Terlambat Mencintaimu

Terlambat Mencintaimu
Burung Hantu


__ADS_3

Dalam Perjalanan pulang, Jessy memberitahukan kepada Steve tentang Elisa yang akan bekerja di Perusahaan Papa Leo. Steve mengangguk setuju atas apa yang dilakukan oleh wanita itu.


Jiwa kepedulian Jessy sangat besar, ia adalah tipe orang yang tidak tega dan cepat merasa kasihan tetapi jika kesabarannya diuji dan melampaui batas, sang merpati itu akan berubah menjadi singa betina yang buas.


Steve sendiri sudah pernah melihat bagaimana istrinya bertindak saat sedang marah besar. Steve tidak mau itu terulang lagi.


"Besok ia sudah mulai bekerja disana ?." Tanya Steve.


"Iya. Papa menyuruhnya untuk datang besok. Karena posisi yang lagi dibutuhkan memang kosong dan harus secepatnya di isi."


"Semoga Elisa bekerja dengan baik disana." Harap Steve.


"Pasti. Aku sudah memintanya untuk bekerja dengan baik disana, karena kesempatan ini tidak akan datang untuk kedua kalinya." Jawab Jessy penuh yakin.


***


Kedatangan mereka dua dirumah disambut hangat oleh Nico yang sedang bermain di teras rumah bersama Bibi Lusy.

__ADS_1


Nico kesenangan menyambut kedua orangtuanya itu, ia berlari kecil meminta gendong kepada Mama nya.


"Anak Mama yang pintar. Maaf ya, Mama pergi lama." Jessy mencium pipi gembul Nico dengan gemas.


"Ma-ma-ma-ma."Balasnya kegirangan dipelukan Jessy.


"Kenapa bobot tubuhmu semakin hari semakin berat saja, Nak. Mama tidak kuat menggendongmu lama-lama. Nico sama Papa ya." Jessy memberikan Nico kepada Steve yang berdiri disampingnya.


Jessy sengaja menyerahkan Nico kepada Steve karena bukannya tidak kuat menggendong putranya itu tapi karena ia merasa badannya masih pegal dan sakit akibat latihan bela diri.


"Sayang anak Papa."Sambut Steve yang mengambil ahli tubuh mungil itu.


"Sayang. Pergilah bersihkan dirimu, biar aku yang menjaga Nico." Tutur Steve setelah ketiganya masuk ke dalam kamar.


"Oke."


Jessy pun meletakan tas yang dibawanya dan melepaskan sepatunya terlebih dahulu sebelum ia masuk ke dalam kamar mandi. Steve dan Nico, kedua laki-laki itu berpindah tempat yaitu ke kamar Nico.

__ADS_1


Sembari menunggu Jessy selesai mandi, kedua asyik bermain diatas tempat tidur yang ukurannya tidak besar. Mereka bermain dengan diselingi canda tawa terlebih suara tawa yang diciptakan oleh Nico, memiliki ciri khas tersendiri. Semakin Steve membuat putranya itu tertawa semakin pula suara tawa Nico terdengar nyaring.


Dan karena kelelahan bermain dengan Papanya, Nico menguap tanda ia sudah mengantuk, padahal sekarang baru pukul 5 sore. Sebelum putranya benar-benar memejamkan mata, Steve menyiapkan botol susu untuk Nico.


Semuanya sudah lengkap di dalam kamar tersebut, Steve mengambil satu plastik kantong yang berisi ASI lalu menghangatkannya terlebih dulu sebelum diberikan kepada anaknya.


Tak butuh waktu lama, botol susu itu pun di isi ASI yang sudah hangat. Steve memberikannya kepada Nico dan dengan lahap Nico menyedot botol susunya. Semakin air ASI disedot, semakin pula kedua mata anak laki-laki itu sayup-sayup.


Dan akhirnya pun, Nico terlelap dalam tidurnya sambil memegang botol susunya. Pelan-pelan Steve mengambilnya agar tidak membangunkan Nico, dan saat bersamaan Jessy pun datang.


"Dia sudah tidur ?." Tanya nya begitu sampai di dekat mereka.


"Iya. Mungkin kelelahan."


"Ya sudah. Mandilah, biar aku yang mengurusnya."


Steve bangkit dari tempat tidur, tapi sebelum ia pergi meninggalkan istri dan anaknya. Ia sempat berbisik kepada Jessy.

__ADS_1


"Setelah Nico, kau harus mengurusku juga nanti. Jangan lupa memakai Lingerie berwarna hitam." Bisiknya menggoda istrinya itu lalu berjalan meninggalkan Jessy yang berdiri mematung sambil menatapnya pergi.


"Dasar Burung Hantu. Selalu saja tidak mau ketinggalan." Umpat Jessy.


__ADS_2