
Jessy menyeringai lalu membalas menjabat tangan Elisa." Aku Jessy."
"Senang bertemu denganmu, Nona Jessy. Ayo kita makan bersama, dari tadi aku makan sendirian disini."
"Iya. Aku juga lapar, kita makan sama-sama." Jessy menarik salah satu kursi di meja makan lalu mengambil sendiri makanan yang sudah tersedia di meja itu.
Elisa masih tidak menyadari jika wanita yang bersamanya saat ini adalah majikan ibunya. Jessy sendiri juga diam dan tersenyum saja karena Elisa berpikir bahwa dirinya adalah anak Bibi Lusy.
Setelah selesai makan, Jessy hendak naik keatas namun dihentikan oleh Elisa yang meminta untuk menemaninya mengobrol. Jessy berpikir sejenak lalu mengiyakan ajakan Elisa tersebut.
Mereka mengobrol diruang tengah yaitu ruang keluarga, Jessy hanya memperhatikan wanita yang dihadapannya itu sesekali menjawab apa yang ditanyakan oleh Elisa kepadanya.
"Sudah berapa lama kau tinggal disini, Jessy ?." Tanya Elisa sambil melihat sekeliling ruangan tersebut.
"Hm .. sudah lama."
"Wah. Enak sekali, kau sudah lama tinggal disini. Pasti nyonya dan tuan dirumah ini sangat baik kepadamu."
"Mereka memang orang yang baik.Kalau tidak baik, Ibumu tidak akan tahan kerja disini."
"Benar juga katamu. Ibuku juga pernah bercerita kepadaku jika yang majikannya adalah orang yang sangat baik. Tidak membeda-bedakan orang. Ah, aku jadi tidak sabar ingin bertemu mereka."
"Nanti kau juga akan tahu mereka. Oh ya, kata bibi Ana kau ingin mencari pekerjaan di kota ini ?."
__ADS_1
"Iya. Aku melamar pekerjaan di Perusahaan Advent bagian komunikasi. Aku mengambil jurusan komunikasi waktu kuliah, untuk itu aku melamar di Perusahaan tersebut. Besok aku akan diwawancarai, doakan aku agar aku bisa diterima, Jessy." Elisa memegang tangan Jessy untuk meminta dukungan.
"Semoga kau diterima kerja di Perusahaan itu, Elisa."Ucap Jessy yang mengelus lengan Elisa.
"Bagaimana denganmu ? Apa kau bekerja atau sedang menempuh pendidikan saat ini ?." Tanya Elisa.
"Aku. Hm." Jessy binggung harus menjawab bagaimana kepada Elisa. " Aku. Aku saat ini sedang bekerja dari rumah saja, karena tempat kerja sangat jauh, Elisa."
"Kau sudah bekerja rupanya. Semoga aku juga sama sepertimu." Harap Elisa.
Mereka berdua mengobrol begitu asyik dan seperti sudah akrab. Dan obrolan mereka berakhir saat Bibi Ana datang menghampiri keduanya diruangan tamu itu.
Bibi Ana kaget karena anaknya itu tidak sopan kepada majikannya. Entah apakah anaknya tahu jika yang disampingnya itu adalah majikan ibunya.
Jessy tersenyum menggelengkan kepalanya saat melihat kepergian Elisa dan Bibi Ana."Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana wajahnya saat tahu tentang ku." Jessy tertawa kecil lalu pergi menuju kamarnya diatas.
***
Di Perusahaan, pertemuan Steve dengan klien yang sudah selesai 15 menit yang lalu membuahkan hasil yang sangat memuaskan.
Karena mendapatkan kesepakatan yang diinginkan, maka Steve pun mengajak Juan dan Lanny untuk pergi bersantai di sebuah cafe sambil minum kopi.
"Kalian berdua ikutlah denganku sekarang." Ajaknya yang kemudian berjalan keluar ruangan.
__ADS_1
Lanny tidak banyak bicara atau pun membantah ajakan tersebut. Ia dengan cepat mengambil tas nya yang berada diatas meja lalu berjalan mengikuti kedua laki-laki tersebut.
Mereka bertiga masuk ke dalam lift khusus, sambil menunggu mencapai lantai basement, Steve teringat kembali kepada Corry Sebastian.
"Juan. Hubungi pihak agensi naungan kita,sekarang. Perintahnya tanpa menoleh kearah Juan.
Juan mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi penanggungjawab agensi tersebut. Tak butuh berapa lama, panggilan tersebut pun tersambung.
"Halo." Terdengar suara dari dalam ponsel tersebut.
Juan hendak menjawab namun benda pipih tersebut segera diambil oleh Steve.
"Tuan Kennedy. Aku tidak mau mendengar kau membantah perintah ku saat ini." Ucapnya langsung.
Sekretaris Juan yang sudah mengerti nada bicara Steve yang berubah hanya meliriknya saja dan diam.
"Ada apa, Tuan Steve ?."
"Aku ingin kau memblacklist semua kontrak Corry Sebastian. Tidak perlu kau tahu kenapa aku memerintahkanmu melakukan ini."
"Corry Sebastian ! Baik, Tuan Steve. Sesuai perintahmu."
Lalu Steve mematikan panggilan itu dan menyerahkan ponsel tersebut kepada Juan. Lanny yang mendengar hanya menelan salivanya saja, ia yang tahu karakter dan sifat boss nya itu bisa melakukan apa saja kalau membuatnya kesal dan marah.
__ADS_1