Terlambat Mencintaimu

Terlambat Mencintaimu
Maafkan Aku, Steve


__ADS_3

Laki-laki itu berjalan mendekati Lanny yang seperti orang ketakutan, namun ketakutan Lanny seketika sirna saat tahu siapa orang tersebut.


"Tuan Juan." Balasnya terkejut dan membelalakan kedua matanya.


"Sedang apa kau disini Nona Lanny ?." Tanya Sekretaris Juan yang sudah berdiri di depan Lanny.


"Aku sedang menunggu taksi disekitar sini Tuan. Tapi tidak ada yang lewat, jadi aku ingin berjalan sampai ke depan sana." Tunjuk Lanny kearah jalan raya.


"Masuk kedalam mobil. Aku akan mengantarkanmu pulang." Perintah Sekretaris Juan yang hampir melangkahkan kakinya kembali ke mobil namun terhenti saat mendengar penolakan Lanny.


"Ti-tidak usah Tuan. Aku akan naik taksi saja."


"Jangan banyak membantah. Cepat masuk kedalam mobil." Perintah Sekretaris Juan sekali lagi tapi kali ini nada sedikit kesal.


Lanny menganggukan kepalanya cepat menuruti perintah Sekretaris Juan. "Ba-baik Tuan." Sahutnya gugup lalu berjalan cepat masuk ke dalam mobil.


Dia ini terbuat dari apa sih ? Sebentar baik sebentar lagi dingin. Aku sungguh heran dengan orang seperti dia ini. Gumam Lanny saat Sekretaris Juan sudah masuk kedalam mobil.


***

__ADS_1


Sepulangnya Lanny dari rumahnya, Jessy duduk termenung diatas tempat tidurnya kembali mengingat semua ucapan yang Lanny lontarkan kepadanya. Tanpa sadar dia mengeluarkan airmatanya, kembali ia menangisi akan dirinya sendiri.


Sebenarnya dia juga sangat merindukan Steve, tetapi pikirannya kembali mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Rasa sakit dan kecewanya lebih besar dari rasa rindunya, terlebih lagi kehilangan anak yang dikandungnya.


Sementara Jessy menangis, pintu kamarnya pun terbuka. Olive berdiri diambang pintu memperhatikan putrinya itu, ditangannya ada nampan yang berisi segelas air dan beberapa obat untuk Jessy minum.


"Jessy." Panggilnya seraya berjalan mendekati putrinya itu.


Tangisan Jessy semakin nyaring saat tahu siapa yang datang ke kamarnya. "Mama." Jessy langsung memeluk Olive saat sudah duduk di dekatnya. Jessy memeluk erat wanita paruh baya disampingnya seakan dengan pelukan itu dia merasakan semua bebannya hilang. Buliran cairan bening itu membasahi baju yang Olive kenakan, perlahan tangan Olive mengelus lengan Jessy dengan lembut agar Jessy bisa tenang.


Olive membiarka Jessy meluapkan apa yang dirasakannya saat ini. Dirinya pun ikut bersedih karena tidak tega melihat penderitaan anaknya itu.


Jessy tetap diam tidak menyahuti ucapan mamanya itu, benar yang dikatakan oleh mamanya barusan. Tapi keegoisannya membutakan hati dan pikirannya untuk menyalahkan orang lain.


"Apa kau tidak merindukan suamimu, Jessy ?" Pertanyaan yang diberikan oleh Olive membuat Jessy melepaskan pelukannya. Olive yakin jika putrinya itu pasti merindukan suaminya selamanya.


"Kau tidak bisa membohongi dirimu sendiri Jessy. Kalau kau rindu dengan Steve temuilah dia nak. Jangan membuat dirimu tersiksa seperti ini. Dan kau harus tahu, Steve sangat merindukanmu." Tutur Olive lagi yang kemudian memberikan beberapa obat untuk Jessy minum.


Setelah memastikan Jessy meminum obatnya, Olive meninggalkan putrinya di dalam kamar. Membiarkan Jessy beristirahat dan menenangkan dirinya sendiri.

__ADS_1


***


Esok paginya, seperti biasa Steve datang kerumah mertuanya untuk melihat keadaan Jessy. Setelah memarkirkan mobilnya di halaman depan rumah Jessy, Steve melangkahkan kakinya menuju pintu rumah yang tidak tertutup rapat itu.


Dan disaat bersamaan, Jessy berlari keluar dari dalam kamarnya seperti orang yang takut kehilangan. Jessy berlari menuruni anak tangga dengan terburu-buru, dia pun tidak memperdulikan panggilan dari Olive maupun Leo yang kuatir melihat Jessy berlari seperti itu.


Jessy menarik gagang pintu depan rumahnya agar terbuka lebar, saat dirinya ingin melanjutkan langkahnya tiba-tiba terhenti karena melihat seseorang berdiri dihadapannya. Apakah ini kebetulan atau bagaimana, orang yang ada didalam mimpinya itu ada di depan matanya. Mimpi yang dialaminya membuat Jessy takut kehilangan Steve, untuk itu ia berlari keluar bermaksud mencari suaminya itu.


Bibir Jessy bergetar karena menahan airmatanya saat tahu Steve dalam keadaan baik-baik saja tidak seperti dalam mimpinya. Sedangkan Steve, laki-laki itu berdiri mematung menatapi Jessy yang menurutnya penampilan berubah. Tubuhnya semakin kurus serta wajahnya pun pucat tidak berseri seperti biasanya, bahkan kedua matanya terlihat bengkak akibat menangis terus-menerus.


Keduanya saling beradu pandang, diam tanpa bicaa sedikit pun sampai pada akhirnya Steve memberanikan diri menyebut nama istrinya.


"Je-Jessy." Ucapnya pelan dan terbata.


Tanpa diduga Jessy langsung menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan Steve. Cairan bening yang sudah tertampung dimatanya akhirnya jatuh mengenai pipinya. Jessy menangis dalam pelukan suaminya itu, wajah Steve pun bisa dilihat ada seulas senyuman bahagia yang dipancarkannya .


Keduanya pun saling berpelukan melepaskan kerinduan yang selama ini mereka simpan masing-masing. Sementara itu Olive dan Leo tampak tersenyum menyaksikan anak dan menantu mereka kembali seperti dulu.


"Maafkan aku, Steve." Ucap Jessy disela tangisannya. Karena mimpi buruk itu, Jessy melunakan hatinya sendiri. Dia tidak mau kehilangan orang yang dicintainya itu untuk kedua kalinya karena keras kepala dan keegoisannya sendiri. Jessy memeluk tubuh Steve erat-erat seakan tidak mau melepaskan suaminya itu. Aroma wangi tubuh Steve yang dirindukannya selama ini membuatnya nyaman dan betah berlama-lama dalam pelukan Steve.

__ADS_1


__ADS_2