Terlambat Mencintaimu

Terlambat Mencintaimu
Kita Selamanya


__ADS_3

"Terima kasih, Lanny. Kau segeralah menyusul, apa kau tidak bosan dengan hidup sendirian ?." Ledek Jessy tiba-tiba sehingga membuat Lanny membulatkan matanya dengan sempurna.


"Ah, kau ini sungguh merusak suasana saja." Gerutunya kesal kepada Jessy


Jessy tertawa puas melihat kekesalan sahabatnya itu, meledek Lanny memang menjadi hobbynya jika kedua sudah bertemu, terlebih selama 1 bulan ini mereka tidak bertemu membuatnya rindu bercanda dengan Lanny.


Sementara mereka berbincang-bincang, Steve dan Sekretaris Juan pun masuk ke dalam ruang kerja Steve. Steve kaget karena melihat Jessy disini tanpa memberitahunya terlebih dahulu.


"Sayang. Kau disini ? Kapan kau datang ?." Tanyanya menghampiri istrinya di sofa.


Sebuah kecupan singkat diberikan Steve dibibir tipis Jessy, adegan yang dilihat oleh Sekretaris Juan dan juga Lanny. Keduanya merasa malu dan memalingkan wajah ke sembarang arah.


"Maaf, aku datang tidak memberitahumu. Aku dari rumah sakit langsung kesini." Jawab Jessy dengan tersenyum.


"Duduklah dulu disini. Aku selesaikan pekerjaanku baru menemanimu. Kau tidak marah ?."


"Tidak sama sekali. Aku tidak tahu kalau kau sangat sibuk hari ini. Aku bisa menunggumu dirumah, Steve. " Ucapnya tidak enak hati karena menganggu pekerjaan suaminya itu.


"Tidak, tidak apa-apa. Aku hanya perlu menandatangani berkas saja. Tunggulah disini. " Steve mengusap lengan Jessy dengan lembut. " Lanny, tolong temani Jessy sebentar disini. " Perintahnya kepada Lanny yang berdiri dibelakang Jessy.


Lanny menganggukkan kepalanya tanda setuju, lalu menyuruh Jessy untuk duduk kembali. " Kau mau minum, Jessy ?." Tawar Lanny setelah mereka duduk.


"Tidak. Kalau aku haus, aku akan memintamu mengambilnya." Tolak Jessy halus. Kemudian Jessy menoleh kearah Steve dan Sekretaris Juan yang sibuk dengan beberapa berkas lalu memgalihkan lagi pandangannya kepada Lanny.

__ADS_1


"Bagaimana denganmu dan Sekretaris Juan ?." Tanya Jessy dengan nada pelan.


"Tidak apa-apa. Dia masih terlalu dingin untuk didekati. Aku lelah dengan sikapnya itu." Balas Lanny dengan suara pelan juga agar tidak terdengar oleh kedua laki-laki disana.


"Jangan seperti itu, kau harus berjuang mengejar cintamu. Untuk apa aku membujuk Steve agar kau menjadi Sekretarisnya, biar kau bisa lebih dekat dengan Sekretaris Juan. Jangan membuat usahaku jadi sia-sia."


"Kau ini. Laki-laki yang ku cintai itu seperti gunung es. Kau mengerti." Jawab Lanny dengan terkekeh kecil.


"Aku akan terus mendukungmu, Lanny." Jessy pun tertawa kecil.


Dan tidak berapa lama, Steve dan Sekretaris Juan pun selesai dengan urusan mereka. Kemudian Steve menemani istrinya itu, sedangkan Lanny dan Sekretaris Juan pamit keluar.


***


Jessy pun sudah memberitahukan kepada suaminya itu jika anak mereka adalah laki-laki. Tidak kalah dengan Jessy, Steve pun sangat bahagia mendengarnya. Ia berkeinginan jika anak pertamanya adalah laki-laki, dan itu terwujud.


Berulang kali ia mencium perut Jessy karena rasa bahagianya itu. Jessy pun sempat bercerita jika anak dalam perutnya itu menendangnya berkali-kali, dan karena hal itu membuat Steve ingin merasakannya juga.


Saat ia mengelus-elus perut Jessy, tendangan kecil itu pun dirasakannya. Jagoan dalam perut istrinya itu memberi tanda bahwa ia merasakan sentuhan dari sang ayah.


"Saat pulang nanti, kau mau kemana ? Aku akan mengantarkanmu, Jessy."


Dengan mengingat-ingat sesuatu, Jessy berpikir ingin pergi kemana. Dan ia pun baru ingat jika perlengkapan bayi belum ia beli sama sekali. " Bagaimana kalau kita pergi belanja kebutuhan untuk bayi kita, Steve ? Kita belum membeli pakaian serta yang lainnya bukan ?."

__ADS_1


"Iya, aku setuju. Tunggulah beberapa menit lagi kita akan pergi." Steve mencium kening Jessy lalu mencium sekali lagi perut Jessy.


***


Tibalah Steve dan Jessy di salah satu Mall besar dan tanpa menunggu lama, keduanya pun berjalan ketempat tujuan mereka semula, toko perlengkapan anak dan bayi.


Mata mereka disambut dengan baju-baju berukuran kecil yang lucu dan menggemaskan. Karena sudah tahu jenis kelamin anak mereka, Jessy dan Steve pun mulai memilih pakaian perlengkapan untuk bayi laki-laki.


Warna yang dipilih pun yang memang pantas untuk anak laki-laki. Tapi kebanyakan adalah warna biru, putih dan juga kuning. Jessy sangat menyukai semua perlengkapan bayi tersebut sehingga membuat binggung harus pilih yang mana.


Steve pun membiarkan istrinya itu yang menentukan semua kebutuhan untuk anak mereka nanti. Dan setelah selesai belanja, barang-barang itu pun akan di kirim oleh pihak toko kerumah mereka nanti. Karena banyaknya perlengkapan untuk itu Steve meminta agar semuanya di paketkan saja.


Setelah selesai, Jessy mulai merasa haus dan lapar. Ia pun meminta kepada Steve untuk mengajaknya ke salah satu restaurant di Mall tersebut.


"Kau senang ?." Tanya Steve yang menggenggam tangan Jessy.


Jessy menganggukkan kepalanya." Aku sangat senang. Terima kasih, Steve."


"Kalau kau masih ingin membeli sesuatu, katakan saja. Kau juga perlu membeli kebutuhan untuk dirimu, Jessy."


"Aku tidak butuh apa-apa, Steve. Aku sudah memiliki semuanya. Aku hanya butuh kau terus disampingku seperti saat ini." Jawab Jessy yang menatap wajah Steve.


"Kita akan seperti ini selamanya. Kita akan terus bersama sampai maut memisahkan kita berdua." Steve pun membalas dengan senyuman diwajahnya.

__ADS_1


__ADS_2