
"Hati-hati Paman. Dan sampaikan juga salam ku untuk Bibi Eva dan Wilson serta istrinya. Kapan-kapan kita akan mengatur waktu untuk acara makan malam, Paman. Sejak kembalinya Paman dari Chicago, kita belum ada waktu untuk berkumpul."
"Ah. Itu Paman setuju. Nanti Paman kabari dirimu.Oke."
Mereka sama-sama keluar dari ruang VIP itu, Steve dan Juan mengantarkan Paman Peter keluar hingga saat berjalan melewati ruangan umum, mereka melihat Jessy yang sedang duduk memainkan ponselnya sembari menunggu Steve selesai meeting.
"Bukankah itu Jessy, Steve ?." Paman Peter menunjuk kearah tempat duduk Jessy.
"Itu memang dia, Paman." Jawab Steve membenarkan.
"Paman kesana dulu untuk menyapanya sebentar." Paman Peter pun berjalan menghampiri menantu sahabatnya itu yang diikuti oleh Steve dan Juan dari belakang.
"Jessy." Tegur Paman Peter yang begitu sampai dan menyapanya.
Jessy menoleh ke asal suara dan mendapati seorang pria paruh baya seusia Papa nya dan juga Papa Brian berdiri dihadapannya dan terlihat juga dua orang pria yang masih muda yang tak lain adalah suaminya dan juga Sekretaris Juan.
"Paman Peter." Seru Jessy terkejut dan langsung berdiri. "Paman apa kabar ? Sudah lama kita tidak bertemu." Lanjutnya yang memeluk tubuh pria paruh baya itu sebentar.
__ADS_1
"Kabar Paman sangat baik begitu juga dengan yang lainnya. Bagaimana keadaanmu ?."
"Seperti yang Paman lihat, aku sangat baik. Bagaimana Paman bisa ada disini ? Bukan kah Paman dan keluarga Paman berada di Chicago ?."
"Sudah satu bulan ini Paman kembali kesini untuk mengembangkan bisnis Paman yang sempat tertunda. Paman akan bekerja sama dengan Steve." Jelas Paman Peter kepada Jessy.
"Berarti klien yang dimaksudkan tadi adalah Paman Peter, jika aku tahu lebih baik aku menyusul kalian didalam." Ucapnya dengan tersenyum.
"Senang bertemu denganmu lagi, Nak. Paman pamit pergi lebih dulu karena ada urusan lain lagi yang harus Paman kerjakan. Sampai bertemu lagi, Jessy." Paman Peter sekali lagi memeluk Jessy sebelum ia pergi meninggalkan Restorant The Ternary tersebut.
"Makan siang sendiri lagi. Kalau tahu begitu, lebih baik wanita itu ikut saja." Batinnya dalam hati.
***
Sepasang suami istri itu pun selesai menikmati makan siang mereka, dilanjut dengan obrolan keduanya.
"Penampilanmu hari ini berbeda ?." Tutur Steve yang sedari tadi memperhatikan pakaian yang dikenakan oleh istrinya itu.
__ADS_1
"Berbeda bagaimana ? Tidak cocok ya, aku berpenampilan seperti ini ?". Jessy melihat-lihat baju serta celana yang di pakainya.
Steve tersenyum." Bukan, bukan itu maksud ku. Penampilan mu hari ini berbeda dan aku sangat menyukainya." Puji Steve.
"Benarkah ? Jadi kalau aku mengenakan dress atau semacamnya, kau tidak menyukainya ?." Jessy menyipitkan kedua matanya menatap penuh selidik kepada suaminya itu.
Steve merasa gemas dengan tingkah istrinya kemudian mencubit salah satu pipi Jessy dengan gemas."Istri ku ini kenapa begitu menggemaskan."
"Aw. Sakit." Jessy menyingkirkan tangan Steve dan mengelus pipinya itu pura-pura merasa sakit tapi sebenarnya tidak.
"Apapun yang kau pakai, aku sangat menyukainya. Aku hanya tidak pernah melihat mu yang bergaya seperti ini kalau keluar kerumah. Semua yang baju yang melekat di tubuhmu sangat cocok denganmu, Sayang."
Kemudian Steve mendekatkan bibirnya di telinga Jessy membisikkan sesuatu kepada wanita yang dicintainya itu. "Aku akan lebih suka lagi jika setiap malam, istriku ini memakai Lingerie di hadapanku."
Jessy membulatkan kedua matanya mendengar apa yang dibisikkan Steve kepadanya. Ia menoleh dan melihat senyum nakal diwajah Steve.
"Aku tidak mau." Jawabnya ketus.
__ADS_1