Terlambat Mencintaimu

Terlambat Mencintaimu
Oh Cornelia


__ADS_3

"Cornelia. Aku tidak mau mendengar bantahan lagi. Aku mohon dengar perkataan papa ku." Timpal Steve." Juan. Tolong antarkan Cornelia pulang." Perintah Steve dan Juan pun mengiyakan perintah tersebut.


Sekretaris Juan membawa Cornelia keluar dari ruangan sekaligus mengantarkannya pulang. Di dalam ruangan masih ada Brian, kedatangannya itu hanya ingin berkunjung melihat putranya bekerja tapi disaat yang bersamaan ada Cornelia di sana.


"Untuk apa di kemari Steve !." Tanya Brian tanpa basa basi.


"Aku tidak tahu Pa. Aku sudah memintanya untuk tidak bertemu denganku lagi, tapi entahlah kenapa Cornelia masih tetap kesini."


"Ya sudah. Bagaimana dengan pekerjaanmu hari ini ?."


"Aku baru saja datang Pa, karena tadi pagi aku singgah dulu kerumah Papa Leo melihat Jessy sebentar." Ucapnya pelan seperti menyimpan kesedihan.


Brian menghela nafasnya kemudian menghampiri putranya itu."Papa tahu bagaimana perasaanmu saat ini. Tapi apa yang terjadi sekarang itulah adalah resiko dari perbuatanmu sendiri nak. Bagaimana kabar Jessy?."


"Keadaannya baik Pa. Tapi dia masih saja diam dan sering melamun. Mama Olive yang memberitahu Steve." Mata Steve terlihat sendu saat membicarakan keadaan istrinya itu.


"Papa dan Mama rencananya sore nanti akan kerumah Leo. Ada yang ingin Papa bahas dengannya sekaligus menjenguk Jessy. Apa kau mau ikut ?". Tanya Brian yang menawarkan ajakan tersebut.


Sejenak Steve diam, dia berpikir seandainya dia ikut kesana dan bertemu dengan Jessy takutnya Jessy akan semakin membenci dirinnya. "Sebaiknya Steve tidak ikut Pa." Steve menolak ajakan Brian dan penolakan itu pun diterima baik oleh Brian.

__ADS_1


"Tidak apa-apa nak. Ya Sudah, Papa pergi dulu ya." Pamit Brian sambil menepuk pundak Steve pelan.


***


Sedangkan ditempat lain, terlihat Sekretaris Juan mengemudikan mobilnya dengan diam tanpa mengajak bicara pada wanita yang diantarkannya pulang itu. Cornelia pun sama demikiannya dengan Sekretaris Juan, dia duduk di kursi belakang duduk dalam diamnya dan melamun.


Sesekali tangannya mengusap pipinya yang basah karena airmatanya. Kembali ia mengingat kenangan dulu bersama dengan Steve, kedekatan mereka cukup dekat bahkan sering bersama tapi sejak hadirnya Kimberly dalam hidup Steve, dirinya jadi jarang bertemu dengan Steve.


Sempat tidak bertemu dalam satu tahun karena Steve terlalu fokus dengan kekasihnya itu. Dan saat dia tahu Steve tidak lagi bersama dengan Kimberly, ada harapan muncul di dalam hidupnya untuk kembali berdekatan dengan Steve. Tapi karena kesibukan dirinya juga, dia pun tidak bisa menyempatkan waktu untuk bertemu dengan Steve.


Sampai pada seminggu yang lalu, bertemu secara tidak sengaja di Kedai Coffee dekat dengan Villa keluarga Steve. Cornelia bisa ada disana karena memang orangtuanya tinggal di daerah itu. Kalau saja dirinya tidak datang Kedai itu, dia tidak akan bertemu dengan laki-laki yang dicintainya itu.


Yang dipikirkannya hanyalah perasaannya saja, ingin merebut Steve dari wanita manapun karena dirinya sudah tidak mau lagi mengalah. Dan saat Steve dan Jessy ingin pulang, Cornelia pun mencari kesempatan dengan itu agar bisa lebih sering bertemu dengan Steve. Bahkan saat Steve sudah pasrah mengizinkannya untuk ikut, terbesit dalam pikirannya untuk menggantikan posisi Jessy sebagai istri Steve.


Karena rasa cintanya kepada Steve sejak lama itu yang membuat dirinya hilang kendali dan tidak peduli dengan perasaan Jessy, yang dalam pikirannya saat itu adalah merebut Steve kembali. Rencananya belum berjalan ternyata ada kejadian yang diluar dugaannya, Jessy kecelakaan.


Cornelia juga baru tahu jika Jessy sedang hamil tiga bulan dan karena kecelakaan itu menyebabkan Jessy keguguran. Sebenarnya ada keuntungan bagi Cornelia, tapi wanita itu seolah disadarkan saat melihat Steve mengalami kesedihan mendalam dan terpuruk karena kondisi Jessy.


Dia melihat sendiri bagaimana laki-laki yang dicintainya itu seperti orang berputus asa tidak punya semangat hidup. Cornelia tersadarkan bahwa Steve sangat mencintai Jessy dan tidak mau kehilangan Jessy. Dia pun ikut merasa bersalah pula atas kejadian yang menimpa Jessy, kalau bukan karena omongannya waktu itu Jessy tidak akan seperti ini.

__ADS_1


Cornelia ingin meminta maaf kepada Steve dan seluruh keluarganya terutama kepada Jessy tapi dirinya terlebih dulu di suruh pergi oleh Steve. Beberapa kali dirinya berusaha bertemu dengan Steve tapi selalu saja berakhir tidak baik padahal dia berniat meminta maaf kepada semua orang.


Seperti saat ini, dirinya sudah dipandang buruk oleh Brian. Karena sudah seperti ini, akhirnya dia pun menyerah dan harus pergi tanpa meminta maaf secara baik-baik kepada Steve dan juga Jessy.


Cornelia menarik nafasnya dalam-dalam mencoba membuat dirinya tenang. Matanya yang dari tadi memandang keluar kini dialihkan kepada laki-laki yang sedang fokus menyetir itu.


"Tuan. Berhenti disini saja." Pintanya dengan nada sedikit parau.


"Tuan Steve menyuruhku untuk mengantarkan Nona sampai dirumah." Terdengar nada datar dan dingin yang dikeluar oleh Sekretaris Juan.


"Tidak usah Tuan. Turunkan aku disini saja." Pinta Cornelia lagi dengan memaksa.


Mau tak mau Sekretaris Juan menepikan mobilnya dan Corneli pun keluar dari dalam mobil yang diikuti oleh Sekretaris Juan. Cornelia datang mendekati Sekretaris Juan yang tidak berpindah pada posisinya itu.


"Tuan. Bisakah aku meminta tolong kepadamu ?." Tanya Cornelia penuh harap dan menatap Sekretaris Juan.


"Katakan Nona."


"Tolong berikan ini kepada Nona Jessy dan juga Steve, Tuan. " Cornelia mengeluarkan amplop warna putih dari tasnya dan kemudian memberikannya kepada Sekretaris Juan. "Terima kasih atas bantuanmu Tuan." Lanjutnya lalu melangkahkan kakinya melewati Sekretaris Juan yang masih diam.

__ADS_1


__ADS_2