
Setibanya, Sekretaris Juan langsung bertemu dengan Steve. Tampak atasannya itu sedang duduk melamun sambil melihat kearah luar jendela. Tatapannya yang kosong mewakili perasaannya yang saat ini sedang sedih.
Sudah hampir dua minggu ini Steve tidak tinggal bersama dengan Jessy. Rasa kerinduannya terhadap istrinya itu selalu menghiasi hari-harinya dirumah. Steve menghela nafasnya dengan berat kemudian memijat pangkal hidungnya, memikirkan masalah yang dihadapinya saat ini begitu menyiksa akan dirinya sendiri.
"Tuan." Tegur Sekretaris Juan yang sedari tadi sudah berdiri di dekat pintu, memperhatikan atasannya itu.
Steve menoleh kearah Sekretaris Juan dan tersenyum getir kepada sekretaris pribadinya sekaligus merupakan teman kecilnya itu. "Kau sudah mengantarkan Cornelia pulang, Juan ?". Pertanyaan pertama yang dilontarkan oleh Steve.
Sekretaris Juan menganggukan kepala."Sudah Tuan. Dan Nona Cornelia menitipkan ini." Sekretaris Juan menyerahkan sebuah amplop putih kecil kepada Steve.
Steve mengambil surat itu dari tangan Sekretaris Juan namun tidak langsung memmbacanya tapi menaruhnya di atas meja. Karena saat ini dirinya dilanda tidak bersemangat, untuk datang ke perusahaan saja karena terpaksa.
"Juan. Tolong panggilkan Nona Lanny sekarang." Perintahnya setelah mendapatkan ide.
"Baik Tuan." Tidak ada bantahan dari Sekretaris Juan. Dia pun beranjak melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Steve.
***
Setelah beberapa menit kemudian Sekretaris Juan datang yang diikuti oleh Lanny dibelakangnya. Wanita itu merasa takut dan canggung setiap bertemu dengan si pemilik perusahaan walaupun dirinya sering bertemu baik di perusahaan maupun di rumah.
__ADS_1
Sekretaris Juan memberi kode kepada Lanny agar maju lebih sedikit ke depan menghadap Steve. Lanny yang terlihat gugup diantara dua orang laki-laki yang tersebut.
"Se-selamat siang Tuan." Sapanya gugup kepada Steve yang sedang berdiri menghadap luar jendela.
"Duduklah Nona Lanny."
Lanny kembali melihat Sekretaris Juan yang berdiri di sampingnya, seolah meminta persetujuan juga dengan laki-laki itu. Sekretaris Juan menganggukan kepalanya tanda agar Lanny menuruti perintah atasan mereka itu. Kemudian Lanny melangkahkan kakinya menuju sofa yang ditunjuk oleh Steve tadi.
Bersamaan dengan Steve, Lanny pun duduk di sofa dengan kecanggungannya. Berbagai pertanyaan bersarang didalam pikirannya. Kenapa dirinya dipanggil ? Apa ada yang salah dengannya ? Kenapa dua orang laki-laki ini begitu dingin kepada orang lain ?.
"Nona Lanny. Aku ingin meminta tolong kepadamu." Ucap Steve yang memecahkan keheningan yang sempat tercipta.
Lanny sedikit terkejut, karena selama bekerja di Perusahaan ini baru kali ini dia melihat Steve meminta tolong kepadanya. "Minta tolong apa Tuan."
Kening Lanny berkerut tanda tidak mengerti ucapan atasannya itu, ada apa dengan Jessy sekarang. Perasaannya mulai tidak tenang, dia menelan salivanyanya. "Maaf Tuan. Saya tidak tahu. Apa yang terjadi dengan Jessy, Tuan ?." Seru Lanny yang penasaraan.
Steve memajukan tubuhnya mengambil posisi duduk yang nyaman kemudian menjelaskan semua yang terjadi beberapa waktu yang lalu kepada Lanny secara detail. Lanny terlihat sedih saat mendengar jika sahabatnya itu mengalami keguguran karena tabrakan yang dialaminya.
Kenapa kejadian buruk ini dia tidak tahu, bahkan jika saat ini Steve tidak memanggilnya dan menceritakan semuanya mungkin dirinya tidak akan pernah tahu apa yang dialami Jessy sekarang ini.
__ADS_1
"Aku meminta tolong kepadamu untuk menjenguk Jessy dirumahnya. Mungkin dengan adanya kau disana, Jessy akan berbicara kepadamu Nona."
"Baiklah Tuan. Sepulang kerja nanti, saya akan kerumah Jessy." Ucap Lanny yang masih dirundung rasa bersalah karena tidak tahu masalah yang menimpa sahabat sekaligus teman sekerjanya dulu.
***
Sepulangnya kerja, Lanny menjenguk Jessy dirumahnya. Walaupun hari sudah semakin sore tapi tidak membuat wanita itu menunda untuk bertemu dengan sahabatnya. Sampai dirumah Jessy, Lanny menekan bell rumah yang terpajang disamping pintu rumah.
Setelah satu menitan menunggu, pintu dibuka oleh wanita paruh baya yang tersenyum kepadanya yang tak lain adalah Olive mamanya Jessy.
"Selamat sore bibi." Sapa Lanny dengan sopan.
"Lanny. Masuklah nak." Olive mempersilahkan Lanny masuk ke dalam. Ini kali ketiganya Lanny datang berkunjung ke rumah orangtua Jessy.
"Bibi maafkan Lanny. Lanny baru mengetahui apa yang menimpa Jessy, bibi."
"Tidak apa-apa Lanny. Jessy ada di dalam kamarnya. Pergilah melihatnya disana." Ucap Olive yang menyuruh Lanny.
"Terima kasih bibi. Lanny keatas dulu menemui Jessy." Lanny melangkahkan kakinya menuju kamar Jessy yang terletak diatas.
__ADS_1
Lanny sudah berdiri di depan pintu kamar Jessy, sebelum dirinya masuk Lanny menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan. Lanny mengetuk pintu kamar Jessy satu kali kemudian membuka pintu dengan berhati-hati.
Pintu kamar terbuka sedikit lebar dan ia mendapati Jessy sedang baring diatas tempat tidur. Merasa tidak enak mengganggu sahabatnya itu sedang beristirahat tapi ia tetap melangkahkan kakinya ke tempat tidur setelah menutup pintu kamar kembali.