
Pergumulan yang terjadi semalam benar-benar membuat Jessy kewalahan. Tenaga Steve, sang suami membuatnya tidak bisa tidur. Alhasil, pagi ini mereka berdua bangun kesiangan.
Tepat waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 pagi, kalau saja tidak diganggu oleh Nico, keduanya bakal tidur menerus. Kedatangan Nico dikamar orangtua, berhasil membangunkan sepasang suami istri tersebut.
Jessy merasakan seluruh badannya remuk dan lelah, dan sungguh sialnya lagi pinggangnya terasa sakit. Keadaannya saat ini membuatnya bermalas-malasan saja ditempat tidur.
"Sayang. Badanku terasa remuk sekali. Pinggang ku juga sakit." Keluhnya sambil meregangkan otot-ototnya.
"Mau aku pijatkan ?." Tawar Steve yang kemudian membenarkan tubuhnya.
"Iya. Seharusnya kau bertanggung jawab atas ini. Badan ku sakit semua akibat ulahmu semalaman." Gerutu Jessy.
Steve tersenyum kecil lalu mendudukkan tubuhnya kemudian tangannya mulai memijat-mijat badan istrinya itu. "Apa perlu aku melakukan pijat plus-plus ?."
Plak. Jessy memukul tangan suaminya itu setelah mendengar ucapan Steve tadi. "Jangan macam-macam. Lakukan yang ini saja, tidak boleh lebih." Jawabnya kesal.
Steve hanya tertawa saja setelah mendapat jawaban dari istrinya itu. Baginya menggoda Jessy sangat menyenangkan, terlebih jika Jessy sudah terlihat kesal.
***
__ADS_1
Selesai mandi keduanya pun turun ke bawah menemui putranya yang sedang asyik menonton acara kesukaannya.
"Halo anak tampannya Papa dan Mama." Steve menggendong Nico lalu mencium seluruh wajah anaknya itu dengan gemas. Namun Nico yang merasa risih karena dihujami ciuman diwajahnya berusaha mendorong wajah Papanya agar menjauh darinya.
"Gak mau." Teriak Nico yang berusaha menjauhkan wajah Papanya dengan tangannya.
"Kenapa tidak mau, hah ?." Bukannya menjauh Steve semakin gemas dan mencium terus wajah putranya itu sehingga karena hal itu Nico menangis.
"Sayang. Kau membuat Nico menangis." Tegur Jesst yang kemudian mengambil ahli Nico.
"Habisnya anak kita ini sangat menggemaskan, Sayang." Steve mengacak rambut Nico lagi lalu mendudukkan tubuhnya diatas sofa empuk berwarna hitam. "Bibi. Tolong potongkan beberapa buah dan bawakan kesini." Perintahnya lagi kepada Bibi Lusy yang sedang merapikan mainan Nico.
"Tidak terasa, Nico tumbuh begitu cepat. Melihatnya seperti ini aku tidak rela ia cepat besar, Sayang." Ucap Jessy sambil memperhatikan Nico.
"Kalau begitu bagaimana kalau kita membuat adiknya lagi ?." Goda Steve dengan senyum usilnya.
"Bicaramu selalu saja mengarah ke ranjang. Dasar kau ini." Pungkas Jessy.
Steve tertawa kecil. "Nico sudah beranjak besar dan ia membutuhkan teman mainnya. Apa kau tidak kasihan kepadanya ?."
__ADS_1
"Itu sih mau mu. Aku tahu apa yang ada di pikiranmu itu." Jessy memicingkan kedua matanya melihat Steve yang sedang menggodanya itu.
"Kalau kau tahu, ayo kita ke kamar sekarang. Sayang."
"Tidak mau. Kau saja yang pergi kesana." Tolak Jessy lalu menjauhkan tubuhnya dari suaminya itu.
Melihat reaksi Jessy, Steve merasa senang karena sudah berhasil menggoda istrinya itu. Terbukti wajah Jessy terlihat malu dan rona wajahnya memerah. Walaupun sudah berumah tangga beberapa tahun, tetapi istrinya itu selalu saja malu kepadanya.
Tak lama kemudian Bibi Lusy datang ke ruang keluarga sambil membawa piring yang berisi potongn beberapa jenis buah. Dan menaruhnya diatas meja tepat dihadapan Steve.
"Terima kasih, Bibi."
"Sama-sama, Tuan." Jawab Bibi Lusy dengan tersenyum.
"Oh ya, Bi. Apa Bibi setuju kalau Nico punya adik lagi ?." Tanya Steve tiba-tiba kepada Bibi Lusy.
"Tentu saja, Tuan. Bibi senang kalau Nico punya adik agar ia tidak sendiri."
"Kau dengar, Sayang. Bibi saja setuju kalau Nico punya adik lagi, apalagi aku." Serunya kepada Jessy.
__ADS_1
Jessy mendengus. "Kalau begitu kau saja yang hamil." Jawab Kesal Jessy kepada Steve yang sudah tertawa puas melihat kekesalan Jessy.