira lalu maju sedikit lebih dekat dengan perlahan jelita mengecup puncak kepala sang tante yang masih dengan diam.
Air mata jelita tak terbendung lagi dengan leluasa dirinya meluahkan segala sesak yang menyiksa batinnya cukup lama jelita menangis hingga meninggalkan bekas di matanya yang kini agak bengkak.
Jam besuk pun sudah habis jelita segera mencium kembali puncak kepala dan ke dua pipi tante mira sebelum keluar dari ruangan.
"Hadeeeh..... Kemana aku harus pergi mencari tempat tinggal sekarang. Terdengar suara helaan napas berat yang keluar dengan bebas di bibir seksi itu.
Di dalam kebingungan nya jelita melangkah dengan pelan sambil menenteng sebuah paper bag yang berisikan pakaiannya setelah sampai di depan pintu keluar rumah sakit jelita segera menarik pintu kaca itu secara perlahan lalu dirinya keluar dan matanya terus melirik kiri kanan mencari sesuatu hingga pandangannya mentok di sebuah rumah makan di sana dia akan mencoba menawarkan jasa dirinya untuk membantu mencuci piring lalu dengan imbalan dia akan meminta menumpang tidur saja.
Dengan memantapkan hatinya jelita segera mengayunkan langkahnya mendekati rumah makan yang ada di depan rumah sakit tempatnya di rawat bersama tante mira.
"Assalamu alaikum bu. Ucap jelita dengan penuh hormat dan ramah.
" Wa alaikum salam nak, jawab ibu pemilik warung itu tat kalah ramanya.
"Bisa minta minum bu?
" Bisa bisa nak, mau minum apa?
"Teh hangat bisa bu...?
__ADS_1
" Bisa nak, tunggu bentar ya ibu ambilkan.
"Iya bu Terima kasih banyak.
" Sama sama nak.
Tak butuh waktu lama ibu pemilik warung itu pun datang dengan segelas teh hangat dan satu piring kue yang isinya bermacam macam.
"Ini silahkan di minum nak
" Terima kasih bu maaf ngerepotin ibu.
"Sama sama nak, nggak ngerepotin kok nak.
" Ibu nggak punya pelayang bu?
"Nggak nak.
" Kenapa?
" Oh gitu ya bu ?
"Oh iya , namanya siapa nak?
" Jelita bu.
"Asal mana?
" Desa B
"Lumayan jauh ya nak.
" Iya bu.
"Lalu kamu ke sini sama siapa?
" Sama tante bu, sebenarnya kami ke sini berniat membawa tante berobat di rumah sakit bu, tapi allah berkehendak lain di jalan mobil yang kami tumpangi mengalami kecelakaan yang menyebabkan semua penumpang cendera parah termasuk tante supir dan aku tapi meski begitu kami sangat beruntung di samping tak ada korban jiwa orang kaya raya di kota inilah yang menabrak lalu dirinya bertanggung jawab seratus persen dari segala hal. Cerita jelita panjang lebar.
__ADS_1
"Kasihan kamu nak., bagaimana dengan tante kamu?
" Tante masih belum sadar bu, menurut informasi yang aku dengar dari salah satu perawat tante sedang mengalami koma dan entah kapan akan sadar.
"Lalu kamu...?
" Entahlah bu, soalnya aku juga nggak mau jauh dari tante apalagi meninggalkan dirinya cuma dia yang aku punya di dunia ini. Tutur jelita dengan mata berkaca kaca.
"apa kamu tak punya keluarga atau kerabat di kota ini nak?
" Sama sekali tidak bu.
"Sabar ya nak allah tidaklah pernah memberi cobaan kepada hambanya di luar kemampuannya, dan jika kita mampu melewati semua ujiannya maka derajat kita akan senantiasa di tinggikan. Ucap si ibu pemilik warung makan tersebut.
" Terima kasih bu semoga jelita akan selalu kuat dalam segala hal apapun itu.
"Amin nak, bagaimana kalau nak jelita tinggal di rumah ibu untuk sementara biar nak jelita bisa setiap jam besuk menengok tantenya.
" Tapi bu jelita tak mau jadi beban untuk orang lain.
"Insya allah nak jelita tidak akan menjadi beban buat ibu.
" Kalau begitu izinkan jelita membantu ibu di warung ini.
"Tapi nak kamu baru saja keluar dari rumah sakit luka lukamu masih belum bisa di buat bekerja apalagi sebelah lenganmu takut akan terjadi infeksi.
" Insya allah tidak bu, kalau hanya sekedar membantu ibu mencuci piring.
"Baiklah nak kalau itu mau kamu asal jangan di paksakan.
" Terima kasih bu. Ucap jelita sambil tersenyum bahagia
"Sama sama, oya ibu biasa di panggil ibu sum sama orang orang sekitar sini dan di kawasan rumah meski nama lengkap ku SUMIATI tapi entah kenapa orang cuma suka manggil dengan nama itu , tapi tak apalah itu juga bagus jadi kamu juga bisa manggil ibu dengan sebutan itu. Ucap ibu sum sambil tersenyum.
" Baik bu sum. Balas jelita dengan tersenyum.
"Mantaap.
__ADS_1