
BAB 92
Kini jenasah sudah tiba di rumah duka dan kabar kepergian bram sudah menyebar ke suruh negara bahkan keluar negara, di rumah duka sudah banyak wartawan dan rekan rekan bisnis bram bukan hanya itu mulai para petinggi perusahaan sampai karyawan karyawan ke bawah seperti office boy semuanya pada datang untuk memberi penghormatan terakhir kepada boss tempat mereka bekerja.
Begitu pula dengan para asisten rumah tangga bram semuanya tampak terpukul dengan kepergian tuannya yang meski jarang menegur mereka tetapi tak sekalipun bram berkata kasar kepada mereka apalagi bibi surti yang sudah begitu dekat dengan bram dirinya tampak duduk di depan meja dapur bersimpuh sambil terseduh sedih menangisi kepergian tuannya.
Tanpa terasa hari sudah pagi dan semuanya sudah di persiapkan .
Sekitar jam sembilang pagi suara tangis di kediaman bram menggema mengantar kepergian bram tampak ibu siti amel dan jelita sudah jatuh bersimpuh di depan gundukan tanah liat yang masih basah.
"Selamat jalan abang surga tempatmu... Ucap amel dengan deraian air mata sedangkan ibu siti terus berucap dengan ayat ayat suci alkur'an sambil sesekali mengusap air matanya.
__ADS_1
Lain lagi dengan jelita yang terus menggali tanah di depannya sambil menangis seakan dirinya tidak rela jika bram di kuburkan.
Melihat itu rey lalu mendekat lalu memeluk erat tubuh jelita yang sudah di anggap sebagai adiknya sambil berbisik.
"Ikhlaskan kepergiannya dek...... Biarkan dia bahagia di alam barunya.
Tetapi jelita masih tetap sama tanpa suara hanya suara isak tangis yang terus terdengar.
"Ayo kita masuk ke dalam.... Ucap rey mengajak jelita untuk masuk karena tinggal mereka dan keluarga bastian sedangkan semua tamu sudah tak ada lagi.
" Biarkan aku di sini kak rey dan tolong tinggalkan aku sendiri.
__ADS_1
Tiba tiba bara datang berjongkok di sampingnya sambil mengusap kepala jelita sehingga dengan perlahan rey melepaskan pelukannya lalu mundur ke belakang di mana Arya sedang berdiri, rey sengaja memberi ruang kepada bara.
"Je...... Belajar ikhlas adalah bagian dari pembentukan jati diri kita... Ucap bara.
" Tapi kak bara jalanku sudah runtuh tiada lagi tujuan hidup yang aku inginkan, ucap jelita sambil mengusap batu nisan bram.
"Jangan berkata begitu je... Ingat janji kita kepada abang... Ucap bara.
"apa kak bara tau, jika sepanjang malamku aku hanya bermimpi namaku dan nama mas bram akan tertulis di sebuah surat undangan . ....... Tetapi mengapa kini nama mas bram kini tertulis di batu nisan sudah begitu, dirinya tak membawa serta diriku sehingga namaku tidak bisa tertulis di batu nisan ini, ucap jelita sambil terisak.
Mendengar ucapan jelita hati bara pun kembali teriris sembilu.
__ADS_1
"Begitu besar cinta kamu kepada abang je.... Sehingga tak menyisakan ruang kosong sedikit pun untukku yang sudah lama mencintaimu, sungguh besarnya cinta yang di miliki seseorang tidak bisa di ukur seberapa lama kita saling mengenal,seharusnya namaku yang tertulis di batu nisan ini agar aku tidak merasakan terluka secara perlahan lahan mendengar tangisan kamu je...untuk kak bara, ucap bara di dalam hati.