
Pintu kamar terbuka sedikit lebar dan ia mendapati Jessy sedang baring diatas tempat tidur. Merasa tidak enak mengganggu sahabatnya itu sedang beristirahat tapi ia tetap melangkahkan kakinya ke tempat tidur setelah menutup pintu kamar kembali.
"Jessy." Panggilnya pelan yang sudah berdiri disamping tempat tidur. "Jessy ini aku Lanny." Terlihat Lanny duduk diatas tempat tidur samping Jessy membaringkan tubuhnya.
Jessy membuka kedua matanya perlahan lalu mengalihkan pandangannya kesamping melihat siapa yang membangunkannya. Lanny tersenyum hangat kepadanya dan Jessy pun juga memberikan senyuman kecil kepada Lanny.
"Apa kabar ? Maafkan aku, karena aku baru menjengukmu , Jessy." Ucapnya dengan nada pelan.
Jessy tidak menjawab pertanyaan yang Lanny lontarkan, dia hanya diam dan menatap ke sembarang tempat. Lanny merasa kasihan sekali kepada sahabatnya itu, biasanya Jessy selalu menjawab apa yang ditanyakan kepadanya. Wanita yang dulunya ramah dan mudah tersenyum itu kini sudah tidak seperti Jessy yang Lanny kenal dulu.
Lanny menyentuh tangan Jessy dengan lembut bermaksud agar wanita yang dihadapannya itu mau diajak bicara. "Jessy. Apa kau marah kepadaku karena aku baru datang menemui ?." Tanya Lanny lagi yang berusaha mengajak Jessy bicara.
Masih tidak ada jawaban dari Jessy, dia masih setia menatap kearah lain dalam diamnya. Lanny dibuat tidak mengerti dan binggung harus bagaimana lagi agar Jessy mau bicara dengannya.
__ADS_1
"Baiklah. Kalau kau tidak mau bicara denganku, tidak apa. Aku menyayangimu Jessy. Aku pamit pulang." Tuturnya sembari memeluk Jessy erat lalu beranjak dari duduknya untuk keluar dari kamar Jessy. Namun baru saja Lanny ingin melangkah menuju pintu kamar, tiba-tiba terdengar suara Jessy yang menghentikan langkahnya.
"Jangan pergi, Lanny." Terdengar suara Jessy yang sedikit parau. Lanny pun menarik kedua sudut bibirnya saat mendengar suara dari mulut Jessy dan Lanny pun sigap membalikan badannya menghadap Jessy yang masih ditempat tidur.
***
Terlihat Lanny sedang menuruni tangga, entah berapa lama ia mengobrol dengan Jessy sehingga dirinya lupa waktu bahkan sekarang sudah pukul 8 malam. Sampainya dibawah, Lanny bertemu dengan orangtua Jessy yang masih duduk diruang keluarga sambil menonton acara di televisi.
"Paman, Bibi. Lanny pamit pulang dulu ya." Ucapnya berpamitan kepada orangtua sahabatnya itu.
"Tidak usah Bibi. Sudah ada yang menjemput Lanny di depan."
"Baiklah. Kau hati-hati dijalan ya. Mampirlah kesini lagi Lanny."
__ADS_1
"Iya Bibi. Nanti Lanny main-main lagi kesini. Sampai ketemu lagi Paman, Bibi." Lanny memeluk Leo dan Olive secara bergantian lalu melangkahkan kakinya menuju pintu depan.
Bagaimana caranya aku pulang. Sekarang sudah jam 8 malam pasti tidak ada taksi di sekitar sini. Aku juga tidak mau merepotkan keluarga Jessy. Gumamnya sambil berjalan keluar pagar rumah Jessy.
Lanny memperhatikan arloji yang berada dipergelangan tangan kirinya, dan menoleh ke kanan maupun ke kiri sekiranya ada taksi yang lewat tapi kebanyakan yang lalu lalang adalah mobil pribadi semua.
Lanny pun memutuskan berjalan kaki sampai kedepan dekat jalan raya tapi tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara klakson yang nyaring dari arah belakangnya. Lanny membalikan tubuhnya dan melihat siapa yang mengklasonnya tapi lampu mobil yang menyala membuat matanya silau dan tidak bisa melihat dengan siapa orang yang keluar dari dalam mobil.
Lanny memundurkan langkah kakinya karena merasa takut siapa yang datang menghampirinya itu, dia sudah meremaskan tangannya di tas yang ditentengnya itu.
"Nona Lanny." Ucap seseorang kepadanya dan suaranya pun tidak asing di pendengaran telinga Lanny.
Laki-laki itu berjalan mendekati Lanny yang seperti orang ketakutan, namun ketakutan Lanny seketika sirna saat tahu siapa orang tersebut.
__ADS_1
"Tuan Juan." Balasnya terkejut dan membelalakan kedua matanya.