TAKDIR CINTA JELITA

TAKDIR CINTA JELITA
penyesalan tuan bastian


__ADS_3

BAB 91


Setelah pingsan hampir satu jam, kini jelita sudah siuman kembali dan kini dirinya sedang duduk bersandar di sofa di mana dirinya tadi baring.


Keadaannya begitu sangat menyedihkan tak ada lagi jejak jejak senyum yang sering menghiasi bibirnya yang manis, wajah cantiknya sudah berantakan, jejak jejak air mata membekas dan mengering di seluruh wajah tatapannya hanya lurus ke depan tampak kosong.


Tuan bastian yang sedang duduk di atas tempat tidur di mana dirinya di rawat sesekali menatap jelita dengan penuh simpatik, dia diam diam mengutuk dirinya karena atas keegoisannya lah tragedi hari ini terjadi dan memakan korban yaitu putra sulungnya, sungguh andai dirinya bisa memutar waktu dirinya tidak akan mau memutuskan silaturahmi antara ketiganya tetapi semuanya sudah terlambat kini bram sudah kembali ke pangkuan penciptanya tanpa pernah sekalipun merasakan pelukan ibu kandungnya bahkan yang lebih menyedihkan lagi bram jatuh kepelukan seorang gadis belia yang di anggap kekasihnya yang ternyata adalah adiknya sendiri yang kini sedang mengandung benihnya, tuhaaaan...... Ampuni atas segala dosa dosaku.... Bisik tuan bastian di dalam hatinya sambil menarik napasnya lalu melepasnya dengan kasar dan kemudian dirinya mengusap kasar wajahnya yang sudah di banjiri dengan air mata penyesalan.


Setelah tuan bastian merasa puas bermain dengan pikirannya, dirinya lalu memberanikan diri untuk berbicara dengan jelita mengenai keinginannya membawa jenasah bram kembali ke kampung.


"Bagaimana keadaanmu sekarang nak... Ucap tuan bastian memecahkan kesunyian di antara semuanya yang sedang diam tanpa suara.


Jelita yang tidak pernah sama sekali di tegur oleh tuan bastian tidak menjawab karena dirinya tidak merasa jika dirinyalah yang diajak ngobrol.


Sedangkan tuan bastian pun sadar jika dirinya sama sekali tidak pernah menegur jelita sehingga dirinya pun kembali mengulangi ucapannya dengan sedikit menambah kalimatnya tadi.

__ADS_1


" Jelita. ..... Bagaimana nak.. Perasaanmu sekarang.


Jelita yang mendengar namanya di sebut oleh tuan bastian dengan perlahan mengangkat wajahnya lalu dengan memberanikan diri menatap tuan bastian.


Sedangkan tuan bastian yang merasa di tatap sedikit mengukir senyum meski sangat terlihat jika senyum yang saat ini terlukis di bibirnya hanyalah sebuah senyum yang berbalut dengan duka lara.


Meski jelita tak membalas pertanyaanya namun tuan bastian kembali menyambung pertanyaannya.


"Begini nak, bapak berniat membawa jenasah bram kembali di mana dirinya di lahirkan.


Dengan wajah di tundukkan jelita lalu memberanikan diri berbicara.


" Maaf tuan bastian... Mungkin di sini aku bukan siapa siapa di keluarga tuan , tetapi jika bisa aku meminta biarkan jenasah mas bram di makamkan di halaman belakang di rumah utama miliknya, di sana di dekat taman ada sebuah tempat favorit mas bram jika sedang bersantai, ucap jelita dengan nada serak karena berucap sambil menangis.


"Baiklah jika itu keinginanmu bapak akan ikut aja, timpal tuan bastian.

__ADS_1


" Terima kasih tuan, ucap jelita.


"Sama sama nak, sebaiknya kamu jangan memanggil aku dengan sebutan tuan tetapi panggil aku dengan sebutan bapak, ucap tuan bastian.


Tetapi jelita tak berucap apa pun.


Tak lama setelah itu seorang perawat datang menyampaikan jika jenasah bram sudah siap di antar ke rumah duka.


"Selamat malam Pak ibu.... Jenasah sudah siap di berangkatkan.


" Baiklah suster Terima kasih... Ucap dokter Arya.


"Ayo sekarang kita berangkat... Ajak rey sambil mendekat ke arah tempat duduk jelita.


Kini rey sudah berjalan sambil menggandeng tangan jelita sedangkan amel mendorong kursi roda tuan bastian dan bara menggandeng ibu siti yang juga sangat terpukul dengan kepergian bram.

__ADS_1


__ADS_2