
Pantulan cahaya matahari yang baru saja terbit menembus tirai di dalam kamar sepasang suami istri yang masih terlelap. Keduanya masih setia menempati kasur yang empuk itu tanpa merasa diganggu oleh pantulan cahaya yang mengenai wajah keduanya.
Namun keduanya terganggu tatkala suara anak kecil yang berteriak-teriak memanggil keduanya. Karena keributan di pagi itu, mau tak mau salah satu dari mereka terpaksa bangun.
Walaupun masih lelah dan mengantuk, Jessy membuka kedua matanya. Ia merasakan ada sesuatu yang naik keatas tempat tidur dan merayap mendekati mereka.
Jessy tahu siapa yang tengah naik keatas tempat tidur dan mengganggu dirinya dan juga sang suami tidur. Pria kecil yang menggemaskan dan lucu itu pun dengan polosnya menduduki perut Papanya.
"Aw." Jerit Steve saat merasakan tindihan tiba-tiba yang dialaminya. Dan karena hal itu juga akhirnya ia pun terbangun.
Nico dengan santainya menduduki perut Papanya sambil tertawa. Jessy pun ikut tertawa melihat tingkah kepolosan anaknya itu.
"Selamat pagi, jagoan Mama Papa." Ucapnya yang kemudian mencubit pipi gembul Nico.
"Nico. Perut Papa sakit, Nak. Ayo duduk disini saja." Steve berusaha memindahkan Nico agar duduk di tengah-tengah mereka.
"Jam berapa sekarang ? Kenapa pagi-pagi kau sudah mandi ?." Heran Jessy lalu melihat jam besar yang menempel di dinding kamarnya." Astaga. Jam 9 pagi !!." Serunya lagi.
"Kenapa memangnya ? Kau mau kemana ?." Tanya Steve yang membenarkan duduknya sambil bersandar.
"Tidak kemana-mana. Hanya saja aku kesiangan untuk pertama kalinya."
"Ini kan hari libur, Sayang. Tidak perlu khawatir dengan itu. Wajar saja kalau kau bangun kesiangan." Ucap Steve tersenyum.
"Ini semua karena ulahmu." Serunya yang melihat kearah Steve. " Kalau saja kau tidak mengganggu ku sampai subuh, aku tidak akan kesiangan seperti ini." Gerutunya lagi.
"Iya, iya. Maafkan aku. Aku tidak tahan melihat tubuhmu jadinya aku mengganggumu terus. Apa perlu kita melanjutkannya lagi ?."
"Jangan menggodaku, Steve. Kau tidak lelah apa, karena perbuatanmu seluruh tubuh ku sakit dan lelah."
__ADS_1
"Kalau begitu, sini aku pijat biar tidak sakit lagi." Tangan Steve memegang bahu Jessy.
"Tidak perlu. Kau tidak malu apa dilihat Nico, Papanya lebih manja daripada anaknya." Ledek Jessy yang menyingkirkan tangan Steve.
"Biarkan saja dia lihat. Biar dia tahu kalau Papa Mama nya sangat romantis." Lagi-lagi Steve menggoda istrinya itu.
"Tua bangka. Cepat mandi sana." Usir Jessy yang mendorong tubuh Steve agar cepat pergi ke kamar mandi.
Steve hanya tertawa melihat kekesalan istrinya itu dan menuruti perintah istri agar segera mandi. Tapi sebelum dirinya masuk ke dalam, ia membalikkan badannya dan menggoda Jessy lagi.
"Sayang."
"Hm." Jessy menoleh kearah suaminya.
"Tidak ingin mandi bersamaku ?."
Laki-laki itu pun masuk sambil tertawa karena senang menggoda istrinya itu.
***
Nico di jaga oleh Bibi Lusy di tempat lain karena anak kecil itu sudah sarapan lebih dulu, sedangkan kedua orangtuanya menikmati sarapan pagi yang sudah telat itu.
"Aku mendapat informasi mengenai resort kita disana. Tuan Paul menghubungiku kemarin, katanya ada sesuatu yang terjadi disana." Jessy memulai pembicaraan setelah beberapa menit mereka diam.
"Oh ya. Masalah apa ? Kenapa dia tidak menghubungiku ?." Balas Steve setelah memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Aku kurang tahu kenapa Tuan Paul tidak menghubungimu. Tapi kemarin, dia menjelaskan ada masalah yang terjadi mengenai keuangan di resort."
"Kalau begitu, aku akan berangkat kesana. Aku akan mengurus semuanya hingga selesai. Kau tenang saja." Ucap Steve yang menenangkan istrinya.
__ADS_1
"Hm. Sayang. Sebaiknya aku saja yang kesana untuk mengurusnya. Aku tidak mau membebanimu dengan usaha kita disana. Biarkan aku yang menyelesaikan masalah di resort." Jessy menghentikan aksi makannya.
" Kau yakin !." Tanya Steve memastikan.
"Sangat yakin." Jawabnya.
"Tapi ..."
"Stop. Aku tidak ingin ada kata tapi lagi atau keraguanmu terhadap diriku. Percaya sama istrimu ini. Oke." Seru Jessy yang menghentikan bicara Steve.
"Baiklah. Aku mempercayaimu. Kapan kau akan pergi kesana ?."
"Rencananya sih, siang ini sekitar jam 2. Tapi aku harus meminta izin darimu lebih dulu."
"Terserah kau saja, Sayang. Perjalanannya juga tidak lama paling 2 jam kalau menggunakan Speedboat kita."
"Iya. Tuan Paul juga sudah menyiapkannya untuk ku."
"Kenapa kau tidak mengajak Lanny untuk ikut bersamamu disana ? Setidaknya ada temanmu biar kau tidak bosan." Saran Steve.
"Apa boleh aku mengajak Lanny ?."
"Tentu saja boleh, Sayang. Ajaklah dia kesana, sekalian dia liburan."
"Terima kasih. Aku akan menghubunginya nanti."
Steve dan Jessy kembali menikmati sarapan mereka yang sempat terhenti karena obrolan tadi.
"Dia benar-benar tidak tahu. Alasan Tuan Paul benar-benar bagus. Rencana ku berhasil. Datanglah Sayang, dan lihat apa yang akan terjadi disana malam ini." Ucap Steve dalam hatinya sambil tersenyum kepada istriny.
__ADS_1