Terlambat Mencintaimu

Terlambat Mencintaimu
Kau Adalah Wanitaku


__ADS_3

7 bulan kemudian ...


Pagi yang cerah, sinar matahari yang berpadu dengan sempurna menyinari serta menyapa seluruh alam dengan hangat dan tenang. Pantulan cahaya yang dipancarkan oleh sinar matahari masuk ke dalam kamar Jessy dan Steve, menyilaukan wajah wanita yang tengah hamil tersebut.


Perutnya yang semakin besar itu tampak sangat menonjol dengan jelas, Jessy mengusap wajahnya dengan pelan lalu mengucek kedua matanya agar tidak rabun setelah tidur semalaman. Wajah cantiknya yang natural pun menghiasinya, sebuah senyuman manis ia lontarkan tatkala dirinya melihat wajah suaminya yang masih tidur lelap.


Ingin rasanya ia membangunkan Steve namun tidak tega mengingat semalam ia melihat suaminya itu bekerja sampai larut malam. Ia pun membiarkan Steve tidur, lalu meninggalkan tempat tidur dengan pelan-pelan agar Steve tidak bangun.


Tujuan utamanya ialah kamar mandi, Jessy sudah tidak tahan lagi ingin buang air kecil, apalagi kondisinya yang hamil sekarang membuatnya sering bolak balik ke kamar mandi.


Setelah selesai, Jessy membasuh wajahnya agar terlihat segar dan kemudian menggosok giginya tersebut. Lalu setelah itu, ia pun keluar dari kamar mandi, mengambil piyama tidurnya lalu berjalan keluar meninggalkan kamarnya.


Ia melihat bibi Lusy dan bibi Ana sedang sibuk di dapur, tapi langkah kakinya membawanya ke arah teras rumah. Wajahnya berseri saat melihat cuaca yang cerah serta banyaknya burung berterbangan hinggap di pohon depan rumahnya.

__ADS_1


Suasana pagi ini membuatnya nyaman dan damai, dan karena lelah berdiri, Jessy pun mendudukan tubuhnya yang sudah berat itu di sebuah kursi di halaman rumahnya sambil melihat ke arah jalanan yang sudah beberapa orang lalui untuk melakukan aktifitas olahraga.


"Kau sedang apa disini ?." Tiba-tiba Steve datang menghampirinya yang sedang duduk di kursi halaman depan.


"Kau mengagetkanku saja. Kenapa kau sudah bangun ?."


"Aku melihatmu tidak ada disampingku, makanya aku mencarimu, aku lihat pintu depan terbuka makanya aku kemari ternyata ada kau disini. Katakan, sedang apa kau disini."


"Apa aku tidak boleh duduk disini ? Kau ini selalu saja bertanya yang tidak penting." Gerutu Jessy sambil mencebikan bibirnya.


Jessy memperhatikan cara bicara suaminya itu, menurutnya itu terlalu konyol dan berlebihan sekali. Jessy tertawa pecah setelah mendengar ucapan Steve.


"Kau berpikiran sepertimu, sungguh konyol sekali, Steve. Itu terserah mereka melirikku atau tidak karena mereka punya mata. Tapi tidak denganku, Steve. " Jawabnya sambil tertawa lagi.

__ADS_1


"Aku tidak suka kalau ada pria lain melirikmu, Jessy." Serunya tegas lalu mendengus kesal.


" Kenapa memangnya ?." Jessy memiringkan kepalanya untuk melihat lebih jelas wajah suaminya itu.


" Karena kau adalah wanitaku. Jadi tidak ada seorang pun pria yang boleh melirikmu." Sekali lagi ucapnya tegas.


" Lalu, kau melarang papa Leo, papa Brian dan kak Alex melirikku, begitu !." Tanya Jessy dengan menaikkan salah satu alisnya.


Steve terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan dari istrinya tersebut, ia hanya tidak mau laki-laki lain melirik istrinya itu tapi kenapa berimbas kepada ketiga pria yang di hormatinya itu.


Sempat diam beberapa menit kemudian ia pun menjawab seadanya saja. " Kalau mereka, itu pengecualian. Pokoknya aku tidak mau kalau kau sampai dilirik oleh pria lain manapun.


Jessy pun tertawa kecil. " Baiklah kalau begitu, jika aku tidak boleh dilihat oleh pria manapun, kau juga harus begitu. Kau tidak boleh dilihat oleh wanita manapun. " Balas Jessy tidak mau kalah.

__ADS_1


"Kenapa aku juga begitu ?." Tanya Steve sedikit tidak terima.


" Karena kau adalah laki-laki ku. Aku tidak mau wanita mana pun yang melirikmu. " Jawab Jessy sambil tersenyum lalu beranjak berdiri meninggalkan suaminya itu.


__ADS_2