
Besok paginya Steve terbangun dari tidurnya yang semalam, badannya terasa lumayan membaik dan suhu panas badannya pun menurun. Dia hendak bangun tapi dia merasakan kakinya seperti ada yang sedang bersandar. Tanpa menggerakkan kakinya dia mendudukkan tubuhnya dan kaget melihat bahwa kepala Jessy yang bersandar di kakinya walaupun tidak sepenuhnya. Steve menatap Jessy yang sedang tidur dan tanpa membangunkannya dia mengangkat dengan hati-hati kepala Jessy agar kakinya bisa dia turunkan dari sofa.
Setelah kakinya turun menginjak lantai rumah, Steve memiringkan kepala melihat Jessy yang masih terlelap tidur.
Dia merawatku semalaman sampai tertidur disini, kasihan juga .. Dalam hati Steve.
Sementara Steve menatap Jessy, Jessy yang sudah menggeliat karena merasakan kram pada tangannya. Dia membuka matanya perlahan, dan masih menyesuaikan dengan cahaya yang ternyata sudah pagi. Dia mengucek matanya sebentar dan melihat kaki Steve sudah dibawah. Sontak Jessy bangun dan beranjak berdiri.
" Steve kau sudah bangun, beristirahatlah lagi aku akan membuatkan bubur untukmu ". Ucapnya lalu pergi ke arah dapur.
Steve hanya melihat Jessy yang berjalan ke arah dapur lalu menyandarkan badannya di sofa. Dia memijat pangkal hidung dan tak lama Jessy datang membawakan segelas susu untuknya.
" Minumlah susu ini dulu Steve, sementara aku masih memasak bubur untukmu ". Ujarnya meletakkan gelas susu di meja, lalu meninggalkan Steve sendirian.
Sambil menunggu Jessy yang memasak bubur untuknya, Steve memainkan ponselnya lalu dia teringat dengan Kimberly yang sedang berada di luar negeri. Dia menelepon nomor telepon Kimberly tapi tidak ada sambungan. Sudah 1 bulan ini Kimberly pergi keluar negeri untuk karirnya sebagai Model tapi dalam seminggu ini ponselnya tidak bisa dihubungi.
Kenapa dalam seminggu ini ponselnya tidak bisa dihubungi, apakah dia sibuk dengan modelnya.. Pikir Steve, lalu melemparkan ponsel ke sembarang tempat.
Jessy yang selesai memasak bubur untuk Steve segera mengantarkan semangkuk kepada Steve.
" Maaf menunggu lama, makanlah segera tapi hati-hati karena masih panas ".
Steve hanya menganggukan kepala, lalu menyendok buburnya sebelum masuk ke dalam mulutnya di meniupnya sebentar lalu memakannya. Jessy menemani Steve makan, lalu dia menyiapkan obat serta vitamin untuk Steve. Sambil makan Steve hanya memperhatikan Jessy yang sedang memisahkan beberapa pil obat.
" Setelah makan, segera minum obatmu Steve, aku sudah memisahkannya untuk diminum selanjutnya ". Ucapnya menyerahkan obat di depan Steve.
" Jessy ". Memanggil nama Jessy lembut.
" Ya ". Sahutnya menoleh kepada Steve.
" Terima kasih sudah merawatku ". Ujarnya yang juga menatap Jessy.
__ADS_1
" Kau suamiku Steve,, sudah tugasku merawatmu walaupun pernikahan kita hanya sebatas perjanjian ". tuturnya lalu beranjak pergi.
Steve terdiam mendengar jawaban Jessy, dia tidak bisa berkata-kata apalagi karena memang benar adanya pernikahan mereka hanya sebatas perjanjian, Walaupun Steve tahu bahwa Jessy mencintainya.
Sementara di dalam kamar Jessy yang merenungkan perkataan Steve yang berterima kasih kepadanya, walaupun satu sisi hatinya senang tapi disisi lain dia tidak mau berharap lebih akan ucapan terima kasih Steve.
" Kau harus tahu diri Jessy, dia mengucapkan itu bukan karena perasaannya berubah kepadamu tapi karena kau sudah merawatnya ". Ucapnya pada diri sendiri di hadapan cermin kamarnya.
Lalu Jessy menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan. Hari ini Jessy tidak masuk kerja atas perintah Sekretaris Juan untuk merawat Steve dirumah. Dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya agar terlihat segar.
***
Jessy yang hanya diam di dalam kamar melihat jam di dinding kamarnya sudah pukul 12 siang. Dia beranjak pergi ke dapur untuk membuat makan siang untuknya dan juga Steve. Sesuai anjuran dokter Carlos bahwa Steve harus makan makanan yang bergizi. Tak lupa dia mengupas buah apel dan melon untuk dikonsumsi oleh Steve. Setelah semuanya sudah siap, dia ingin memanggil Steve yang berada di dalam kamar tapi kaki tertahan di tangga bawah.
Aku kan tidak boleh naik ke atas, tapi bagaimana caranya untuk memanggil Steve untuk makan. Pikirnya yang melihat keatas lalu mondar mandir di dekat tangga.
Sementara Jessy sedang berpikir, Steve yang merasa perutnya lapar, ingin menuju dapur untuk makan siang. Dia membuka pintu kamarnya dan berjalan keluar. Sebelum turun dia melihat Jessy dibawah sedang mondar mandir.
" Kau kenapa Jessy !". Tegurnya yang lalu berjalan turun
" Ketuk saja pintu kamarku jika ada sesuatu, aku mengizinkannya tapi tidak masuk ke dalam kamar. ". Potongnya menjawab Jessy lalu berjalan ke meja makan.
Jessy menganggukan kepala tanda mengerti lalu mengikuti Steve dari belakang. Lalu Jessy menyiapkan makanan untuk Steve, semuanya lengkap.
" Aku masak sesuai anjuran dokter untuk memperbaiki daya tahan tubuhmu karena kau kurang makan makanan yang bergizi, jadi makanlah ini ". Jessy menyodorkan piring Steve yang berisi sayuran serta ikan salmon.
" Terima kasih ". Ucapnya lalu memakannya.
Kenapa semua yang dia masak terasa Lezat, aku tidak begitu suka dengan bubur dan apalagi sayuran seperti ini tapi semuanya aku makan karena rasanya yang lezat sekali. Dalam pikiran Steve sambil memasukan makanan ke dalam mulut berapa kali.
Jessy juga memulai makan siangnya, mereka berdua sama-sama diam karena ini kali kedua mereka berdua duduk bersama untuk makan. Jessy melihat Steve yang makan dengan sangat lahap tanpa terasa isi dalam piringnya hampir habis.
__ADS_1
" Apa kau mau lagi Steve ? Aku masak banyak khusus untukmu ". Jessy menawarkan.
" Boleh, dan berikan banyak sayurannya ". Jawabnya karena selain enak perutnya juga terasa lapar.
Jessy tersenyum kecil ketika membalikkan badannya, dia senang melihat Steve yang sangat lahap menikmati sajiannya. Dia memasukkan banyak sayur sesuai perintah Steve lalu memberikan piringnya kembali.
Ketika Jessy hendak duduk, pintu bell rumah berbunyi lalu Jessy berjalan ke arah pintu, sebelum membuka pintu Jessy melihat dari Jendela samping memastikan siapa yang membunyikan bell pintu rumah. Lau Jessy membuka pintu rumah.
" Permisi, ada paket untuk Tuan Steve ". Ucap laki-laki tersebut ramah.
" Iya, terima kasih sudah mengantarkannya ".
" Tolonh tandatangan di kertas ini nona ". Tunjuk orang itu diatas selembar kertas.
Setelah selesai tanda tangan, pengantar paket pun langsung pergi. Jessy mengamati amplop yang dipegangnya bolak balik lalu masuk.
" Siapa ". Tanya Steve yang sudah selesai makan.
" Ini ada paket untukmu ". Jessy menyerahkan amplop cokelat kepada Steve.
Steve mengambil amplop tersebut, dia merasa heran karena tiba-tiba ada paket untuknya, lalu dia menaiki tangga menuju kamarnya.
" Steve, jangan lupa minum obatmu ". Ucap Jessy yang memperhatikan Steve naik tangga.
Steve hanya melihat Jessy sekilas lalu membalikkan badannya lagi " Iyaa .. dasar cerewet sekali ". Gumamnya pelan.
Steve yang sudah di dalam kamar, duduk di atas ranjangnya lalu membuka amplop berwarna cokelat tersebut. Ada sebuah surat kecil disana untuknya.
Tuan Steve,
ini bukti bahwa Nona Kimberly berselingkuh dengan pria lain.
__ADS_1
Setelah membaca surat itu, Steve dengan buru-buru memgeluarkan semua isi dalam amplop. Steve terkejut melihat semua foto-foto tentang perselingkuhan Kimberly. Dari sorot matanya terlihat jelas bahwa Steve sangat marah sekali, dia meremas semua foto-foto tersebut.
" Berani sekali kau Kimberly ". Ucapnya penuh kemarahan.