
Steve berpura-pura pingsan dan saat bersamaan juga Kimberly merasakan ada yang aneh di dalam dirinya. Ia merasa pusing dan penglihatannya mulai pudar.
" Kenapa aku tiba-tiba pusing juga ?." Apa ada yang salah ?." Dalam pikiran Kimberly dan tak lama kemudian Kimberly pun pingsan juga.
Steve merasakan tubuh Kimberly ambruk di dekatnya pun segera membuka matanya. " Kau benar-benar wanita licik Kimberly. Saatnya kau kembali ke tempatmu." Ucap Steve.
Tidak lama kemudian Sekretaris Juan serta 3 orang lainnya datang menghampiri Steve dan Kimberly yang sudah tidak sadarkan diri itu.
"Cepat bawa wanita itu ke mobil." Perintah Sekretaris Juan kepada ketiga orang tersebut.
Tubuh Kimberly pun dibawa oleh mereka dan dimasukkan ke dalam mobil.
"Kau tidak apa-apa, Steve ?." Tanya Sekretaris Juan.
"Aku tidak apa-apa, Juan. Apa semuanya sudah beres ? Kita secepatnya kesana sebelum ia sadarkan diri." Steve berjalan mendahului Juan dan segera keluar dari restaurant tersebut.
***
Sementara dirumah orangtua Jessy, tampak terlihat diwajah wanita yang sedang mengandung itu sangat sedih karena ponsel kesayangannya itu tercebur di kolam renang saat ia secara tidak sengaja terpeleset dan masuk ke dalam kolam renang beserta ponsel yang digenggamnya.
Orang dalam rumah itu pun terkejut dan kepanikan saat tahu Jessy tercebur ke dalam kolam. Olive dan Natalie berteriak saat melihat Jessy jatuh, dan karena mendengar suara teriakan itu dengan cepat Leo sang Papa segera berlari ke belakang rumah.
Tanpa berpikir panjang Leo langsung menceburkan dirinya menolong sang anak. Sebenarnya Jessy bisa saja berenang tapi karena sudah panik Leo ikut masuk ke dalam kolam terlebih dalam pikirannya anak perempuannya itu sedang hamil besar.
__ADS_1
"Jessy. Kau tidak apa-apa nak?." Seru Leo sambil membawa tubuh Jessy ke tepi kolam.
"Jessy tidak apa-apa, Pa. Hanya saja ... ". Ucapan Jessy menggantung membuat orang-orang disekitarnya penasaran dan panik.
Jessy dibantu untuk naik keatas dan segera diberikan handuk agar ia bisa mengeringkan tubuhnya.
"Hanya apa, Jessy ? Apa perutmu sakit ?." Olive terlihat begitu khawatir terhadap putrinya itu.
"Hanya saja ... ponselku tenggelam di kolam itu, Ma." Tunjuknya kearah kolam.
"Astaga. Jessy. Papa pikir kau kenapa-kenapa, nak. Jangan khawatirkan soal ponselmu, papa akan membelikan ponsel baru untukmu." Leo mengusap wajahnya karena ia mengira Jessy mungkin merasa sakit tapi ternyata tidak seperti itu.
***
Di tempat lain tampak Steve dan rombongannya mengantarkan Kimberly ke suatu tempat yang akan membuat Kimberly tidak bisa keluar.
Memang benar ia pergi keluar negeri setelah mendapat ancaman dari Papa Brian tapi itu tidak bertahan lama karena Kimberly berlaku aneh dan suka berbicara sendiri.
Steve sendiri pun mengetahuinya dari Sekretaris Juan yang menyuruh salah seorang anak buahnya menyelidiki tentang Kimberly. Kimberly pulang ke Sidney selain ingin balas dendam, ia mengontrol dirinya ke salah satu Dokter Spesialis Kejiwaan di kota itu.
Agar tidak menyebabkan sesuatu yang fatal, Steve akan membawa Kimberly ke salah satu Rumah Sakit Jiwa mengingat depresi yang dialami Kimberly lumayan berat.
Rumah Sakit Jiwa yang merupakan bagian dari perusahan Coltarus, Rumah Sakit Jiwa yang dibangun oleh perusahaan tersebut sebagai hadiah ulang tahun kota Sidney. Dengan fasilitas lengkap serta Rumah Sakit Jiwa terbesar di kota itu.
__ADS_1
Kimberly dibawa kesana agar selain mengurungnya, Steve bermaksud agar Kimberly pulih dan setelah pulih Steve akan mengirim Kimberly kembali ke kota asalnya.
"Tidak ada seorang pun yang bisa mengeluarkan wanita ini tanpa persetujuan dariku." Ucap Steve kepada pihak Rumah Sakit Jiwa.
"Baik, Tuan. Kami akan laksanakan sesuai dengan perintah Tuan." Jawab Dokter penanggung jawab Rumah Sakit Jiwa tersebut.
"Lakukan sesuai dengan prosedurs kalian, jika ada yang ingin menemuinya atau hal lain segera hubungi aku atau Juan." Tungkasnya lalu kemudian pergi meninggalkan tempat itu.
Ketika sudah masuk kedalam mobil, Steve mengeluarkan ponselnya dan menghubungi istrinya itu. Tetapi nomor Jessy tidak bisa tersambung, tidak seperti biasanya. Ponsel Jessy tidak pernah kehabisan baterai, ia selalu menyediakan powerbank kemana pun ia pergi.
Berulang kali Steve menelepon istrinya itu tetap tidak teesambung. Karena takut terjadi sesuatu, ia memutuskan menghubungi ayah mertuanya. Beberapa kali berdering barulah orang yang ditelepon oleh Steve mengangkatnya.
"Halo Pa."
"Steve. Kapan dimana, Nak ?." Terdengar suara Leo dari seberang sana.
"Steve baru saja dalam perjalanan pulang. Papa, aku menghubungi Jessy berkali-kali tapi tidak tersambung, apa dia baik-baik saja ?."
" Jangan khawatir, Jessy aman disini hanya saja tadi ada sedikit insiden, Nak. Jessy terpeleset dan jatuh ke kolam renang, tapi kau tenang saja. Jessy baik-baik saja."
" Jessy terpeleset ? Bagaimana bisa, Pa ?." Tanyanya kaget.
"Papa juga kurang tahu, Steve. Nanti kau tanya kan saja kepada istrimu. Oya, soalnya tidak bisa dihubungi, ponsel Jessy tercebur di dalam kolam untuk itu ponselnya tidak bisa dihubungi."
__ADS_1
" Baiklah, Pa. Steve akan segera pulang kerumah. Katakan kepada Jessy, aku akan segera sampai." Steve mengakhiri panggilannya dan segera menyalakan mesin mobil.
Tanpa menunggu lama, Steve pun melajukan mobilnya agar cepat sampai dirumah mertuanya itu. Ia juga sudah menyuruh Sekretaris Juan dan yang lainnya bergegas pulang karena pekerjaan mereka sudah selesai.