
Steve hanya tertunduk tidak membantah sedikit pun apa yang diucapkan oleh papanya itu. Bahkan saat Brian meninggalkan dirinya ditempat tersebut tanpa sepatah kata apapun, wajahnya menjadi gusar saat merenungkan kembali perkataan papanya.
Steve masih berdiam diri di depan ruangan tempat Jessy dirawat. Dia melamun dan entah kemana pikirannya saat ini, sampai Cornelia yang datang menghampiri dirinya tidak dipedulikannya. Jika wanita itu tidak menegur dirinya sampai kapan pun Steve bakal tidak tahu bahwa Cornelia berada di dekatnya.
"Steve." Suara Cornelia terdengar lembut.
Menolehnya Steve kepada Cornelia bersamaan dengan suara Nancy memanggilnya dirinya untuk segera masuk ke dalam.
"Steve. Kemarilah nak. Jessy sudah sadar." Seru Nancy yang mengeluarkan sebagian tubuhnya untuk memanggil Steve.
Mendengar Jessy sudah sadar Steve bergegas masuk ke dalam lagi yang diikuti oleh Cornelia di belakangnya. Benar saja begitu Steve mendekati tempat tidur dimana Jessy terbaring, dia melihat kedua mata Jessy yang sendu dan seperti tidak punya tenaga.
"Jessy." Ucapnya yang sudah berada disamping Jessy.
Tidak ada jawaban apa pun dari mulut pucat Jessy, pandangannya masih kabur karena terpejam cukup lama serta dia merasakan seluruh badannya terasa sakit. Saat tangan Jessy menyentuh perutnya sendiri tanpa sengaja, dia merasakan ada yang aneh perutnya yang sudah mulai membuncit itu tampak rata.
Jessy mulai panik dan gugup kenapa perutnya kembali rata. Dia mengumpulkan tenaganya untuk bangun namun rasa sakit yang dirasakan olehnya tidak mampu ditahannya. Semakin dia berusaha semakin terasa sakit sebagian tubuhnya yang terluka akibat kecelakaan tadi.
"Jessy. Jangan paksakan dirimu untuk bangun." Ucap Steve yang menahan tubuh Jessy. Begitu juga dengan yang lainnya melarang Jessy agar tetap baring saja ditempat tidur tersebut.
"Apa yang terjadi denganku !." Tukasnya sambil melihat orang-orang disekitarnya.
__ADS_1
"Jessy. Tenangkan dirimu nak. Lihatlah keadaanmu yang belum pulih seutuhnya." Olive berucap dengan nada lembut dan bibirnya bergetar.
"Ma, Pa. Katakan yang sebenarnya kepada Jessy. Apa anak yang aku kandung baik-baik saja ?." Tanyanya sambil menahan airmatanya. " Steve. Jawab aku !." Ucapnya lagi sedikit membentak suaminya itu.
Steve mengumpulkan keberaniannya untuk menyampaikan semuanya kepada Jessy. Karena semakin merek diam semakin pula Jessy mendesak bahkan memberontak. Steve meraih tangan Jessy menggenggamnya erat kemudian menatap wajah pucat istrinya.
"Maafkan aku Jessy. Karena kecelakaan yang kau alami, Dokter mengatakan jika kandunganmu melemah dan menyebabkan ... menyebabkan .... " Steve tidak tega melanjutkan perkataannya lagi.
"Menyebabkan apa Steve !." Tukas Jessy.
Steve menelan salivanya kemudian melanjutkan apa yang diucapkannya." Menyebabkan ... Kau keguguran Jessy."
Jessy menghentakan tangan Steve dengan kasar saat mendengar ucapan Steve barusan. Cairan bening yang berusaha ditahannya akhirnya jatuh membasahi pipinya. Jessy menangis sejadi-jadinya akan kehilangan anak yang dikandungnya, berulang kali tangannya mengelus perutnya yang sudah rata itu.
"Ini semua salah kau Steve." Tuduh Jessy yang terlihat murka dan menatap tajam Steve. " Aku kehilangan anak ku saat ini adalah perbuatanmu dan wanita itu." Ucap Jessy lagi semakin marah.
" Jessy jangan menuduh suamimu seperti itu. Ini bukan salah Steve tapi sudah kehendak Tuhan sayang." Tutur Leo yang sedikit membela Steve.
"Tidak Pa. Ini semua karena kesalahan mereka berdua. " Bantah Jessy yang masih terlihat emosi dan nafasnya naik turun karena amarahnya. "Pergi." Kembali Jessy berucap kepada Steve. "Pergi. Aku bilang pergiiiii ... aku membencimu Steve, aku sangat membencimu." Bentaknya sambil memberontak. " Aku tidak mau melihatmu lagi. Pergi dari sini dan bawa wanitamu itu." Sekali lagi Jessy mengusir Steve dan Cornelia.
"Jessy maafkan aku." Suara Steve terdengar memelas dan belum beranjak pergi.
__ADS_1
Jessy memalingkan wajahnya dari hadapan Steve, dirinya saat ini benar-benar terpuruk. Kehilangan calon anak hasil buah cintanya dengan Steve membuat Jessy membenci suaminya itu. Dia masih ingat sekali bagaimana kejadian waktu di Kedai Kopi saat itu, terang-terangan Steve membela wanita yang bernama Cornelia itu bukan membela dirinya yang merupakan istrinya.
"Jessy aku mohon maafkan aku. Aku tahu aku salah tapi tolong maafkan aku Jessy." Steve berusaha meminta maaf.
"Aku bilang pergi dari sini. Aku tidak mau melihatmu lagi Steve. Aku membencimu .. Aku membencimu Steve. Pergiiiiiiiiiii." Teriak Jessy yang bercampur dengan tangisannya yang semakin menjadi.
Brian dan Leo berusaha menenangkan Jessy ditempat tidurnya yang berteriak histeris tidak karuan. Nancy dan Olive mau tidak mau harus memaksa Steve agar keluar dari ruangan itu barengan dengan Cornelia.
Akhirnya Nancy dan Olive kedua wanita paruh baya itu berhasil membawa Steve keluar dari ruangan tersebut. Kesedihan terpancar dari raut wajah mama dan mama mertuanya itu, mereka berdua juga binggung kenapa Jessy bisa sehisteris itu dan menyalahkan Steve.
"Nak untuk sementara waktu sebaiknya kau jangan menemui Jessy dulu sampai keadaannya benar-benar pulih dan stabil." Terdengar suara lembut Olive kepada menantunya itu. Olive juga tidak mau jika nanti Jessy terus menerus seperti ini, permintaannya pun itu juga demi kebaikan mereka berdua.
" Benar Steve. Sebaiknya seperti itu. Mama tidak tahu apa yang terjadi dengan kalian tapi untuk sementara turuti saja permintaan Mama Olive mu." Sahut Nancy menyetujui perkataan Olive.
Steve hanya diam saja tidak mau memandang kedua wanita paruh baya yang sangat dihormatinya itu.
"Bibi." Tidak lama Cornelia memberanikan diri untuk berucap.
Nancy dan Olive sama-sama menoleh kearah Cornelia yang yang sedang berdiri dibelakang mereka. "Bibi maafkan aku. Ini juga semua salah ku bi. Kalau saja waktu itu aku tidak berkata bodoh kepada Jessy mungkin saat ini dia akan baik-baik saja." Ucapnya menyesali perbuatannya yang beberaap jam lalu.
Olive tersenyum getir kepada Cornelia dan mengusap lengan wanita muda itu. "Jangan salahkan dirimu nak, Ini sudah kehendak Tuhan. Kita tidak tahu apa yang terjadi dengan kita ke depannya."
__ADS_1
"Steve tenangkan dirimu disini. Kami masuk dulu melihat keadaan Jessy. Ucap Nancy lalu berjalan kembali menuju kamar rawat Jessy dan bersamaan dengan itu Dokter dan dua orang perawat juga datang untuk memeriksa keadaan Jessy.