
Keesokan paginya, Steve terlebih dulu bangun tapi ia bukannya bersiap untuk berangkat kerja namun ia memandangi wajah istrinya itu yang masih tidur nyenyak.
"Kau pasti kelelahan, beristirahatlah sayang." Ucapnya sambil tangannya mengelus pipi Jessy.
Steve pun beranjak dari tempat tidur dan berjalan memasuki kamar mandi membersihkan dirinya. Dan saat bersamaan, Jessy terlihat meregangkan tubuhnya dan buka kedua matanya.
Ia merasa tubuhnya pegal dan sebenarnya ia pun masih mengantuk. Tapi kewajibannya sebagai istri dan ibu harus ia kerjakan, untuk itu ia bangun walaupun dirinya menolak.
"Ternyata Steve sudah bangun." Tuturnya yang sambil menguap. Jessy beranjak dari tempat tidur, lalu berjalan mendekati lemari pakaian kerja milik Steve. Ia mengambil baju setelan kerja lengkap untuk Steve.
Ia menaruh baju kerja Steve diatas sofa, lalu merapikan tempat tidur mereka yang sedikit berhambur. Sementara Jessy merapikan tempat tidur, Steve pun keluar dari kamar mandi.
"Kenapa kau bangun cepat sekali ?." Tanya Steve sambil mengeringkan rambutnya yang basah.
"Memangnya kenapa kalau aku sudah bangun ?." Jessy bukannya menjawab tetapi menanyakan kembali kepada Steve.
Steve tersenyum lalu memeluk tubuh istrinya dengan erat." Aku tahu kau pasti kelelahan, Nico tidak bisa tidur semalaman dan kau menemaninya sampai dia tidur pulas, kau seharusnya beristirahat juga, Sayang."
"Iya. Nico rewel sekali semalam. Dia tidak mau aku tinggal dan maunya ada aku di dekatnya. Bahkan semalam ia tidak mau melepaskan tanganku, Steve. Aku juga sebenarnya masih mengantuk tapi ... ".
"Tapi apa ? Aku tidak apa-apa Jessy. Ada Bibi Lusy dan Bibi Ana juga disini, kau tenang saja. Aku tidak mau kau jadi sakit karena kurang beristirahat." Pungkas Steve yang menjelaskan kepada Jessy.
"Cepat pakai bajumu, aku akan ke bawah menyiapkan sarapanmu." Imbuh Jessy yang hendak pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan Steve.
Namun langkahnya terhentikan karena tangan Steve menahannya untuk pergi." Tidak usah. Kau bersiaplah sekarang, aku ingin mengajakmu sarapan diluar." Perintahnya sambil mendorong tubuh Jessy masuk ke dalam kamar mandi.
Jessy tidak bisa menolak perintah suaminya itu, ia pun melakukannya sesuai dengan ucapan Steve.
__ADS_1
Sedangkan Steve memakai pakaian kerjanya dan setelah selesai ia turun kebawah untuk menemui Bibi Lusy. Tapi sebelum turun, ia masuk ke kamar Nico yang letaknya bersebelahan dengan kamar mereka.
Steve menghampiri tempat tidur anaknya itu, ia tersenyum saat matanya melihat putranya tidur begitu pulas dan nyenyak.
Setelah itu Steve turun ke bawah menemui pembantu rumahnya itu.
"Bi, aku dan Jessy akan keluar sebentar. Nico masih tidur diatas."
"Baik Tuan." Jawab Bibi Lusy singkat.
***
Tampak sepasang suami istri menikmati makanan mereka pagi ini dengan canda tawa yang penuh kehangatan. Keduanya begitu bahagia karena memiliki waktu berdua saja tanpa adanya sang anak.
"Apa tidak terlambat datang ke kantor, Steve ?." Tanya Jessy setelah memasukkan makanannya kedalam mulut.
"Aku pemimpinnya, untuk apa merasa takut datang ke perusahaan sendiri." Jawabnya santai.
"Hahahaha." Steve tertawa mendengar ucapan Jessy kepadanya.
Jessy mengerutkan dahinya karena heran melihat Steve tertawa dihadapannya. " Kenapa tertawa ?."
"Tidak, tidak apa-apa. Kau ini." Steve mencubit pipi Jessy dengan gemas.
"Sakit, Steve." Gerutu Jessy yang memukul tangan Steve.
"Jangan terlalu serius, Sayang. Aku melakukan ini hanya ingin berdua denganmu. Aku memang sibuk, tapi aku akan menyisihkan waktuku untukmu dan juga anak kita. Oh ya, aku ada sesuatu untukmu." Steve mengeluar sesuatu dari balik jasnya lalu memberikannya kepada Jessy.
__ADS_1
"Apa ini ?." Jessy melihat sebuah amplop putih yang diberikan kepadanya.
"Bukalah. Kau akan tahu apa isinya." Perintah Steve.
Jessy membuka amplop putih sambil melirik kearah Steve yang juga melihatnya. Jessy mengeluarkan isi dalam amplop tersebut dan membukanya.
Dengan cepat Jessy membaca isi dari kertas putih tersebut lalu tersenyum dan melihat lagi kearah Steve.
"Apa ini maksudnya ? Kau memberikan sebagian besar saham perusahaan yang ada di Perth kepadaku ?."
"Iya. Kau suka ?."
"Ta-tapi. Steve. Bukankah ini berlebihan ? Apa kau sudah memberitahukan hal ini kepada Papa Brian ?."
"Untuk itulah aku memberikannya kepadamu, Papa sudah setuju. Dan apa kau tahu, sebagiannya lagi diberikan kepada siapa ?."
Jessy jadi binggung lagi, sebagian diberikan kepada siapa lagi. Jessy menggelengkan kepalanya karena memang tidak tahu.
"Lihatlah lembaran berikutnya."
Jessy melakukan apa yang disuruh Steve dan mulai membaca lembaran berikutnya. Ia kaget saat mengetahui siapa yang menerima sebagiannya lagi.
"Nico !." Serunya kaget kepada Steve.
"Iya. Sebagian diberikan kepada anak kita, Nico. Itu artinya kau dan putra kita pemilik sah perusahaan di Perth." Tutur Steve dengan tersenyum.
"Tapi, Steve ..."
__ADS_1
"Tidak ada bantahan, Jessy. Ini adalah hadiah untuk kalian berdua dariku dan juga Papa. Jangan khawatir tentang perkembangan atau apa pun perusahaan disana, aku sudah menepatkan orang-orang terbaik disana dan kau hanya mengontrolnya saja. Aku yakin kau bisa melakukannya, karena aku tahu potensimu dalam bekerja, Sayang."
"Terima kasih. Terima kasih, Steve. Aku bangga memiliki suami sepertimu, kau begitu percaya kepadaku untuk menanggani sebuah perusahaan. Kelak Nico sudah dewasa, ia akan menjadi sepertimu."