
Keesokan harinya Steve meminta Jessy untuk satu hari ini berkunjung kerumah orangtuanya. Ia tidak mau membuat Jessy khawatir terlebih merasa terancam mengingat Kimberly adalah wanita yang bisa dikatakan arogan.
Jessy pun dengan senang hati mengiyakan perintah dari suaminya itu tanpa membantah. Dirinya bersiap-siap didalam kamar, karena pagi ini ia akan diantar langsung oleh Steve.
Steve terpaksa berbohong kepada wanita yang sedang mengandung anaknya itu agar tidak merusak rencana bersam Sekretaris Juan. Jessy juga tidak terlihat mencurigai Steve, dirinya sudah kesenangan akan berkunjung kerumah orangtuanya.
"Kau sudah siap ?." Tanya Steve yang masuk kedalam kamar.
"Iya. Ayo kita pergi sekarang." Jessy meraih lengan Steve dan tak lupa ia mengambil tasnya yang berada diatas tempat tidur.
"Kau sangat antusias sekali jika pergi kerumah Papa Leo dan Mama Olive."
"Tentu saja, sudah lama aku tidak kerumah orangtuaku." Jawab Jessy santai.
Keduanya menuruni anak tangga dan langsung menuju luar rumah. Kali ini Steve menyetir sendiri mobilnya, ia tidak mau memakai supir pribadinya.
"Jessy. Apa kau tidak mau membelikan sesuatu untuk Papa dan Mama ?."
"Iya, benar juga. Apa ya yang bagus, Steve ?." Jessy mencoba memikirkan sesuatu untuk diberikan kepada orangtuanya.
"Kita singgah di supermarket dekat ujung jalan sana. Nnti sampai disana kau putuskan untuk membeli apa untuk mereka." Saran Steve yang tetap fokus menyetir.
***
Sampai di supermarket, mereka keluar dari mobil dan masuk kedalam pusat perbelanjaan tersebut. Steve mengambil salah satu troli untuk mengisi barang yang akan mereka beli.
"Kita beli bahan makanan saja dulu. Tiba-tiba saja aku ingin memakan kentang tumbuk buatan mama."
Steve tersenyum dan mengikuti istrinya itu dari belakanng. Jessy memilih beberapa jenis bahan makanan untuk dibawakannya kerumah orangtuanya itu. Walaupun ia tahu dirumah itu pasti ada saja bahan makanan tapi ia tidak mau merepotkan dan menghabiskan bahan makanan dirumah lamanya itu.
"Beli buah-buahan juga. Jangan banyak mengambil makanan ringan saja. Itu pasti untukmu bukan untuk Papa dan Mama kan ?." Ucap Steve yang melihat Jessy mengambil makanan ringan tanpa berhenti.
Jessy terkekeh mendengar ucapan Steve. "Aku ingin sekali mengemil makanan ringan bersama Papa dan Mama dirumah. Mereka pasti suka."
"Mereka yang suka atau kau yang sangat suka. Hah !." Cebik Steve.
__ADS_1
"Tentu saja mereka yang suka." Jawab Jessy tidak mau kalah.
"Hah. Terserah kau saja." Kesal Steve pada akhirnya.
Jessy tersenyum penuh kemenangan atas perdebatan mereka tadi. Ia tahu kalau suaminya tidak akan membantah lagi kalau ia masih menjawab.
***
Sekitat 30 menit waktu perjalanan mereka akhirnya sampai dirumah orangtua Jessy. Sudah lama Jessy tidak menginjaki kakinya dirumah ini, bukannya tidak mau datang tapi semenjak dirinya mengandung, ia memang mengurangi aktifitasnya diluar rumah. Kalau pun ia rindu dengan papa dan mamanya, ia hanya bisa menghubungi mereka melalui ponsel.
Suasana dirumah itu tidak berubah, terasa nyaman dimata Jessy. Tanpa menunggu lama, keduanya pun masuk ke dalam rumah besar itu.
"Selamat pagi." Teriaknya dengan santai.
Steve kaget mendengar suara teriakan Jessy, ia hanya menggelengkan kepalanya saja kalau menegur istrinya itu bakal menjadi perdebatan lagi nantinya.
Semua orang yang mendengar suara nyaring Jessy pun sontak berjalan menghampiri asal suara.
"Jessy." Suara lembut wanita paruh baya tapu tetap cantik itu menyapanya terlebih dahulu. Wajah Olive tersenyum saat melihat putrinya itu datang, ia langsung memeluk Jessy dengan hangat dan erat.
Olive melepaskan pelukannya dan mencium pipi Jessy, lalu memeluk menantu laki-lakinya itu. Papa Leo pun melakukan hal yang sama kepada anak-anaknya itu.
Disana juga ada kakaknya, Alex dan juga kakak iparnya, Natalie. Keduanya sudah dua hari berada dirumah tersebut untuk menginap karena rumah mereka masih dalam tahap renovasi.
"Wah. Perutmu sudah semakin besar saja." Alex menyentuh perut adiknya itu.
"Tentu saja semakin besar. Yang didalam perut ini sangat kuat makan."
"Dia yang kuat makan, atau kau yang kuat makan ?." Ledek Alex kepada Jessy.
"Kami berdua yang kuat makan. Puas." Gerutu Jessy yang sebal dengan Alex.
Alex tertawa melihat raut wajah adiknya itu yang jelas terlihat kesal kepadanya. Bukannya meminta maaf tapi Alex terus saja menertawai Jessy yang menurutnya sangat lucu jika lagi kesal.
Natalie memukul lengan Alex agar pria itu tidak tertawa lagi."Alex. Berhentilah tertawa." Seru Natalie lagi." Tidak usah memperdulikan kakakmu itu, Jessy. Ayo kita sarapan saja." Ajak Natalie lagi kepada Jessy dan yang lainnya.
__ADS_1
"Ma, Pa. Aku ada urusan pekerjaan diluar. Aku titip Jessy disini, kalau ada apa-apa hubungi saja aku atau Juan." Steve memberitahukan maksud kedatangannya kepada mertuanya.
"Kau tidak sarapan dulu, nak ?." Leo balik bertanya kepada Steve.
"Aku sudah sarapan dirumah tadi, Pa. Baiklah aku pamit pergi dulu ya. Jessy aku akan menjemputmu nanti." Steve mencium pipi Jessy lalu berpamitan kepada yang lainnya setelah itu pergi meninggalkan kediaman mertuanya.
***
Sebuah restaurant mewah tempat bertemunya Steve dan Kimberly, tempat yang sudah diatur oleh Sekretaris Juan dan beberapa anggota lainnya.
Steve yang menerima ajakan dari Kimberly itu untuk bertemu, berpura-pura tidak tahu siapa yang akan bertemu dengannya. Sesampainya di tempat itu, ternyata wanita yang pernah dicintainya itu sudah berada disana.
Senyum penuh arti diwajah Steve saat melihat Kimberly duduk membelakangi. "Kita lihat saja apa yang akan kau lakukan, Kimberly." Ucap Steve dengan pelan dan berjalan ke meja yang sudah dipesannya itu.
"Maaf membuatmu menunggu lama." Tutur Steve saat tiba ditempat Kimberly duduk. "Kimberly." Serunya lagi berpura-pura kaget.
"Halo, Tuan Anderson." Kimberly melepaskan kacamatanya yang berwarna cokelat.
"Kau !. Kau yang mengirimiku pesan beberapa hari yang lalu ?." Steve masih dengan aktingnya.
"Ya. Betul sekali. Kau terkejut melihatku disini ?."
"Sedang apa kau disini ? Dan kenapa kau ingin bertemu denganku ?." Steve bertanya dengan nada sedikit santai.
"Tidak perlu terburu-buru seperti itu, Steve. Kita pesan minum saja dulu, setelah itu aku akan menjelaskan kedatanganku." Senyum licik diwajah Kimberly.
Kimberly memanggil salah seorang pelayan direstaurant tersebut, kemudian memesan dua cangkir kopi.
"Steve. Aku sangat merindukanmu. Aku datang kembali hanya untuk menemuimu saja." Lontar Kimberly tanpa rasa malu.
"Kau tahu sekarang aku sudah memiliki Jessy. Kau merindukan suami orang lain, Kimberly." Jawab Steve yang bersandar pada kursinya.
"Aku tidak peduli kau milik Jessy atau bukan, Steve. Yang jelas saat ini aku ingin kau kembali padaku." Kali ini suara Kimberly sedikit meninggi.
"Oh. Ternyata ini tujuanmu. Baiklah aku ikuti alurmu, Kimberly." Batin Steve sambil menatap Kimberly dihadapannya.
__ADS_1