
"Cepat katakan, Nyonya Anderson." Pungkas Lanny yang mengguncang tubuh Jessy namun tidak membuat Jessy kesakitan.
Dengan wajah yang tersenyum usil Jessy mencondongkan tubuhnya ke arah Lanny yang sudah duduk diatas tempat tidur. "Pangeran Juan." Bisiknya lalu tertawa puas.
Kedua mata Lanny membulat penuh saat mendengar siapa yang membawanya sampai ke kamar. "Apa ! Kau pasti bercanda kan, Jessy ?." Ucapnya seraya tidak percaya apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu.
"Memangnya wajah ku berkata bohong ? Itu serius Lanny. Aku yang melihat sendiri dengan kedua mata ku, Juan yang membawamu sampai ke kamar ini, bodoh." Jessy memukul lengan Lanny namun tidak membuat Lanny merasa sakit.
Lanny terdiam dan mengingat-ingat sesuatu kejadian semalam. "Berarti apa yang terjadi semalam itu bukan mimpi ? Itu nyata, nyata sekali. Astagaaaaa ... dasar wanita bodoh, bodoh." Lanny tak hentinya mengutuki dirinya sendiri walaupun dalam hatinya.
"Kenapa kau diam ? Kau sudah ingat sekarang ?."
"Jessy. Aku sudah melakukan kesalahan, bagaimana ini ? Mau taruh dimana wajah ku kalau bertemu dengan Tuan Juan nanti." Tutur Lanny dengan gelisah.
"Memangnya kau melakukan kesalahan apa ?." Tanya Jessy binggung.
"Sudahlah. Lebih baik kita pergi sarapan saja, Steve pasti sedang menunggumu kan."
__ADS_1
"Oh iya. Aku hampir saja lupa soal itu. Dan kau masih punya hutang penjelasan kepadaku, Lanny." Tunjuk Jessy sebelum keduanya pergi meninggalkan kamar tersebut.
"Iya iya." Pasrah Lanny.
***
Di ruang breakfast, semua orang berkumpul walaupun telat dalam sarapan bersama namun tidak mengubah suasana dalam ruangan itu.
Semuanya duduk dan menikmati makanan mereka masing-masing, banyak yang mereka perbincangkan mengenai usaha dan bisnis. Nico yang duduk diantara Jessy dan Steve pun tidak menghiraukan apa tang orang dewasa itu bicarakan, mulut sedang asyik mengunyah makanan yang di sediakan di depannya itu.
Di meja panjang itu dipenuhi seluruh keluarga Jessy dan Steve. Sedangkan di meja lain yang ukurannya lebih kecil dan berbentuk segiempat. Di tempat itu Lanny duduk sendirian sambil menikmati sarapannya.
"Bodoh bodoh bodoh." Lanny berbicara pelan sambil memukul kepalanya.
"Kepalamu bisa sakit jika kau terus saja memukulnya." Ucap seseorang secara tiba-tiba dari arah depannya.
Lanny sontak melihat kearah suara tersebut. Orang yang ingin dihindarinya malah datang dan duduk di depannya dengan wajahnya yang datar tapi memancarkan aura ketampanan itu.
__ADS_1
"Ya Tuhan, kenapa dia datang kemari ? Dia pasti ingin mengejek ku kan." Dalam pikiran Lanny.
"Se-selamat pagi Tuan." Ucap Lanny gugup dan tidak mau melihat wajah Juan
"Dimana letak kesopanan mu ? Jika berbicara dengan seseorang tatap wajahnya bukan menunduk seperti itu." Cerca Sekretaris Juan.
"Ma-maafkan saya, Tuan Juan." Jawab Lanny lagi dan kali ini dirinya memberanikan diri mengangkat kepalanya untuk melihat orang yang duduk di depannya itu.
"Bagaimana keadaanmu sekarang ?." Tanya Juan sambil memasukan buah Melon ke dalam mulutnya.
"Ada angin apa dia tiba-tiba perhatian begitu." Lanny menatap Juan agak lama kemudian menjawab." Saya baik-baik saja Tuan, terima kasih."
"Kalau tidak kuat minum beralkohol jangan dipaksakan. Kau mengerti."
Lanny sedikit terkejut dan menganggukan kepalanya tanda mengerti. Sebenarnya Lanny menahan malu pasti Juan melihat tingkah konyolnya semalam.
"Tu-tuan. Bolehkah aku bertanya ?."
__ADS_1
"Tentu. Silahkan."
"Semalam .... " Belum selesai Lanny menyelesaikan ucapannya tiba-tiba Steve datang menghampiri mereka berdua.