Terlambat Mencintaimu

Terlambat Mencintaimu
Jangan Main-Main


__ADS_3

terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa melewati lobby perusahaan Coltarus, langkah kaki yang dipadu dengan sepatu heels bergema diruangan itu sehingga membuat orang-orang sekitar memperhatikan siapa yang sedang berjalan dengan ribut sekali.


Tanpa permisi wanita itu langsung saja masuk ke dalam lift dan menekan tombol angka paling atas yang merupakan lantai tempat sang pemimpin perusahaan berada.


raut wajahnya terlihat murka dan penuh frustasi. Bagaimana tidak, ia kehilangan pekerjaannya dan di blacklist oleh stasiun televisi manapun. Tangannya mengepal keras karena tidak menerima apa yang terjadi pada dirinya.


Sesampainya dilantai atas, ia segera berjalan menuju ruangan pemimpin perusahaan. Langkah kakinya yang cepat membawanya sampai di depan ruangan sang pemimpin.


"Maaf, Nona. Ada keperluan apa Nona datang kesini ?." Tegur Lanny yang kebetulan sedang berdiri di depan pintu ruangan Steve.


"Aku ingin bertemu dengan Steve, sekarang." Bentaknya menjawab Lanny karena sudah dipenuhi kekesalan kepada Steve.


"Sekali lagi, Maaf, Nona. Jika belum ada janji untuk bertemu dengan Tuan Steve, tidak diperbolehkan masuk ke dalam. Apa Nona sudah ada janji ?."


"Cih." Desisnya kesal." Aku tidak butuh janji untuk bertemu dengannya. Aku Corry Sebastian, apa kau tidak mengenalku ? Aku mau masuk ke dalam." Corry berusaha untuk membuka pintu ruangan Steve.


"Anda memang tidak punya sopan santun sekali, Nona. Kalau anda tetap memaksa, saya akan panggil security untuk menyeret anda keluar." Ancam Lanny yang tidak mau kalah. Semenjak menjadi sekretaris Steve, Lanny dilatih untuk sigap, cekatan dan juga mental baja seperti Sekretaris Juan.


Corry tidak mengindahkan ancaman Lanny, ia tetap berusaha memaksa masuk ke dalam ruangan Steve. Karena sudah terbakar oleh kemarahan akhirnya, Corry berhasil membuka pintu tersebut, dan segera masuk menemui Steve.

__ADS_1


"Steve Anderson". Teriaknya nyaring yang memenuhi seisi ruangan itu.


Steve tidak kaget akan suara teriakkan tersebut, karena ia sudah tahu jika wanita itu bakal datang untuk menemuinya. Sedangkan Sekretaris Juan menggosok telinganya karena mendengar suara teriakan Corry.


"Maaf, Tuan Steve. Nona Corry memaksa untuk masuk kesini." Terdengar suara Lanny yang sedikit gugup.


"Tidak apa-apa. Kau boleh pergi, Lanny." Perintah Steve dengan santai.


Corry menatap Lanny yang pergi lalu kembali menatap Steve dengan tatapan penuh menusuk dan siap diterkam. Corry berjalan mendekati meja kerja Steve, wajahnya tidak berubah sedikit pun, ia tetap dipenuhi rasa kesal, emosi dan marah kepada laki-laki dihadapannya itu.


"Apa yang kau lakukan, Steve !!." Ucapnya penuh kemarahan." Kau menghancurkan karirku." Lanjutnya lagi.


"Kau sengaja melakukan ini, kan ! Aku di blacklist dan semua kontrakku dibatalkan. Kau menghukumku karena istrimu itu." Suara Corry meninggi.


Sekretaris Juan hanya diam memperhatikan Corry meluapkan semua kemarahannya tanpa membantah sedikitpun.


"Karena kau, aku harus menanggung malu, Steve. Kau bukan manusia, Steve."


Steve menarik nafasnya dan menarik salah satu sudut bibirnya. "Tidak tahu malu. Kau datang ke tempat ku dan membuat kekacauan dan keributan disini. Aku bisa melaporkanmu, Nona Corry. Dan satu lagi, atas dasar apa kau menyebut namaku ? Steve ! Aku bukan teman mu, Nona. Oh ya, ingat ini baik-baik. Aku bisa melakukan jauh lebih buruk kepadamu, Nona. Karena kau sudah menghina istri dan anakku, tapi seharusnya kau berterima kasih kepada istriku, karena dia masih membelamu di depanku. Wanita yang kau hina di toko tersebut sudah berbaik hati kepadamu."

__ADS_1


Corry diam mendengarkan ucapan Steve namun sorot matanya masih menghunus tajam kepada Steve.


"Aku tidak suka jika ada orang yang menyentuh atau menyakiti keluargaku. Aku akan melakukan apapun demi keluargaku nyaman dan tenang. Jadi, Nona Corry, semoga kau bahagia dengan apa yang terjadi sekarang." Ucap Steve yang menusuk.


"Aku tidak akan tinggal diam. Kau harus mengembalikan lagi apa yang menjadi hak ku. Atau kau akan aku tuntut, Steve." Ancam Corry yang menunjuk kearah Steve.


Terdengar suara tawa Steve yang meledek ucapan atau ancaman dari Corry tersebut. Ia tertawa keras karena merasa lucu dengan apa yang dikatakan oleh Corry tadi.


"Kau ingin menuntut ku, Nona ?." Pungkasnya sambil tertawa. Kemudian hening sejenak lalu sorot mata Steve yang menghunus tajam kearah Corry membuat wanita itu gugup dan takut.


"Jangan bermain api dengan ku, Nona Corry Sebastian. Kau yang memulai kesalahan dan memperburuk situasi ini. Apa kau tidak kasihan kepada Ayahmu, Andrew Sebastian ? Perusahaan yang ia kelola saat ini berada dalam naungan ku. Aku bisa menghancurkanmu lebih dari ini, Nona. Seharusnya dengan peringatan ini, kau bisa merubah sifatmu yang angkuh. Tapi kau malah mengabaikannya."


"Ja-jangan, Steve. Jangan hancurkan perusahaan Ayahku, aku mohon. Ba-baiklah, aku akan melakukan apa saja yang kau perintahkan kepadaku." Corry benar-benar takut akan ucapan Steve. Ia menangis memohon kepada Steve dan berlutut di depan laki-laki itu.


"Nona. Berdirilah." Suara Sekretaris Juan terdengar setelah berdiam cukup lama. Ia membantu Corry untuk berdiri.


"Aku mohon, Steve.. Maksudku Tuan Steve."


"Aku punya pekerjaan untukmu, Nona. Dan aku harap kau mengerjakannya dengan sungguh-sungguh." Kembali suara Steve merendah berbicara kepada Corry.

__ADS_1


__ADS_2