Terlambat Mencintaimu

Terlambat Mencintaimu
Rencana


__ADS_3

"Kau sudah melacak nomor yang ku kirimkan kepadamu semalam, Juan ?." Tanya Steve saat kedua masuk kedalam ruang kerja Steve.


"Sudah, Tuan. Ini laporannya." Sekretaris Juan memberikan selembar kertas putih kepada Steve.


Ketika duduk dikursinya, Steve langsung membuka selembar kertas tersebut dan membacanya secara detail isi dari kertas itu.


Steve menarik salah satu sudut bibirnya, saat tahu siapa orang yang mengiriminya pesan kemarin. "Kau benar-benar wanita yang tidak tahu malu rupanya. Aku akan mengikuti permainanmu, KIMBERLY." Batinnya sambil menatap kertas tersebut.


"Tuan, apakah perlu saya menemui wanita itu ?." Tanya Sekretaris Juan.


"Tidak perlu, Juan. Kita ikuti saja apa yang mau dilakukannya di kota ini."


"Baik, Tuan. Saya akan tetap menyuruh orang untuk mengawasi wanita itu."


Steve menganggukan kepalanya tanda setuju dengan ucapan Sekretaris Juan. Lalu mereka pun melanjutkan kembali pekerjaan mereka, ada beberapa berkas yang harus diperiksa oleh Steve sebelum mengirimkan berkas tersebut kepada yang menanggani.


Sementara itu, Lanny datang masuk kedalam ruangan Steve. Ia menyampaikan jika Tuan Brian, ayah Steve sedang datang berkunjung ke perusahaannya.

__ADS_1


"Selamat pagi anak-anak." Sapa Brian begitu masuk ke dalam.


Sekretaris Juan menundukkan kepalanya memberi hormat kepada Brian. "Selamat pagi juga, Tuan."


"Selamat pagi, Pa." Balas Steve yang menghampiri papanya itu.


"Sudah lama papa tidak berkunjung kesini. Apa kalian baik-baik saja ?." Brian mendudukkan tubuhnya diatas sofa yang suda tersedia.


"Seperti yang papa lihat. Kami semua sangat baik."


"Juan. Bukankah gadis yang tadi adalah kekasihmu ?." Tiba-tiba Brian menyeletuk dan mengalihkan pandangannya kepada Juan yang sedang berdiri.


"Bu-bukan, Tuan. Dia hanya teman kerja disini. Tidak lebih." Jawab Sekretaris Juan yang gelagapan.


"Tidak perlu menyangkal seperti itu. Kau pikir papa bodoh, sudah berapa kali ini papa melihatmu sedang bersamanya." Tutur Brian lagi. Memang selama ini sudah beberapa kali ia melihat Juan, putra angkatnya itu bersama dengan Lanny hanya ia tidak mau membicarakannya.


"Darimana Papa Brian tahu !." Batin Sekretaris Juan. "Aku tidak menyangkalnya, tapi kenyataannya memang seperti itu." Seru Sekretaris Juan lagi.

__ADS_1


"Cepatlah menikah, nak. Untuk apa kau berlama-lama menyendiri seperti ini. Papa juga ingin melihatmu bahagia bersamma wanita pilihanmu. Apa kau tidak iri melihat Steve sudah beristri bahkan sebentar lagi punya anak ? Ingat usiamu sekarang, jangan lama-lama menyendiri." Ceramah Brian panjang lebar kepada putra angkatnya itu.


Sekretaris Juan hanya tersenyum saja kepada papa angkatnya itu, dirinya tak bisa lagi membantah jika sudah menyinggung soal pernikahan.


***


Sore harinya, Steve mengajak Sekretaris Juan untuk singgah di cafe yang biasa mereka kunjungi. Selain ingin meminum kopi favoritenya, ia juga bermaksud ingin membahas soal Kimberly kepada Sekretaris Juan.


Keduanya pun duduk di meja bagian sudut dekat dengan jendela yang agak besar, agar bisa melihat-lihat suasana diluar.


"Aku akan memenuhi keinginan Kimberly untuk bertemu, Juan. Kau siapkan tempatnya dan jangan lupa atur segala sesuatunya. Kita tidak tahu rencana apa yang dibuatnya untuk ku, jika ia ingin menjebakku, terlebih dahulu kita yang menjebaknya."


"Baik, Steve. Aku akan menyiapkan segala sesuatunya. Sungguh wanita itu benar tidak tahu malu sekali." Geram Juan yang tidak menyukai Kimberly dari dulu.


"Rasa ketidaksukaanmu padanya tidak berubah ya. Kau benar-benar membenci Kimberly." Tutur Steve yang tersenyum kecil sambil menyeduh kopinya.


"Kimberly bukan wanita yang baik-baik, Steve. Kelakuannya benar-benar membuatku muak, ia berani bermain-main dibelakangmu." Juan bercerita sambil mengingat-ingat kejadian dulu tentang Kimberly.

__ADS_1


"Tapi kita lupakan yang dahulu, sekarang kita akan melihat apa lagi yang dia lakukan saat ini. Ancaman papa waktu itu tidak membuat takut sama sekali rupanya."


__ADS_2