Terlambat Mencintaimu

Terlambat Mencintaimu
Wanita Luarbiasa


__ADS_3

"Kau tidak mau menjelaskan kepadaku apa yang terjadi barusan ?." Jessy mencoba mencari tahu apa yang terjadi kepada suaminya itu.


"Baiklah. Tapi janji, kau jangan marah setelah mendengar semuanya." Steve sebenarnya ragu untuk menceritakan perbuatan Elisa karena pikirnya jika Jessy tahu, bisa-bisa wanita itu akan lebih marah dari padanya.


"Hmm."


Steve pun mulai menceritakan semuanya kepada Jessy, mulai dari tadi malam pertemuannya dengan Elisa hingga kejadian tadi yang diluar dugaan atas perbuatan Elisa yang sudah lancang kepadanya. Sedetail mungkin Steve menjelaskan semuanya tanpa satu pun yang terlewatkan.


Steve bisa merasakan dan melihat wajah Jessy yang datar dan tidak suka, namun wanita yang dicintainya itu hanya diam seperti bergumul dalam pikirannya.


"Jessy." Tegur Steve lembut dan menyentuh tangan Jessy.


"Ya."


"Kau marah kepadaku ? Maaf jika aku salah." Ucap Steve dengan nada pelan.


Jessy tersenyum kecil dan mengatakan bahwa dirinya tidak marah kepada Steve atau siapapun. "Aku akan berbicara baik-baik kepada Bibi Ana dan juga Elisa. Tapi Steve, Elisa berada dirumah ini juga karena persetujuan dari ku. Aku yang seharusnya meminta maaf, karena tidak memberitahumu sebelumnya."


"Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Kau berhak atas semuanya di dalam rumah ini. Oh ya, maaf sudah membuat keributan pagi ini ya. Aku tidak suka ada wanita yang mencoba mendekati ku bahkan berbuat seenaknya saja kepada ku. Aku sudah jadi milik mu dan tak akan ku biarkan wanita manapun menyentuhku kecuali kau dan juga mama." Tutur Steve dengan tersenyum.


"Aku percaya padamu, Sayang." Jessy membalas memegang tangan suaminya itu.

__ADS_1


***


Setelah kepergian Steve, Jessy berencana untuk bertemu dengan Bibi Ana dan Elisa. Tapi sebelumnya ia menitipkan Nico kepada Bibi Lusy terlebih dahulu.


Kemudian ia pun berjalan menuju kamar khusus pembantu. Ia mengetahui Bibi Ana dan Elisa berada di dalam kamar tersebut setelah bertanya kepada Bibi Lusy tadi.


Ia mengetuk pintu kamar sebanyak dua kali, lalu pintu pun terbuka dan yang membuka pintu adalah Elisa. Elisa terlihat gugup dan salah tingkah sedangkan Jessy tetap menebarkan senyumannya.


"Boleh aku masuk, Bibi ?." Tanya Jessy sebelum masuk ke dalam kamar tersebut.


"Tentu saja boleh, Nona." Bibi Ana berusaha bersikap santai walau pun dalam hatinya tidak seperti itu.


"Maafkan saya, Nona. Saya tidak tahu bakal terjadi seperti ini. Karena ulah putri saya, Tuan Steve jadi marah besar kepada saya." Ucap Bibi Ana sambil tertunduk menangis.


"Bibi. Jangan seperti itu. Bibi tidak salah sama sekali, justru saya yang salah karena tidak memberitahukan kepada Steve sebelumnya." Balas Jessy sambil mengangkat tubuh Bibi Ana. "Bibi sudah lama bekerja disini, saya dan Steve sudah menganggap Bi Ana dan Bi Lusy seperti keluarga sendiri. Steve sudah menceritakan semuanya kepada saya." Tuturnya yang kemudian beralih memandang Elisa yang berdiri agak jauh.


Semenjak Elisa tahu soal Jessy yang merupakan istri dari laki-laki yang ia sukai, ia hanya diam dan bergelut dengan pikirannya. Sempat tidak percaya akan kenyataan itu tapi Ibu nya sendiri juga mengatakan hal yang sama tadi ketika mereka berdua berbicara di dalam kamar itu sebelum Jessy datang.


Steve tipe laki-laki yang di inginkannya, tidak pernah bertemu pria mana pun yanh seperti dengan Steve. Bahkan dalam hatinya ingin rasanya mendapatkan laki-laki itu. Tapi melihat betapa besar kesetiaan Steve kepada Jessy tidak bisa membuatnya bertindak lebih jauh lagi.


"Apa kau menyukai suamiku, Nona Elisa ?." Jessy memberi pertanyaan to the point.

__ADS_1


Elisa hanya diam membisu, binggung harus memulai jawabam darimana. Karena apa pun itu yang dikatakannya hanya akan membuat dirinya terlihat bodoh.


Dengan tidak memberi jawaban atas pertanyaan Jessy, Jessy sudah pasti menyimpulkan bahwa wanita yang baru dikenalnya itu memang menyukai suaminya. Ada rasa cemburu dalam hati Jessy namun ia tidak mau rasa itu lebih berkuasa, ia berusaha mengendalikan dirinya.


"Bukan hanya kau saja yang wanita yang menyukai suami ku begitu pertama kali bertemu. Banyak wanita lain diluar sana dari berbagai kalangan ingin mendekati Steve tapi semuanya gagal. Aku memaklumi apa yang terjadi tadi pagi, apa yang kau lakukan terhadap suami ku karena ketidaktahuanmu. Elisa. Aku harap ini yang pertama dan terakhir kalinya, kau sudah lihat sendiri tadi bagaimana Steve marah, ia bisa saja berbuat buruk kepadamu jika kalau kau melampaui batasmu. Ibu mu juga sangat mengenal Steve, dan karena kejadian ini untuk pertama kalinya Ibu mu di teriaki seperti itu." Jessy kembali berahli melihat Bibi Ana yang masih menangis.


"Bibi. Sudah jangan menangis lagi. Aku atau pun Steve tidak sama sekali marah kepada Bibi. Maafkan Steve sudah berbicara kasar kepada Bibi tadi."


"Tidak, Nona. Tuan Steve pantas seperti itu karena kesalahan Bibi. Bibi juga mohon, maafkan putri Bibi, Nona."


"Aku sudah memaafkan Elisa, Bibi. Dan aku rasa, Steve juga pasti melupakan apa yang terjadi tadi pagi. Dan untukmu Elisa. Aku sudah berbicara kepada Papa ku, lebih baik kau bekerja di perusahaannya saja, jurusanmu sangat dibutuhkan di perusahaan itu. Dan besok kau sudah boleh masuk kerja."


Elisa yang tadinya diam tertunduk langsung mengangkat kepalanya melihat kearah Jessy. Sungguh ini diluar dugaannya, wanita ini benar-benar berhati mulia.


"Nona." Ucapnya mendekat dan segera terduduk dihadapan Jessy. Tangannya menyentuh tangan Jessy, menggenggam erat. "Kenapa Nona baik sekali ? Aku sudah melakukan kesalahan dan sekarang Nona membantu ku soal pekerjaan ? Dan bahkan besok aku sudah bisa masuk kerja. Aku harus melakukan apa untuk membalas kebaikan dan ketulusan Nona kepada ku."


"Berdirilah." Balas Jessy yang menyuruh Elisa berdiri. "Aku membantumu karena Bibi Ana sudah banyak membantuku.Bibi Ana juga sudah menceritakan kepadaku yang sebenarnya, pekerjaan yang kau lamar itu adalah office girl sedangkan kau wanita berpendidikan. Sayang jika gelar mu digunakan tidak pada tempatnya, untuk itu aku berbicara kepada Papa ku dan ia menerima mu atas rekomendasi ku. Bekerjalah sungguh-sunggguh, Elisa. Gunakan kepercayaan orang lain sebaik mungkin."


"Iya, Nona. Aku sangat berterima kasih untuk semua ini. Boleh aku memeluk Nona ?." Pinta Elisa karena kesenangan.


Jessy melebarkan kedua tangannya untuk menyambut tubuh wanita dihadapannya itu. Elisa memeluk Jessy begitu erat bahkan ia sempat berbicara kepada Jessy." Pantas saja Tuan Steve tidak berpaling dari Nona, karena Nona Jessy adalah wanita yang luarbiasa."

__ADS_1


__ADS_2