
Steve menarik salah satu sudut bibirnya saat melihat Jessy sudah tidur pulas. Tak lama pikirannya kembali kepada nomor asing yang mengiriminya pesan tadi.
Siapa si pengirim pesan tadi ? Aku akan menyuruh Juan untuk melacak nomor itu besok. Ucapnya dalam pikirnya.
Ia pun meraih ponselnya diatas nakas samping tempat tidur, mengirim pesan kepada Sekretaris Juan untuk melacak nomor asing yang masuk ke ponselnya.
Setelah selesai Steve tidur disamping Jessy dan tak lupa ia menarik selimut putih bersih untuk menutup dirinya dan juga Jessy.
***
Keesokan paginya karena kelelahan Jessy masih nyenyak tidur tanpa sadar jika suaminya menatapnya sedari tadi. Menatap wajahnya yang kian kemari semakin cantik saja.
Dan akhirnya Steve bergegas menuju kamar mandi untuk membasuh dirinya karena akan segera berangkat kerja. Sedangkan Jessy tak lama kemudian mendengar suara percikan air, dan membuka kedua matanya.
Ia mencari-cari Steve disampingnya tidak ada, dan arah pandangannya pun kepada kamar mandi yang pintunya tertutup rapat.
"Kenapa Steve mandi sepagi ini ? Memangnya jam berapa sekarang ?." Ucapnya sambil menguap dan melihat kearah jam dinding diatas lemari pakaian mereka.
Seketika matanya membulat penuh karena ia bangun kesiangan. Tidak biasanya Jessy bangun terlambat, ia menggerutu sendiri karena sekarang sudah pukul 8 pagi.
__ADS_1
"Aku kesiangan. Pantasan saja Steve sudah mandi. Ah, karena lelah seharian kemarin aku jadi bangun kesiangan." Ia beranjak berdiri dan melangkahkan kakinya menuju lemari pakaian, bermaksud mencari pakaian kerja untuk Steve.
Sementara mencari setelan baju untuk suaminya itu, Steve pun keluar dari kamar mandi dan melihat Jessy sedang mencari pakaian untuknya.
"Kau sudah bangun ?." Tanyanya yang menghampiri Jessy.
"Maaf aku bangun kesiangan. Sebentar, aku menyiapkan bajumu. Dan kenapa tidak membangunkanku, Steve ?."
"Tidak apa. Aku tidak tega membangunkanmu, aku pikir kau pasti kecapekan karena kemarin maka dari itu aku tidak membangunkanmu."
Jessy menyerahkan pakaian kerja kepada suaminya itu."Iya. Aku memang merasakan tubuhku sangat lelah sekali. Ya sudah, aku ke kamar mandi dulu setelah itu kita sarapan." Jessy pun masuk ke dalam kamar mandi dengan segera.
***
Kemudian bel rumah mereka berbunyi, Jessy ingin membuka pintu rumah tapi di hentikan oleh bibi Lusy dan menyuruh majikannya itu tetap melanjutkan sarapan pagi.
Bibi Lusy dengan melangkahkan kaki dengan cepat dan mencapai pintu rumah, tanpa menunggu lama pintu terbuka. Ternyata yang datang adalah orang-orang dari pihak toko tempat Steve dan Jessy belanja perlengkapan untuk anak mereka.
Ada 3 orang anak muda yang merupakan karyawan toko tersebut membawa banyak perlengkapan bayi. Bibi Lusy kemudian menghampiri Steve dan Jessy dan memberitahukan bahwa yang datang adalah karyawan toko yang mereka kunjungi kemarin.
__ADS_1
Wajah Jessy berbinar-binar karena barang yang dibeli oleh kemarin sudah tiba dirumah. Keduanya pun bergegas menuju teras rumah untuk menemui karyawan tersebut.
Barang-barang yang mereka beli kemarin pun diangkut dan dibawa masuk ke dalam, tepatnya di salah satu kamar yang memang sudah disiapkan untuk anak mereka. Setelah semua barang selesai dibawa masuk, ketiga karyawan itu pun pamit pulang karena pekerjaan mereka sudah selesai.
"Aku akan menyuruh Bi Lusy dan Bi Ana mengatur ruangan ini. Kau tidak perlu bersusah payah mengerjakannya, ingat kau sedang hamil sekarang." Steve memperingatkan Jessy agar tidak bekerja berat.
"Baiklah. Tapi biar aku yang mendesain kamar ini." Pinta Jessy.
"Terserah kau saja. Aku akan berangkat kerja. Kalau ada apa-apa hubungi aku ya, jangan berpergian tanpa Paman James."
"Siap Tuan Steve." Jessy memberi hormat kepada suaminya itu sambil tertawa.
Kemudian Steve pamit berangkat kerja dan tak lupa sebuah kecupan dari bibirnya didaratkannya ke kening dan bibir Jessy.
***
"Kau sudah melacak nomor yang ku kirimkan kepadamu semalam, Juan ?." Tanya Steve saat kedua masuk kedalam ruang kerja Steve.
"Sudah, Tuan. Ini laporannya." Sekretaris Juan memberikan selembar kertas putih kepada Steve.
__ADS_1
Ketika duduk dikursinya, Steve langsung membuka selembar kertas tersebut dan membacanya secara detail isi dari kertas itu.
Steve menarik salah satu sudut bibirnya, saat tahu siapa orang yang mengiriminya pesan kemarin. "Kau benar-benar wanita yang tidak tahu malu rupanya. Aku akan mengikuti permainanmu, KIMBERLY." Batinnya sambil menatap kertas tersebut.