
Jessy POV
Aku cukup terkejut setelah apa yang ku dengar barusan, laki-laki yang sudah lama tidak aku temui akhirnya bertemu di sebuah rumah sakit yang dimana biasanya aku tiap bulan rajin mengontrol kandunganku ditempat ini.
Hari ini setelah menunggu antrian, aku mendengar suara laki-laki yang memanggil. Dengan mengikuti asal suara, aku pun menoleh dan melihat seseorang dengan tersenyum berjalan menghampiriku.
" Dokter Leon !." Seru dalam pikiranku, setelah memperhatikan tubuh tegap laki-laki tersebut sambil berjalan mendekati ku.
Setelah sekian lama kami bertemu di rumah sakit ini, dan lebih mengejutkan lagi ternyata ia sudah bertunangan dengan Dokter Milly, Dokter Kandunganku.
Pertemuan kami memang singkat namun dengan bertemunya kami, aku sangat senang akhirnya Leon akan menikah dengan wanita yang aku juga mengenalinya beberapa bulan ini.
"Bagaimana bisa, Dokter Milly bertunangan dengan Leon ? Hmm .. maksud ku Dokter Leon."
"Kami di jodohkan, Nona." Jawab Dokter Milly dengan tersenyum.
"Benarkah ? Aku juga dulu dijodohkan, Dokter. Tapi aku senang akhirnya Leon akan menikah, terlebih dengan Dokter Milly." Ucapnya turut bahagia.
" Terima Kasih, Nona. Aku juga tidak menyangka jika kami akan dijodohkan, karena saat itu Leon sedang mencintai seseorang dan sulit melupakan wanita itu. Tapi semakin lama, perlahan Leon mulai membuka hatinya untukku. Aku senang dengan perubahan itu, karena sejak pertama bertemu dengan Leon, aku menyukainya. " Tutur Dokter Milly sambil mengarahkanku menuju tempat tidur untuk melakukan usg.
Mendengar cerita Dokter Milly, membuatku merasa tidak enak karena aku sangat yakin wanita yang dimaksudkan oleh Dokter Milly adalah aku, walaupun Dokter Milly tidak mengetahuinya.
"Syukurlah Dok, pada akhirnya Leon membuka hatinya untuk Dokter. Aku turut bahagia mendengarnya. Dan aku doakan hubungan kalian bahagia selamanya."
Author POV
__ADS_1
Setelah selesai mengontrol kandungannya, Jessy langsung pulang menuju perusahaan yang dipimpin oleh suaminya.
Senyum diwajahnya tidak pudar sejak keluar dari rumah sakit tadi. Selama ini ia dan Steve memang belum ingin mengetahui jenis kelamin anaknya tersebut, tapi seiring berjalannya waktu Jessy penasaran terhadap jenis kelamin anak yang sedang dikandungnya.
Flashback On
"Dokter, aku ingin tahu anak yang ada didalam perutku ini berjenis kelamin apa ?." Tanyanya kepada Dokter Milly yang masih memeriksa kandungannya.
"Sebentar, Nona. " Ucap Dokter Milly yang memperhatikan layar monitor didekatnya. " Ah. Dia laki-laki, Nona. " Sambungnya lagi setelah memastikan bahwa anak yang dikandung Jessy adalah laki-laki.
" *Laki-laki ? Benarkah, Dok ?". Serunya tidak percaya.
"Benar, Nona. Selamat anak Nona berjenis kelamin laki-laki." Jawab Dokter Milly dengan tersenyum hangat kepada pasien kesayangannya itu*.
Flashback Off
"Papamu pasti senang saat tahu bahwa kau adalah laki-laki, Nak. Sejujurnya tidak masalah bagi Papa maupun Mama itu laki-laki atau pun perempuan, yang penting anak Papa dan Mama sehat dan kuat." Ucapnya kepada anaknya yang masih di dalam perutnya itu.
Secara bersamaan sebuah tendangan kecil diperutnya mengenai tangannya yang masih diatas perutnya itu. Tendangan kecil dari bayi laki-laki yang dikandungnya itu.
"Kau menendang tangan Mama, Nak ? Barusan kau mendengarkan ucapan Mama. Luarbiasa." Serunya antusias untuk pertama kalinya ia merasakan perutnya ditendang dari dalam.
Sementara asyik dengan perutnya, mobil yang ditumpanginya akhirnya tiba di perusahaan Coltarus. Ia pun keluar dari mobil dengan hati-hati, sedangkan Paman James supirnya itu menunggu di lobby perusahaan.
Semua karyawan baik laki-laki maupun perempuan, menyapa Jessy yang pada saat itu berjalan masuk kedalam perusahaan. Teman sekerja mereka dulu sekarang adalah istri dari pimpinan mereka, banyak yang bilang bahwa Jessy adalah wanita yang beruntung tapi ada juga yang menilainya secara negatif.
__ADS_1
Dengan perutnya yang sedikit membesar itu dan mengenakan baju dress motif kotak-kotak warna biru langit, membuatnya terlihat anggun. Jessy sendiri mereka tidak nyaman dilihat-lihat oleh teman-temannya dulu dengan menyapanya sambil menundukkan kepala.
Walaupun istri seorang pemimpin perusahaan besar tidak membuat dirinya sombong, ia tetap dengan rendah hati menyapa balik teman-temannya itu. Sesampainya di lift, ia berpapasan dengan Lanny yang saat itu baru saja keluar dari lift.
"Jessy." Serunya kaget yang melihat Jessy berdiri di depan Lift.
"Lanny." Jessy pun memeluk tubuh sahabatnya itu, sudah 1 bulan ini mereka tidak bertemu karena kesibukan masing-masing. Terlebih sekarang Lanny sudah dipindahkan menjadi Sekretaris Steve berdampingan dengan Sekretaris Juan.
"Kau sedang apa disini ?." Lanny melepaskan pelukannya.
"Aku ingin menemui Steve. Apa dia sedang sibuk saat ini ?."
"Tuan Steve ada rapat dengan beberapa manager saat ini. Baiklah aku akan mengantarmu sampai keruangan, Jessy." Tawar Lanny dengan tersenyum lalu mempersilahkan sahabatnya itu berjalan terlebih dahulu.
Setibanya diruangan Steve, Lanny langsung menyuruh Jessy untuk segera duduk di sofa, mengingat saat ini Jessy sedang hamil. Sambil menunggu Steve selesai rapat, Lanny pun menemani Jessy agar wanita yang sedang hamil itu tidak merasa bosan duduk sendirian.
"Bagaimana kandunganmu, Jessy ? Apa calon keponakanku sehat ?." Lanny mengelus perut buncit Jessy dengan lembut.
"Dia sehat, bahkan sangat sehat. Oh, kau harus tahu mengenai ini. Anak yang ada didalam perutku ini adalah laki-laki." Ucapnya senang sambil menunjuk perutnya.
"Kau serius ? Wah, aku turut bahagia, Jessy. Aku doakan agar dia menjadi laki-laki yang luarbiasa, pintar dan hebat seperti papanya dan baik serta rendah hati seperti mamanya."
"Terima kasih, Lanny. Kau segeralah menyusul, apa kau tidak bosan dengan hidup sendirian ?." Ledek Jessy tiba-tiba sehingga membuat Lanny membulatkan matanya dengan sempurna.
"Ah, kau ini sungguh merusak suasana saja." Gerutunya kesal kepada Jessy
__ADS_1
Jessy tertawa puas melihat kekesalan sahabatnya itu, meledek Lanny memang menjadi hobbynya jika kedua sudah bertemu, terlebih selama 1 bulan ini mereka tidak bertemu membuatnya rindu bercanda dengan Lanny.