
Tanpa menunggu lama, Steve pun melajukan mobilnya agar cepat sampai dirumah mertuanya itu. Ia juga sudah menyuruh Sekretaris Juan dan yang lainnya bergegas pulang karena pekerjaan mereka sudah selesai.
Dalam perjalanannya kembali ia mengingat tentang Kimberly. Wanita yang pernah mengisi hari-harinya itu telah berubah, apa yang sebenarnya terjadi padanya sehingga Kimberly berubah seperti itu. Terlebih sekarang Kimberly mengalami depresi berat, untuk itu ia harus dirawat.
Kondisi kejiwaan Kimberly benar-benar terganggu, tapi Steve bersyukur karena saat dirinya terpuruk Jessy ada untuknya. Wanita pilihan orangtuanya sangatlah terbaik untuk kehidupannya.
Dan tanpa terasa mobil yang dikendarai oleh Steve sudah sampai dirumah mertua. Ia memarkirkan mobilnya lalu turun dengan berlari kecil agar cepat bertemu dengan istrinya itu.
Ia juga harus menceritakan yang sebenarnya kepada Jessy tentang hari ini. Bagaimana pun ia harus memberitahukan semuanya kepada Jessy agar tidak menimbulkan sesuatu yang tidak diinginkan.
"Jessy." Panggilnya saat membuka pintu kamar istrinya itu.
"Steve. Kau sudah pulang." Sebuah senyuman manis diberikan oleh Jessy kepada sang suami.
"Baru saja dan aku langsung menemuimu disini. Papa bilang kau habis terpeleset dan jatuh ke kolam."
Jessy tampak merasa bersalah karena tidak berhati-hati tadi, ia takut jika Steve bakal memarahinya.
"Maafkan aku. Aku begitu ceroboh sekali, karena tidak berhati-hati makanya aku terjatuh dan masuk kedalam kolam." Jawab Jessy tertunduk lesu.
Steve tersenyum dan mengangkat wajah istrinya agar bisa ia lihat. "Yang terpenting kau dan anak kita tidak apa-apa. Aku begitu cemas saat tahu keadaanmu dari papa, aku meneleponmu berkali-kali tapi ponselmu tidak bisa dihubungi." Tutur Steve lembut.
__ADS_1
"Kau tidak marah kepadaku, Steve ?." Jessy menyakinkan lagi jika Steve tidak marah kepadanya.
Steve menggelengkan kepalanya." Tidak sama sekali. Apa ada yang sakit ditubuhmu ?." Steve merangkul tubuh istrinya dan mencium puncak kepala Jessy dengan hangat.
"Tidak ada. Aku tidak apa-apa bahkan anak kita juga dalam keadaan baik saja disini." Jessy mengelus perutnya yang sudah besar itu.
"Kita menginap disini saja malam ini, besok baru kita pulang kerumah."
"Terima kasih karena malam ini kita menginap disini. Aku mencintaimu Steve." Peluk Jessy lebih erat ditubuh suaminya itu.
"Aku juga mencintaimu, Jessy."
***
Bahkan resort yang dikelola oleh Jessy dengan dibantu oleh Steve pun berkembang pesat. Banyak wisatawan yang berkunjung ke pulau itu untuk berliburan. Ini merupakan bisnis pertama Jessy dan menjadi pemilik pulau serta isinya itu.
Tak lupa juga Alex dan Natalie menyampaikan bisnis mereka yang dibangun sejak 5 tahun lalu sudah berkembang maju. Bisnis yang kedua bangun sejak masih menjadi sepasang kekasih. Bahkan Alex pun harus fokus pada perusahaan keluarganya, Leo yang menyerahkan jabatan Presiden Direktur kepada Alex sekarang hanya sebagai penasehat untuk anaknya itu.
Tanp terasa waktu berjalan sehingga mereka harus kembali masuk ke kamar masing-masing. Dan dalam menuju ke kamarnya, Jessy pun dibuat penasaran karena ada sesuatu yang harus diceritakan oleh Steve kepadanya.
Sejak kepulangan suaminya itu, sebelum mandi Steve sempat memberitahukan bahwa ia ingin menceritakan sesuatu nanti kepada Jessy.
__ADS_1
"Steve. Apa yang ingin kau ceritakan kepadaku ?." Tanya Jessy begitu sudah duduk diatas tempat tidur.
"Kau tidak mau tidur sekarang ?."
"Nanti saja,setelah selesai apa yang ingin kau ceritakan kepadaku."
"Baiklah. Tapi berjanjilah kalau kau tidak akan marah dan memotong pembicaraanku sampai aku selesai menceritakan semuanya kepadamu." Pinta Steve dengan suara lembut.
"Oke. Aku setuju. Sekarang ceritalah." Perintahnya tidak sabaran.
Steve pun memulai ceritanya apa yang dilakukannya satu hari ini, ia terpaksa berbohong kepada agar bisa menyelesaikan urusannya dengan Kimberly. Walau Jessy sempat terlihat kesal karena Steve membohonginya tapi pad akhirnya ia memakluminya dan tahu maksud dari suaminya itu yang sudah bertindak demikian.
Sampai pada titik dimana pada akhirnya Kimberly dirawat di Rumah Sakit Jiwa. Ada rasa kasihan kepada wanita itu tapi mau bagaimana lagi, ternyata Kimberly menderit depresi yang lumayan berat.
"Aku turut prihatin kepadanya, kasihan sekali nona Kimberly." Ucapnya begitu Steve selesai menjelaskan semuanya.
"Dia akan dirawat selama disana, kalau pun ia sudah sembuh, aku akan mengirimnya kembali ke kotanya."
"Terserah kau saja, semoga nona Kimberly bisa melewati semuanya disana."
Steve menganggukan kepalanya tanda menyetujui ucapan dari Jessy tadi. "Kau tidak marah ?."
__ADS_1
"Tidak. Tapi aku tidak ingin ini terjadi lagi. Kalau terjadi sesuatu padamu bagaimana, Steve. Tolong jangan sembunyi sesuatu dariku lagi. Kalau kau mengulanginya lagi aku akan menghukummu." Jessy memberi peringatan kepada suaminya itu.
"Iya, iya. Aku janji tidak akan melakukan hal tanpa sepengetahuanmu. Sekarang, tidurlah." Steve mencium pipi Jessy lalu mencium bibir istrinya itu sebentar sebelum keduanya tidur terlelap.