
Sementara Steve dan Cornelia berdebat, terdengar suara jeritan Jessy. Steve menoleh kearah Jessy yang sudah jatuh tersungkur ke jalanan, Steve menyusul dengan berlari cepat-cepat menghampiri Jessy. Ternyata sementara Steve dan Cornelia berdebat, saat itu juga sebuah minibus menabrak Jessy yang sedang menyebrang jalan.
Tubuh Jessy yang sudah tersungkur di jalanan dan bagian kepalanya mengeluarkan darah membuat Steve panik dan kuatir akan keadaan istrinya itu. Banyak orang yang berkerumunan di tempat kejadian, tapi binggung harus bagaimana. Tanpa meminta bantuan orang lain, Steve segera mengangkat tubuh Jessy dan membawanya ke mobilnya yang terparkir beberapa meter dari tempat kejadian.
Dengan kecepatan yang maksimal Steve melajukan mobil yang dikemudikannya itu agar cepat sampai di rumah sakit. Cornelia yang tampak gugup melihat darahr yang terus keluar dari bagian bawah Jessy, entah itu darah apa yang jelas Cornelia tidak tahu jika saat ini Jessy sedang hamil.
***
Jarak rumah sakit dari tempat kecelakaan yang Jessy alami lumayan jauh. Tapi karena Steve menyetir dengan kecepatan tinggi, akhirnya mereka pun sampai di rumah sakit. Steve keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah sakit mencari bantuan dari pihak medis, dan tak lama Steve keluar bersama 3 orang perawat berpakaian lengkap untuk membantunya mengeluarkan Jessy dari dalam mobil.
Jessy dibawa masuk ke ruang IGD terlebih dahulu untuk penangganan pertama dari Dokter. Sedangkan Steve yang tunggu diluar ruangan terlihat cemas dan beberapa kali dia mengusap wajahnya dengan kasar. Cornelia mendekati Steve yang sedang mondar mandir di depan pintu ruang IGD, inginnya menenangkan laki-laki yang disukainya itu.
__ADS_1
"Steve. Tenangkan dirimu, Nona Jessy akan baik-baik saja." Ucap Cornelia yang memegang pundak Steve.
"Kau menyuruh ku tenang Cornelia! Kalau terjadi sesuatu pada istri dan anakku aku harus bagaimana ?." Tukasnya dengan suara nyaring.
"Apa! Kau bilang apa barusan Steve ? Anak." Dahi Cornelia berkerut tajam.
"Ya anak. Jessy sedang hamil Cornelia. Kalau terjadi sesuatu aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri." Sesal Steve dan terduduk lemas dilantai rumah sakit.
Cornelia menjongkokkan badannya agar sejajar dengan Steve yang sudah terduduk itu dan dia mengusap kepala Steve yang tertunduk lemas dengan lembut menenangkan laki-laki itu.
"Kau menyalahkan Jessy, Cornelia! Kalau saja kau tidak bertingkah tidak tahu malu Jessy tidak akan seperti ini. Seharusnya yang disalahkan itu adalah kau Cornelia. Karena ulahmu kau membuat istri dan anakku seperti ini." Steve menimpali perkataan Cornelia dan menatap tajam wanita yang berjongkok dihadapannya itu.
__ADS_1
"Kenapa kau malah menyalahkan ku Steve!." Sahut Cornelia yang tidak terima jika dirinya disalahkan dan beranjak berdiri.
"Kau lupa apa yang kau ucapkab kepada istriku di parkiran tadi ? Jangan kira aku tidak mendengarkannya Cornelia." Seru Steve lagi yang ikut berdiri.
"Apa maksudmu. Aku tidak mengerti Steve." Terdengar suara Cornelia yang sedikit gugup.
"Apa perlu aku ulangi apa yang kau ucapkan kepada istriku Cornelia ?." Steve berjalan mendekati Cornelia yang sedikit menjauh darinya itu.
Cornelia terlihat gugup dan salah tingkah karena dia sendiri pun juga bersalah kalau seandainya tadi dia tidak mengucapkan kata-kata itu, mungkin saat ini Jessy akan baik-baik saja. Melihat kemarahan Steve pada dirinya sudah jelas membuktikan bahwa Steve mencintai Jessy, istrinya itu.
***
__ADS_1
Saat ini Jessy sudah dipindahkan keruang rawat inap, namun Jessy belum sadar. Dan orangtua Jessy juga orangtua Steve pun juga sudah ada di rumah sakit itu, mereka semua dihubungi Steve ketika Jessy masih ditangani oleh Dokter di ruang IGD.
Mereka terlihat cemas dan merasa sedih atas musibah yang dialami Jessy terlebih lagi saat Dokter menjelaskan jika Jessy mengalami keguguran akibat kecelakaan yanh menimpa dirinya.