Terlambat Mencintaimu

Terlambat Mencintaimu
Berlatih


__ADS_3

"Iya, Nona. Aku sangat berterima kasih untuk semua ini. Boleh aku memeluk Nona ?." Pinta Elisa karena kesenangan.


Jessy melebarkan kedua tangannya untuk menyambut tubuh wanita dihadapannya itu. Elisa memeluk Jessy begitu erat bahkan ia sempat berbicara kepada Jessy." Pantas saja Tuan Steve tidak berpaling dari Nona, karena Nona Jessy adalah wanita yang luarbiasa."


"Bibi. Sudah jangan menangis lagi. Masalah ini sudah selesai dan jangan diingat lagi ya, Bi." Ucap Jessy selepas memeluk Elisa.


"Iya, Nona. Sekali lagi terima kasih atas kebaikan Nona Jessy."


"Tidak masalah, Bi. Kalau begitu aku permisi keluar dulu. Oh ya, Ini kartu alamat perusahaan Papa ku, Elisa. Besok pergilah kesana." Jessy menyerahkan selembar kertas kecil kepada Elisa kemudian keluar dari kamar tersebut.


***


Menjelang siang sekitar pukul 14.00, Jessy menelepon Steve untuk menanyakan apakah suaminya itu sudah makan siang atau belum kebetulan dirinya sedang bersiap-siap.

__ADS_1


"Kenapa tidak diangkat ? Aku coba sekali lagi." Tuturnya kemudian menekan tombol panggilan.


Sempat berdering beberapa kali, dan tak lama terdengar suara dari dalam ponsel tersebut.


"Nona Jessy." Sapa suara laki-laki yang menjawab.


"Juan. Dimana Steve ?." Balas Jessy yang tahu jika yang menjawab adalah Juan.


"Nona, Tuan Steve sedang ada meeting dengan klien. Kami berada di restorant The Ternary, Nona."


Jessy tersenyum melihat dirinya sendiri di depan cermin lalu mengambil tas yang akan dibawahnya. Sebelum pergi, ia menitipkan anaknya kepada Bibi Lusy.


Mobil sudah siap di depan rumah, Paman James membukakan pintu belakang untuk Jessy. "Terima kasih, Paman." Ucap Jessy lalu masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Paman James pun mengemudikan mobil tersebut meninggalkan rumah dengan kecepatan sedang. Ia tahu kemana membawa majikannya pergi.


Dalam perjalanannya, Jessy sempat mengeluh soal badannya yang terasa sakit dan pegal kepada Paman James. Walaupun sering latihan, tapi latihan kali ini membuat tenaga Jessy terkuras habis.


Ya, tanpa sepengetahuan Steve, Jessy belajar bela diri. Ia mengambil keputusan untuk melatih dirinya karena untuk berjaga-jaga saja. Ia juga tidak bisa sepenuhnya berharap kepada suaminya itu, ia harus mandiri dan bisa menjaga dirinya sendiri. Sudah 8 bulan ini Jessy berlatih bela diri, bahkan pelatihnya merupakan orang pilihan Paman James.


Paman James menyarankan Jessy berlatih kepada sahabatnya yang menguasai 3 seni bela diri. Dan selama itu, hanya Paman James saja yang tahu kalau Jessy belajar bela diri.


"Ah. Badan ku rasanya remuk sekali, Paman. Aku tidak tahu jika latihan hari ini benar-benar menguras tenaga. Paman Toni sungguh menyiksa ku kali ini." Serunya sambil memijat tangan serta kaki nya.


Paman James hanya tertawa kecil saja mendengar ucapan Jessy yang mengeluh. Ia juga melihat tadi bagaimana Jessy berlatih selama dua jam itu.


"Paman juga pernah merasakannya, Nona. Tapi, perkembangan bela diri Nona sangat bagus belakangan ini." Puji Paman James yang melihat Jessy dari kaca spion.

__ADS_1


"Terima kasih, Paman. Masih banyak lagi yang harus aku pelajari dan pahami agar bela diri ku sebanding dengan Paman Toni." Balas Jessy yang terkekeh.


Sopir dan majikan itu asyik mengobrol satu sama lain mengenao seni bela diri, walaupun sedang mengobrol Paman James tetap fokus mengemudi mobil tersebut agar tidak terjadi sesuatu.


__ADS_2