TAKDIR CINTA JELITA

TAKDIR CINTA JELITA
mengantar jelita


__ADS_3

BAB 3


Percakapan jelita dan bara pun terhenti karena bara lebih memilih pergi sebentar meninggalkan jelita dengan alasan hendak membeli minum namun sebenarnya bara hanya sudah tak mampu menahan air matanya setelah mengingat bahkan langsung mendengar kisah penderitaan wanita yang sangat di kasihinya.


Tak butuh waktu lama bara sudah kembali berjalan mendekati mobilnya tapi kali ini dia tak sendiri karena ada seorang wanita paruh baya yang sedang bersamanya yang tak lain adalah ibunya sendiri.


Ibu siti kini mendekati jelita dengan senyum yang sangat ramah.


"Bagaimana je.. apa sudah agak baikan?


" Alhamdulillah ibu siti.


Kelihatan jelita bergerak hendak turun namun segera ibu siti mencegahnya.


"Kamu nggak usah turun , biar kami antar kamu pulang.


" Ngak apa apa bu siti biar jelita jalan kaki aja.


"Nggak nggak kamu tetap duduk di situ tidak usah banyak bergerak.


" Kalau begitu biarlah ibu siti duduk di sini biar aku yang di belakang.


"Nggak usah di situ aja ibu nggak apa apa duduk di belakang.


" Tapi....


"Nggak ada tapi tapi ambil air ini lalu kau minum, ucap bara yang sengaja menghentikan perdebatan jelita dan ibunya


Jelita pun sudah terdiam dan dengan cepat dia meraih air mineral yang di pegang bara sambil mengucapkan Terima kasih.

__ADS_1


" Terima kasih kak bara


"Iya sama sama, ucap bara sambil tersenyum.


Sedangkan ibu siti sudah duduk dengan tenang di kursi pas di belakang bara dengan sesekali memperhatikan wajah putranya di kaca spion yang berada di depan bara.


Tak butuh waktu lama mobil bara pun berhenti di depan sebuah rumah yang sudah tak layak lagi di sebut rumah yang lebih tepatnya hanya bisa di sebut sebagai gubuk yang sudah reok.


Jelita pun pamit turun kepada bara dan ibu siti, jelita juga tak lupa berterima kasih kepada kedua orang yang sudah sangat berpengaruh di dalam kehidupannya betapa tidak kedua anak dan ibu itu sudah menjadi dewa dan dewi penolong yang dari dulu hingga sekarang selalu datang di waktu yang sangat tepat.


"Terima kasih ibu siti, kak bara atas semua pertolongan yang di berikan jelita sejak dulu hingga sekarang, maaf karena jelita selalu merepotkan ibu siti dan kak bara.


" Jangan minta maaf begitu je.. Itu adalah kewajiban kita semua untuk saling menolong antar sesama. Ucap Ibu siti sambil mengangkat sebelah tangannya mengusap kepala jelita dengan lembut sehingga membuat jelita kembali mengucapkan kata Terima kasih dengan lirih namun masih bisa di dengar oleh kedua orang yang duduk di antaranya karena dadanya terasa sangat sesak dan air matanya sudah mengalir.


"Sudah jangan menangis lagi nanti cantiknya hilang, ucap Ibu siti sedikit menggoda.


"Sama sama.


Setelah jelita sudah tampak berdiri di emperan rumahnya bara dengan pelan melajukan mobilnya.


" Bar..... apa kamu menyukai jelita?


Bara yang kaget mendapat pertanyaan seperti itu sentak saja menoleh menatap ibunya.


"Emang kelihatan banget ya bu ya?


" Ya bagi ibu sih banget.


"Emang dari mananya?

__ADS_1


" Dari cara kamu menatap jelita.


"Ah... Masa sih?


" Ya..... Kalau suka ya suka aja bar nggak usah bersandiwara di depan ibu karena peling seorang ibu itu tidak pernah salah. Ucap ibu siti yang melempeng begitu saja.


Membuat bara tertawa lepas sambil mencubit pipi ibu siti dengan gemes.


"Ibuku ini memang sudah kayak para normal.


" Iih..... Apaan sih bar nanti kalau di lihat pria tua yang di rumah bisa setengah mati mengoceh karena cemburu.


"Haa.... Haa... Ha... Malah bara seneng ibu kalau bapak menekuk wajahnya itu tandanya bapak sangat mencintai ibu.


Tapi tiba tiba wajah ibu siti berubah setelah mendengar ucapan bara sambil berkata.


" Tidak bara bapakmu sampai sekarang belum bisa mencintai ibu dengan sepenuh hati.


"Sudahlah bu jangan selalu mengingat masa lalu.


" Aku hanyalah bayangan saja bara dia masih belum mampu melupakan sahabat sekalian tante dari jelita.


"Ibu jangan menerka nerka karena itu masih belum pasti.


" Kalau saja bapakmu sudah tak mencintai mira lagi sudah pasti dia sudah tak membenci keluarganya dan membiarkan mira kembali di kampung ini kasihan jelita dan mira menjadi korban perbedaan kasta dan harta nenekmu dan bahkan mira telah menjadi korban fitnah dari keluarga kita termasuk bapakmu.


"Bukan itu aja bu tapi ada yang menjadi korban dari keegoisan mereka yaitu kak bram kasihan dia sampai umur sedewasa ini namun masih belum tau siapa ibu kandungnya.


"apa kita coba lagi ya membujuk bapak untuk mempekerjakan jelita di rumah kita biar dia nggak selalu di hina sama orang lain.

__ADS_1


__ADS_2