Terlambat Mencintaimu

Terlambat Mencintaimu
Merasakan Sakit


__ADS_3

Sebulan kemudian ...


Usia kandungan Jessy sudah memasuki 9 bulan lebih, tanggal persalinannya pun jatuh pada minggu ketiga atau akhir bulan ini, itu yang disampaikan oleh Dokter Milly kepadanya ketika Jessy melakukan pemeriksan rutin.


Pagi ini ia terbangun karena merasakan pantulan cahaya matahari yang mengenai wajahnya. Perutnya yang semakin besar membuatnya susah bergerak terlebih dalam posisi tidur.


Dengan kondisinya yang seperti itu mau tidak mau ia lebih sering tidur dengan posisi miring ke kiri atau ke kanan. Dan pagi ini ia dibangunkan oleh cahaya matahari yang masuk ke celah jendela kamarnya.


Ia membalikkan badannya ingin melihat sang suami tapi ternyata Steve sudah tidak ada. Jessy pun mebangkitkan tubuhnya, duduk bersandar sambil mengucek kedua matanya agar penglihatannya tidak buram.


"Steve kemana ?." Ucapnya pada diri sendiri sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar. Kamar mandi pun pintunya tidak tertutup, jadi kemana Steve.


Tidak berapa lama pintu kamarnya terbuka lebar, tampak seorang laki-laki tampan yang sudah berpakaian rapi datang masuk sambil membawa nampan yang berisi sarapan untuk Jessy.


"Steve." Seru Jessy melihat sang suami datang membawakannya sarapan.


"Selamat pagi, sayang." Steve tersenyum kepada Jessy.


"Tidak perlu repot-repot seperti ini, aku bisa sarapan dibawah."


"Aku tidak merasa direpotkan. Aku memang ingin membawakan sarapan untukmu disini. Dengan keadaanmu seperti ini, aku tidak tega melihatmu harus turun kebawah lagi."

__ADS_1


Jessy tersenyum dan menyentuh pipi Steve. "Terima kasih."


"Makanlah. Aku sudah membuatkan susu untukmu, habiskan." Perintah Steve.


Jessy mengambil sandwich yang berisi sayuran dan ikan tuna, ia melahapnya dengan santai tanpa terburu-buru. Ia pun sesekali meminum susu buatan suaminya itu.


"Kau jadi berangkat hari ini ?." Tanya Jessy setelah selesai mengunyah makanannya.


"Iya. Mungkin sekitar jam 10 aku dan Juan akan berangkat. Kau tidak apa-apa aku tinggalkan beberapa hari ?."


"Aku sudah katakan padamu tadi malam. Aku tidak apa-apa. Kau juga pergi karena ada urusan pekerjaan." Jessy menjawab sambil menggigit makanannya.


"Tapi aku tidak pernah pergi meninggalkanmu selama ini, aku kuatir kalau terjadi apa-apa denganmu nanti. Atau aku suruh Juan saja yang pergi sendiri kesana."


"Kenap tidak dirumah Papa Leo ?." Steve memindahkan nampan tersebut ketempat lain.


"Papa dan mama pergi keluar negeri melakukan perjalanan bisnis, sedangkan Alex dan Natalie pergi ke kota Perth menemuo orangtua Natalie disana." Jelas Jessy kepada suaminya.


"Aku akan mengantarkanmu kerumah papa, bersiaplah."


"Paman James yang akan mengantarkanku kesana, kau tenang saja. Sebentar, aku ke kamar mandi dulu." Dengan hati-hati Jessy berjalan menuju kamar mandi.

__ADS_1


Jessy membersihkan dirinya dengan air hangat dan beberapa detik kemudian ia merasakan sakit sebentar diperutnya. "Sakitnya datangnya lagi. Ini sudah yang ketiga kalinya." Jessy cepat-cepat mandi, ia juga tidak tahu kenapa rasa sakit itu datang, pikirannya tidak sampai ke persalinannya.


Selesai mandi, ia keluar dari kamar mandi dan melihat Steve sudah menyiapkan baju untuknya.


"Pakailah yang ini. Aku senang melihatmu dengan pakaian warna ini." Steve menyodorkan baju dress berwarna biru polos.


Jessy tersenyum dan meraih baju tersebut untuk dikenakannya. Ia ingin sekali memberitahukan Steve kan keluhan rasa sakitnya itu tapi diurungkannya karena rasa sakitnya juga hanya sebentar saja.


Lagi pula ia tidak mau membuat suaminya itu kuatir akan dirinya. Ia mau Steve pergi tanpa merasa kuatir terhadap dirinya.


Selesai memakai baju dan memberi sentuhan sedikit kewajahnya, Jessy menghampiri Steve yang akan siap berangkat.


"Aku akan mengantarmu sampai didepan." Ucap Jessy dengan tersenyum.


"Baiklah. Juan juga sudah menunggu dibawah." Steve menuntun dengan hati-hati tubuh Jessy karena akan menuruni anak tangga.


Sampai dibawah keduanya disambut dengan senyuman Juan yang sedari tadi menunggu Steve.


"Kalian hati-hati ya. Hubungi aku kalau sudah sampai." Tutur Jessy ketika sudah sampau di depan rumah.


"Aku pergi. Hubungi aku kalau terjadi sesuatu. Jangan melakukan banyak kegiatan yang akan membuatmu susah." Ucap Steve lalu mencium kening Jessy dan memeluk tubuh istrinya itu. Kemudian ia menundukkan badannya untuk mengobrol sebentar dengan anaknya yang masih didalam perut. "Papa pergi dulu ya. Jaga mama, kalau mama nakal, tendang saja perut mamamu." Steve mencium perut besar itu dengan kasih sayang.

__ADS_1


Lambaian tangan diberikan Jessy kepada Steve dan Juan yang sudah masuk kedalam mobil. Mobil yang membawa keduanya pun berlalu meninggalkan rumah tersebut.


__ADS_2