Terlambat Mencintaimu

Terlambat Mencintaimu
Anak Bibi Ana


__ADS_3

Steve pun mengikuti ajakan Jessy untuk meninggalkan tempat itu, tapi sebelum mereka benar-benar pergi. Steve membalikkan badan dan berbicara lagi kepada Corry.


"Aku tidak akan memaafkan apa yang telah kau lakukan kepada istri dan anakku. Tunggu saja." Ancam Steve lalu pergi.


Corry terdiam membisu karena ketakutan. Ini merupakan kesialan yang parah baginya. Dia berurusan dengan seorang wanita yang merupakan istri dari Steve Anderson.


"Tamatlah aku." Ucapnya dalam hati.


***


Dalam mobil, Steve masih terlihat kesal akan kejadian yang menerpa istri dan anaknya. Kalau saja Paman James, supir pribadi Jessy tidak menghubunginya, tentu dirinya tidak akan tahu apa yang terjadi.


Jessy tahu kalau suaminya itu masih dalam keadaan emosi walaupun tidak ditunjukkan kepadanya. Jessy memegang tangan Steve untuk menenangkan perasaan laki-laki itu.


"Sayang. Sudah tidak usah memikirkan yang tadi. Aku dan Nico juga tidak apa-apa." Ucapnya pelan dengan nada lembut.


Steve menghela nafasnya dengan berat kemudian menatap istrinya yang duduk disampingnya." Kau benaran tidak apa ? Aku tidak mau terjadi sesuatu kepada kalian berdua. Maafkan aku, Jessy."


"Untuk apa, kau meminta maaf ? Kau tidak ada salah apa-apa, Steve.


"Aku kurang menjagamu dan anak kita. Kalau saja aku lebih ekstra menjagamu mungkin hal ini tidak akan terjadi." Jelasnya dengan nada bersalah.


"Kau sudah menjadi suami dan papa yang sangat baik, Sayang. Jangan mempersalahkan dirimu karena ini bukan karena mu. Aku bisa menanggani sendiri masalah ini, Steve. Aku tidak mau menyelesaikan apa yang terjadi dengan membawa dirimu, aku bisa dengan caraku sendiri."


"Aku lakukan ini karena aku tidak mau kau dan anak kita mengalami sesuatu yang buruk."


"Percayalah padaku, istrimu ini juga bisa menyelesaikan suatu masalah. Jadi kau tenang saja. Oke." Jessy mencium pipi Steve agar suaminya itu tidak kesal dan merasa bersalah.

__ADS_1


"Baik. Aku mempercayaimu, Sayang. Tapi karena hari ini aku sudab tahu apa yang terjadi, aku tidak bisa tinggal diam. Aku akan memberi pelajaran pada wanita itu."


"Apa yang akan kau lakukan padanya ? Aku mohon jangan menyakiti dirinya, Steve." Jessy menggenggam tangan Steve erat.


"Aku tidak menyakiti wanita kalau tidak berlebihan. Yang jelas, aku tidak melukai dirinya. Setidaknya pelajaran yang ku berikan padanya bisa membuatnya menderita." Ucapnya dengan nada tertawa.


"Tidak lucu, Steve." Jessy membuang tangan suaminya itu dengan kasar karena melihat Steve yang tertawa.


***


Tiba dirumah, Nico yang masih tidur lelap digendong oleh Steve dan langsung membawanya naik ke kamarnya. Jessy menghampiri Paman James yang sedang mengeluarkan beberapa barang yaitu mainan Nico.


"Paman. Apa Paman yang memberitahu Steve ?." Tanya Jessy dengan nada pelan.


"Maafkan saya, Nona. Saya terpaksa menghubungi Tuan Steve dan memberitahunya. Maafkan saya, Nona." Tunduk Paman James.


"Tidak apa-apa, Paman. Aku tahu niat Paman baik kepadaku tapi aku bisa menyelesaikan masalah tadi sendiri."


"Ya sudah. Paman bawakan barang-barangnya masuk ke dalam ya. Dan terima kasih, karena Paman menjaga Nico tadi selama disana." Jessy tersenyum lalu mendahului Paman James masuk ke dalam rumah.


Jessy melihat Steve yang sudah turun ke bawah. " Nico tidur nyenyak."


"Iya. Dia tidur nyenyak sekali." Jawab Steve.


"Aku lapar ingin makan. Kau mau makan bersamaku ?." Tanya Jessy yang mengajak Steve makan bersama.


"Aku harus kembali ke kantor, Sayang. Juan sudah menghubungiku karena ada klien yang harus kami temui." Steve menolak halus ajakan istrinya itu.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu. Tidak apa-apa, aku mengerti." Jessy mengantar Steve sampai di depan rumahnya.


"Aku akan pulang lebih awal. Setelah makan, kau beristirahatlah."


"Kenapa memangnya ?."


Lalu Steve mendekatkan bibirnya di daun telinga Jessy dan membisikkan sesuatu kepadanya." Karena pulang nanti, aku ingin memakanmu."


Jessy menepuk lengan Steve setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Steve tadi. "Pergilah sana. Juan pasti sudah menunggumu."


Steve tersenyum dan kemudian mencium pipi Jessy sebelum ia pergi meninggalkan rumah. Jessy melambaikan tangannya kemudian masuk kembali ke dalam rumah.


Jessy menuju ruang makan untuk mengisi perutnya yang sudah berbunyi, langkahnya terhenti saat melihat seorang wanita asing sedang duduk dan makan.


Wanita yang asyik makan itu, tidak menyadari jika sang pemilik rumah sudah berada di dekatnya. Jessy juga tidak ingin menganggu wanita itu, tapi karena tidak memperhatikan apa-apa disekitarnya, kaki Jessy terhantuk di salah satu kaki kursi.


Sontak wanita itu pun kaget, begitu juga dengan Jessy. Wanita itu sontak berdiri dan mendekati Jessy yang memegangi kakinya sehabis terhantuk kursi.


"Kakimu tidak apa-apa, Nona ?." Tanya Wanita itu yang kelihatannya lebih muda sedikit dari Jessy.


"Terima kasih. Aku tidak apa-apa. Maaf sudah mengganggu waktu makan mu."


"Tidak sama sekali. Oh ya, perkenalkan aku Elisa anak Bibi Ana. Kau siapa ? Apa kau anak Bibi Lusy?." Elisa menyodorkan tangannya untuk berkenalan dengan Jessy.


Jessy menyeringai lalu membalas menjabat tangan Elisa." Aku Jessy."


"Senang bertemu denganmu, Nona Jessy. Ayo kita makan bersama, dari tadi aku makan sendirian disini."

__ADS_1


"Iya. Aku juga lapar, kita makan sama-sama." Jessy menarik salah satu kursi di meja makan lalu mengambil sendiri makanan yang sudah tersedia di meja itu.


Elisa masih tidak menyadari jika wanita yang bersamanya saat ini adalah majikan ibunya. Jessy sendiri juga diam dan tersenyum saja karena Elisa berpikir bahwa dirinya adalah anak Bibi Lusy.


__ADS_2