
Setelah pembicaraan mereka tadi pagi mengenai rencana honeymoon Steve dan Jessy, kini Jessy sudah kembali kerumah Steve lagi. Kembali kerumah tersebut juga atas permintaan Jessy kepadanya, padahal tadi pikirnya Jessy belum ingin kembali ke rumah ini.
Mengenai honeymoon yang akan melakukan beberapa hari kedepan, Steve akan mengatur waktunya untuk mengambil cuti. Rencananya besok ia akan datang ke perusahaan mengurus beberapa hal kemudian menyerahkan tugas lagi kepada Sekretaris Juan.
"Kau ingin beristirahat sekarang." Steve mendudukan tubuhnya disamping Jessy yang sedang duduk disofa kamar mereka
"Tidak. Aku belum mengantuk Steve." Jessy menoleh kepada suaminya itu.
"Apa kau ingin memakan sesuatu ? Biar aku ambilkan untukmu."
Jessy menggelengkan kepalanya tanda tidak mau apa-apa, yang dipikirannya saat ini hanyalah ingin berdua dengan suaminya itu. Rasa rindunya belum terobati sepenuhnya, ingin rasanya memeluk laki-laki disampingnya itu lama-lama.
"Aku hanya ingin memelukmu saja." Jawab Jessy yang seraya tersenyum kepada Steve.
"Kemarilah. Aku yang akan memelukmu." Steve menarik tubuh Jessy agar mudah dipeluknya.
Jessy berada dalam pelukan Steve, kehangatan dan kenyamanan dalam pelukan suaminya itu membuat dirinya merasa candu. Dia pun melingkarkan kedua tangannya untuk memeluk pinggang Steve.
"Aku tidak mau kehilangan orang yang aku cintai untuk kedua kalinya, Steve. Aku tidak mau itu terjadi lagi dalam hidupku." Tuturnya yang menengelamkan wajahnya di pelukan Steve.
"Itu tidak akan terjadi, Jessy. Kita akan memulainya lagi. Tidak akan ada lagi kejadian seperti ini lagi." Sahutnya penuh keyakinan kemudian mencium puncak kepala Jessy berkali-kali.
__ADS_1
***
Keesokan paginya, Jessy terlebih dulu bangun setelah merasakan sentuhan pantulan cahaya matahari dikulit wajahnya yang tembus melalui tirai putih yang tipis.
Jessy melihat arah jam dinding di kamarnya, sudah pukul 7 pagi. Ia bangun dan beranjk menuju kamar mandi untuk mencuci muka serta menggosok giginya. Setelah selesai, dirinya langsung keluar kamar dan menuju ke dapur.
Disana sudah ada Bibi Lusy dan Bibi Nat yang sedang sibuk mengerjakan sesuatu untuk mempersiapkan sarapan bagi majikan mereka. Jessy menghampiri mereka bermaksud ingin membantu tapi ditolak oleh keduanya.
Tapi Jessy bersikeras tetap ingin membantu kedua pembantunya itu, mau tak mau Bibi Lusy dan Bibi Nat mengizinkan majikan itu ikut mempersiapkan sarapan pagi ini.
Sedangkan di dalam kamar, Steve bangun dan tidak mendapati Jessy disampingnya. Steve meregangkan otot-ototnya dan duduk sebentar diatas tempat tidur, mengumpulkan tenaganya untuk berdiri.
Kemana Jessy ? Mungkin ada dibawah. Sebaiknya aku bersiap-siap saja. Gumamnya lalu berjalan menuju kamar mandi.
***
"Kau mau bekerja hari ini ?." Tanya Jessy yang menyiapkan sarapan untuk Steve lalu menyerahkan piring yang berisi omelet daging serta sosis bakar kepada Steve.
"Iya. Ada yang harus aku urus hari ini bersama Juan. Aku tidak mau saat kita honeymoon nanti, ada pekerjaan yang menganggu." Steve memasukan makanan ke dalam mulutnya.
"Oh. Steve, apa aku boleh jalan-jalan keluar hari ini. Aku ingin berbelanja saja." Jessy terlihat ragu untuk meminta izin kepada suaminya itu.
__ADS_1
"Pergilah. Aku akan meminta Paman James untuk mengantarkanmu nanti." Seulas senyuman Steve berikan kepada Jessy.
"Terima kasih."Jessy membalas dengan senyuman pula.
Setelah selesai sarapan pagi, Jessy mengantar Steve yang akan bekerja sampai di depan rumah. Tidak lupa sebuah ciuman sekilas mendarat di bibir Jessy yang diberikan oleh Steve. Jessy memastikan mobil yang ditumpangi oleh suaminya itu hilang dari pandangannya barulah ia masuk ke dalam untuk membersihkan tubuhnya serta bersiap-siap pergi ke tujuannya.
***
Setibanya, Steve yang baru saja keluar dari mobil disambut oleh Sekretaris Juan yang sudah berdiri di pintu lobby, menunggu kedatangan atasannya itu.
"Kau sudah menyiapkan laporan yang aku butuhkan, Juan." Tuturnya yang berjalan mendekati Sekretaris Juan.
"Sudah Tuan." Jawab Juan yang mengikuti langkah kaki Steve menuju lift khusus.
Pintilu lift terbuka, keduanya masuk bersamaan kedalam lift lalu menekan angka paling tinggi sebagai tempat ruangan sang pemilik perusahaan.
"Jadi, bagaimana perkembanganmu dengan Nona Lanny, Juan." Tanya Steve secara tiba-tiba kepada Sekretarisnya sekaligus temannya itu.
"Perkembangan !." Ulangi Sekretaris Juan pura-pura tidak mengerti maksud arah bicara Steve.
"Menikahlah Juan. Mungkin setelah kau menikah, kau akan lebih mengerti tentang kehidupan." Singgung Steve tanpa melihat Sekretaris Juan disampingnya. Dia juga sengaja berbicara seperti itu agar Juan mencari seorang kekasih dan kalau bisa segera menikah, mengingat usianya yang sekarang pantas untuk membina rumah tangga.
__ADS_1
Sekretaris Juan hanya diam tidak mau menjawab. Menurutnya akan lebih baik dirinya tetap diam agar tidak berkelanjutan.
Seandainya mencari kekasih semudah mendapatkan permen, mungkin sampai sekarang aku tidak menyendiri. Mencari kekasih yang cocok itu gampang-gampang susah, Steve. Batinnya sambil menatap lurus kedepan.