Terlambat Mencintaimu

Terlambat Mencintaimu
Pangeran Tampan


__ADS_3

Sudah tengah malam, Steve pulang kerumah. Ia sempat memberi kabar kepada istrinya agar tidak menunggunya pulang karena masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.


Seperti biasa Steve menuju ke dapur untuk menyegarkan tenggorokannya. Ia membuka lemari pendingin dan mengambil sebotol air mineral lalu meneguknya hingga tandas.


Saat ia ingin menuju ke kamarnya di lantai atas, ia berpapasan dengan seorang wanita asing yang tidak dikenalnya.


"Siapa kau ?." Suara Steve terdengar sedikit meninggi karena memang ia meras tidak mempekerjakan orang lain dirumah selain Bi Lusy dan Bi Ana.


"Tampan sekali". Bukannya menjawab Elisa malah terperangah dengan ketampanan Steve. Elisa benar-benar tidak tahu jika yang dihadapannya saat ini adalah majikan Ibunya.


"Apa." Steve mengernyitkan dahinya tanda tidak suka dengan kelancangan wanita itu.


"Ma-maaf. Saya Elisa, anak Bibi Ana." Dengan santainya Elisa menjulurkan tangannya memperkenalkan diri di depan Steve.


"Anak Bibi Ana ?." Steve menyipitkan kedua matanya menyelidiki wanita muda di hadapannya itu. " Sedang apa kau disini ?." Tanya nya.


"Saya menginap dirumah untuk beberapa hari karena ada panggilan kerja."


"Oh." Jawab singkat Steve lalu meninggalkan Elisa sendirian diruangan itu.

__ADS_1


Namun Elisa memperhatikan gerak tubuh Steve yang sedang menaiki anak tangga sampai bayang-bayang Steve pun hilang.


"Dia siapa ? Apa dia anak majikan Ibu ? Wah. Elisa, kau beruntung sekali bertemu pangeran tampan ditempat ini." Serunya kegirangan pada diri sendiri.


***


Steve masuk ke dalam kamar dan melihat Jessy sedang tidur di sofa sambil memegang sebuah buku. Ia tersenyum melihat istrinya itu lalu menghampirinya.


Steve menggelengkan kepalanya melihat Jessy yang tertidur pulas. Ia mengambil ahli buku tersebut dan menaruhnya diatas nakas kemudian mengangkat tubuh wanita yang dicintainya itu dengan hati-hati dan membaringkannya diatas tempat tidur dan tak lupa menyelimuti tubuh Jessy.


Sedangkan ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah lengket karena aktivitasnya hari ini.


Ia memang lelah satu harian ini, tapi begitu pulang kerumah melihat istri dan anaknya hatinya terasa hangat dan rasa lelahnya seketika hilang. Ia mencium pipi Jessy sebagai tanda selamat malam setelah itu ia pun ikut tidur.


***


Keesokan paginya, di dapur. Elisa dengan bersemangat membantu Ibu nya dan Bibi Lusy menyiapkan sarapan pagi ini. Bahkan ia sempat memasak makanan khusus untuk Steve.


Ia pun tidak tahu jika Steve adalah pemilik rumah tersebut sekaligus majikan Ibu nya. Bi Ana yang memperhatikan putrinya itu senyum-senyum sendiri pun merasa heran kemudian menegurnya.

__ADS_1


"Elisa. Sepertinya saat ini kau sedang bahagia ? Ada apa, Nak ?."


"Tidak ada apa-apa, Ibu. Aku hanya sedang bahagia saja karena semalam aku bertemu pangeran tampan." Jawabnya tanpa melihat kearah Bibi Ana.


"Pangeran Tampan ?." Gumam Bibi Ana heran. "Jangan banyak berkhayal Elisa."


"Benar Ibu. Aku tidak berkhayal. Semalam memang aku bertemu laki-laki yang tampan sekali. Ah. Seandainya aku menjadi kekasihnya."


"Karen kebanyakan nonton film, makanya kau jadi seperti ini." Tegur Bibi Ana kepada Elisa.


"Ibu tidak percaya. Baiklah nanti Ibu akan melihat orangnya."


Semua menu sarapan sudah selesai dan sudah dihidangkan diatas meja. Selang beberapa menit, Steve pun datang terlebih dahulu dan langsung duduk di kursi tempat biasa yang ia duduki.


Elisa tersenyum senang melihat pangeran tampannya datang dan duduk manis disana. Matanya terpusat penuh menatap penuh damba laki-laki tersebut.


"Ibu. Itu pangeran tampan yang aku maksudkan, Bu." Elisa menunjuk ke arah Steve.


Bibi Ana pun mengikuti arah yang ditunjuk oleh putrinya itu. Dan betapa kagetnya ia saat tahu siapa yang dimaksudkan pangeran tampan oleh putrinya itu. Ia terkesiap ternyata yang di maksud adalah Steve. Ia mengira putrinya itu sedang berkhayal saja.

__ADS_1


Elisa pun dengan cepat menghampiri Steve yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya. Bibi Ana tidak sempat menghentikan putrinya karena Bibi Lusy terlebih dulu mencegatnya untuk membantunya mengangkat sesuatu.


__ADS_2