
Corry Sebastian adalah seorang aktris terkenal di Sidney, agensi nya berada dibawah naungan Perusahaan Coltarus. Sejak awal tahun ini, Coltarus mengembangkan bidangnya agar mencakup semuanya. Coltarus memang perusahaan terbesar yang menangani banyak bidang termasuk agensi dunia perfilman.
Corry tidak mengetahui jika wanita yang ia benci saat ini adalah istri dari pemilik agensinya sekarang. Jessy pun hanya diam mendengarkan celotehan Corry yang terlalu berlebihan dan banyak menyudutkannya.
"Kau terlalu banyak bicara, Nona. Dan kau juga melebih-lebihkan apa yang terjadi. Kau ingin menyalahkanku, sedangkan orang yang kau tampar ada disini juga." Celetuk Jessy dengan geram dengan Corry.
"Nona Jessy benar, Tuan Danny. Nona Corry terlebih dulu menampar saya dan Nona Jessy yang membantu saya bahkan Nona Corry juga sudah menghina anak Nona Jessy." Sambung Karyawan toko mainan itu yang namanya Lily.
"Diam kau, kau hanya seorang karyawan biasa saja. Kalau tidak ingin dipecat, jangan berbicara." Bentak Corry dengan suara agak nyaring.
"Cukup Nona. Saya tahu anda adalah seorang public figure di kota ini. Apa Nona tidak takut jika sifat aroganmu ini dilihat banyak orang ? Nona Lily berhak berbicara dalam hal ini. Sebagai manajer Mall ini, saya minta Nona Corry untuk meminta maaf kepada Nona Jessy sekarang." Ucap Manajer Danny yang sebenarnya tahu bahwa letak kesalahan adalah pada Corry Sebastian.
"Apa ! Aku yang meminta maaf kepadanya ? Enak saja. Kalau begini lebih baik aku melaporkannya ke kantor polisi saja. Dia yang bertindak buruk kenapa aku yang minta maaf. Aku tidak mau." Pungkas Corry sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Manajer Danny melirik kearah Jessy karena merasa tidak enak hati apa yang dialami oleh istri Tuan Steve Anderson sang pemegang saham besar Mall ini.
"Tidak apa-apa, Tuan. Jika dia tidak mau minta maaf kepadaku, aku tidak masalah. Tapi setidaknya dia meminta maaf kepada Nona Lily saja." Kembali Jessy berbicara sopan di depan semua orang dalam ruangan itu.
"Kau saja, aku tidak mau. Apalagi dia. Enak saja, siapa kau berani menyuruhku seperti itu. Orang kalangan awam saja sombong sekali."Lagi-lagi Corry menolak untuk minta maaf.
__ADS_1
"Cukup, Nona Corry. Kesabaranku juga ada batasnya. Aku sudah berbicara baik-baik kepadamu tapi kau malah bersikap acuh seperti itu. Kau ingin tahu siapa aku ?." Tantang Jessy yang berjalan mendekati Corry.
"Nona, biar saya saja ..." Ucapan Manajer Danny dihentikan oleh Jessy dengan isyarat tangannya.
"Kau ingin tahu siapa aku, kan ? Aku adalah Nyonya ... " Belum selesai Jessy mengucapkan kata-katanya, terdengar suara laki-laki yang ia sangat kenal.
"Nyonya Steve Anderson." Suara laki-laki itu yang tak lain adalah suara Steve yang datang ke tempat itu. Ia datang karena dihubungi oleh Paman James untuk itu ia datang untuk melihat apa terjadi.
Steve berdiri tepat disamping Jessy, istrinya itu dan merangkul Jessy dengan mesra. Sedangkan Corry kedua matanya terbelalak saat tahu siapa laki-laki yang berdiri dihadapannya itu.
"Nona Corry Sebastian. Apa kau sudah tahu siapa wanita ini ?." Melihat terdiamnya Corry membuat Steve menarik salah sudut bibirnya." Kenapa kau diam ? Bukankah kau dari tadi banyak bicara." Lanjutnya lagi.
"Berani sekali kau memanggilku seperti itu ? Apa kau kira aku ini temanmu ? Aku sudah mengetahui semuanya Nona Corry, jangan kau pikir karena kau seorang aktris terkenal, kau jadi seenaknya saja bertindak. Bahkan Nona Karyawan ini lebih mulia darimu yang merupakan seorang aktris."
"Bu-bukan seperti itu, Steve. Maaf maksud ku, Tuan Steve."Corry benar-benar gugup dan tidak bisa membela lagi, ia mengutuki dirinya sendiri karena ulahnya. Dengan kejadian ini bisa saja karirnya akan hancur sekejap saja.
"Aku juga tahu kau menghina putra kami. Kau bilang dia tidak pantas mendapatkan mainan itu dan melempar uang dihadapan istriku. Sungguh perbuatanmu ini tidak bisa dimaafkan." Kali ini nada bicara Steve berubah lebih berat yang siap menerkam musuhnya.
Jessy menelan salivanya, karena ia tahu jika suaminya itu marah, ia bisa melakukan apa saja untuk menghancurkan orang tersebut aaplagi ini menyangkut anak dan dirinya.
__ADS_1
"Steve. Sudah tida perlu dilanjutkan lagi. Aku tidak apa-apa, Sayang. Tenanglah, sebaiknya kita pergi dari sini." Jessy berusaha merubah suasana dalam ruangan ini.
Semua orang di dalam ruangan itu tertunduk diam dana tidak bisa berkata-kata karena takut akan kemarahan sang Pemilik Mall.
"Santai saja, Sayang. Wanita ini perlu diberi pelajaran sedikit agar ia bisa memperbaiki kesalahannya. " Sahut Steve yang menatap Jessy lalu kembali menatap Corry." Karena kau sudah bertindak buruk kepada istri dan anakku serta karyawan itu, terimalah akibatnya sekarang."
"Ti-tidak, Tuan Steve. Tolong maafkan aku, Nona Jessy. Maafkan aku." Corry memohon-mohon minta maaf kepada Jessy dan juga kepada Lily, karyawan toko mainan.
"Sudah terlambat. Kau dari tadi diberikan kesempatan untuk minta maaf kepada mereka tapi kau bersikap seolah-olah kau benar." Sarkas Steve dengan aura ancaman.
"Steve, sudah. Sebaiknya kita pergi saja." Jessy menarik tangan Steve agar meninggalkan tempat itu supaya tidak terjadi hal yang lebih buruk lagi.
Steve pun mengikuti ajakan Jessy untuk meninggalkan tempat itu, tapi sebelum mereka benar-benar pergi. Steve membalikkan badan dan berbicara lagi kepada Corry.
"Aku tidak akan memaafkan apa yang telah kau lakukan kepada istri dan anakku. Tunggu saja." Ancam Steve lalu pergi.
Corry terdiam membisu karena ketakutan. Ini merupakan kesialan yang parah baginya. Dia berurusan dengan seorang wanita yang merupakan istri dari Steve Anderson.
"Tamatlah aku." Ucapnya dalam hati.
__ADS_1