Terlambat Mencintaimu

Terlambat Mencintaimu
Hanya Kita Berdua


__ADS_3

Jessy dibuat terperangah atas penjelasan Steve barusan, walaupun ia sudah pernah mendengar kata-kata ini namun kali ini menurut Jessy sangat berbeda sekali. Dia pun tidak menyela perkataan Steve, ia tetap diam sambil menatap suaminya itu.


"Malam ini, aku berjanji akan selalu menjagamu, melindungimu dari apapun, selalu mempercayaimu dan hatiku selalu mencintaimu, Jessy." Tutur Steve melanjutkan bicaranya.


Suasana hening pun terjadi, Jessy berusaha mencerna dengan baik setiap perkataan Steve barusan. "Apa kau bersungguh-sungguh, Steve ?." Jessy memperhatikan kedua manik mata Steve lekat-lekat untuk memastikan apakah laki-laki dihadapannya itu berbohong atau tidak.


Steve pun menatap wajah Jessy terutama dikedua mata istrinya itu, lebih menyakinkan Jessy agar percaya omongannya karena memang Steve berkata sungguh-sungguh.


"Percayalah padaku, aku selalu memegang tiap perkataanku termasuk hari ini kepadamu, Jessy. Aku hanya mencintaimu, hanya kau Jessy." Tekannya menyakinkan Jessy.


"Kau tahu Steve, dari dulu aku sangat mengagumimu bahkan mencintaimu. Aku sempat berpikir, apa aku salah mencintaimu karena melihat sikap dinginmu terhadapku." Imbuhnya yang tersenyum kecut karena mengingat kejadian-kejadian waktu dulu.


"Dan sekarang apa kau merasa bersalah sudah mencintaimu, Jessy." Sahut Steve yang mempertanyakan ulang perasaan Jessy.


"Sekarang aku semakin mencintaimu, Steve. Aku tidak mau kehilangan dirimu." Jawabnya tegas lalu memeluk Steve tiba-tiba.


Mendapat pelukan dari Jessy, Steve pun membalasnya dan beberapa kali mencium puncak kepala Jessy. "Hanya akan ada kita berdua saja, Jessy. Kau dan aku akan bersama selamanya." Ucap Steve penuh keyakinan dalam memeluk Jessy.


***


Malam semakin larut tapi orang-orang di Kota Paris masih berlalu lalang dijalanan tanpa memperdulikan suasana malam yang semakin dingin. Steve melihat arloji di pergelangan tangannya dan waktu pun sudah pukul 9 malam.

__ADS_1


"Ayo kita kembali ke hotel. Udara malam semakin dingin." Ajaknya kepada sang istrinya yang masih menikmati sis kentang goreng.


"Ehm .. baiklah." Jessy pun mengikuti Steve yang sudah berdiri.


"Kemarikan tanganmu." Pinta Steve tanpa melihat kearah Jessy.


"Untuk apa kau meminta tanganku."


"Kemarikan saja, jangan cerewet." Steve menarik paksa tangan Jessy lalu mengeratkan jari-jari tangannya di jari-jari Jessy.


Jessy pun tersenyum mendapatkan perlakuan manis dari suaminy itu. Sungguh indah malam ini terlebih berada di Kota romantis seperti ini, pikirnya.


"Terima kasih karena sudah mengajakku jalan-jalan, Steve. Aku senang sekali."


"Apapun yang kau minta selama kita disini, aku akan melakukannya untukmu."


" Benarkah ? Kau tidak bohong." Seru Jessy mempertanyakan ucapan Steve.


"Ehm." Steve menganggukan kepalanya sambil melihat Jessy.


"Kau sendiri yang mengucapkannya, jangan sampau kau mengingkarinya Steve." Terlihat senyum usil diwajah Jessy.

__ADS_1


Namun Steve cepat memperbaiki ucapannya tadi takut Jessy mengambil kesempatan untuk mengerjai dirinya." Tapi tidak untuk melakukan hal yang aneh-aneh."


Kenapa dia bisa membaca pikiranku ? Padahal tadi aku ingin mengerjai dirinya setelah sampai di kamar. Batin Jessy yang merasa kesal.


Tidak lama pintu lift terbuka, mereka berdua pun berjalan keluar menuju kamar mereka. Sampainya, Steve membuka pintu kamar hotel kemudian masuk kedalam dan susul Jessy dari belakang.


"Ah, aku lelah sekali." Seru Jessy setelah merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur yang empuk.


Sementara Jessy sedang asyik tidur terlentang diatas tempat tidur, tiba-tiba Steve pun menimpakan tubuhnya diatas tubuh Jessy tanpa menyakiti istrinya itu. Jessy terkesiap atas tindakan Steve yang secara tiba-tiba tersebut.


"Sedang apa kau diatasku, Steve ?." Tanyanya yang terlihat gugup.


"Untuk apa lagi kalau bukan untuk melakukan sesuatu." Balasnya dengn menarik salah satu sudut bibirnya.


"Ma-maksudmu apa ? Melakukan apa Steve ?." Jessy sudah mulai merasakan hawa-hawa memanas oleh Steve.


Steve masih tetap pada posisinya namun dia mengarahkan mulutnya di daun telinga Jessy, yang menyebabkan Jessy terasa geli akibat hembusan nafas Steve.


"Melakukan apa lagi, kalau bukan yang itu. Aku menginginkannya." Bisik Steve dengan lembut.


Mendengar itu pun wajah Jessy terasa panas, sejak beberapa minggu tidak bertemu Steve dan bahkan melakukan hal seperti itu, memang membuat dirinya merindukan sentuhan dari suaminya. Tapi kenapa malam ini dirinya terlihat gugup dan merasa malu sendiri.

__ADS_1


__ADS_2