
Keesokan paginya sekitar jam 8 pagi Steve dan Jessy memulai sarapan pagi mereka diruang makan yang cukup luas. Paman Lukas dan Bibi Sarah terlihat sedang menemani mereka berdua sarapan, sebenarnya ada rasa segan namun ajakan yang dipaksa Jessy membuat keduanya mau tidak mau bergabung bersama.
" Paman apa Nona Eva anaknya paman dan bibi ?". Pertanyaan yang dilontarkan Jessy memecahkan keheningan yang sempat tercipta.
Bibi Sarah dan Paman Lukas bersamaan menoleh kearah Jessy. " Iya Nona, apa dia melakukan sesuatu ?". Bibi Sarah yang menjawab namun bertanya kembali.
" Tidak bi. Dimana Nona Eva kenapa dia tidak sarapan bersama dengan kita?". Jessy memberikan senyuman kepada Bibi Sarah.
" Oh iya. Sebentar bibi akan panggil Eva kesini ". Tutur Bibi Sarah yang beranjak berdiri.
Beranjaknya Bibi Sarah dari kursinya bersamaan dengan itu Eva datang menghampiri mereka dimeja makan. Dengan tersenyum getir Eva menarik kursi yang berada disamping ayahnya, dia melihat sekilas Steve yang duduk disamping Jessy lalu menundukan kepalanya.
" Kenapa menunduk saja Nona, silahkan nikmati sarapanmu ". Tegur Jessy yang sedari tadi menatapi Eva.
" Terima kasih Nona ". Jawabnya lalu mengambil beberapa roti untuk dia makan. Kenapa aku tiba-tiba jadi gugup begini ya ? Nona Jessy sepertinya mengetahui jika aku mengagumi Tuan Steve. Gumamnya sambil menggigit roti ditangannya.
__ADS_1
***
Sebelum meninggalkan villa, Steve mengajak Jessy lagi jalan-jalan ke tempat yang belum sempat di datangi. Jessy dengan senang hati menerima ajakan tersebut karena dirinya pun tidak puas berkeliling kemarin dikarenakan langit yang mendung bertandakan akan turun hujan.
Sambil bergandengan tangan keduanya berjalan menelusuri tiap tempat. Mata Jessy benar-benar dibuat nyaman akan keindahan pemandangan di sekitar Villa keluarga Steve.
Sampai tempat terakhir mereka berdua berada di bibir pantai dengan pasir berwarna putih bersih serta air laut berhamburan membasahi pantai. Jessy yang sangat menyukai pantai begitu bergembira menikmati hembusan angin yang menerpa dirinya serta desiran ombak yang menyentuh telapak kakinya.
"Hm .. Steve, kalau kau tidak sibuk bisakah kita kembali ketempat ini ?". Tanyanya yang menoleh kesamping.
" Tentu saja bisa, lain waktu kita akan mengajak Juan dan juga Lanny. Kau setuju !".
Ditempat lain, Eva yang sedang memperhatikan majikan orangtuanya begitu merasa iri melihat kemesraan diantara keduanya. Kedua matanya tak henti-henti memperhatikan laki-laki yang wajahnya membuat dirinya kagum tersebut.
" Nona Jessy sungguh beruntung sekali memiliki suami seperti Tuan Steve. Seandainya aku yang berada diposisi Nona Jessy pasti akan lebih bahagia ". Tuturnya pelan sambil memandangi dua orang tersebut dari kejauhan.
__ADS_1
" Apa yang sedang kau pikirkan Eva ?". Tiba-tiba Bibi Sarah datang dan mengagetkan Eva. " Dan apa yang kau lihat dari tadi ? ". Lanjutnya yang berjalan menghampiri anak satu-satunya itu.
" Tidak ada bu ". Bantahnya yang bersamaan mengalihkan pandangannya kepada ibunya.
Namun Bibi Sarah tidak percaya begitu saja, dia melayangkan pandangannya mengamati sekeliling untuk mencari tahu sendiri apa yang putrinya sedari tadi lihat. Setelah melihat majikannya dari kejauhan, Bibi Sarah mengetahui siapa yang dilihat oleh putrinya itu.
" Ibu tahu kau pasti melihat kedua orang itu kan disana ". Serunya yang menunjuk kearah Steve dan Jessy.
Eva pun akhirnya jujur kepada sang ibu bahwa dari tadi dirinya sedang memandangi dua orang tersebut lebih banyak memandangi sang laki-laki dari pada yang wanita.
Bibi Sarah menarik salah satu sudut bibirnya saat tahu bahwa putrinya mengagumi laki-laki yang sudah beristri. " Eva, menyukai seseorang tidaklah salah hanya yang perlu kau pahami siapa yang kau sukai itu. Apa dia pria yang baik, pria yang masih lajang atau pria yang sudah beristri. Ibu tidak mau hanya karena kau mengagumi Tuan Steve kau melakukan hal yang bodoh dan mempermalukan keluarga kita, mereka sudah baik kepada Ibu dan Ayahmu nak. Jangan bertindak seperti kau wanita yang tidk berpendidikan, itu pesan ibu ". Sarah menyampaikannya dengan nada pelan dan membelai rambut anaknya itu.
Eva menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya pelan. " Iya bu. Aku hanya mengagumi Tuan Steve saja tidak lebih dari itu. Terima kasih bu untuk nasihatnya ". Ucapnya lalu memeluk tubuh wanita yang melahirkannya itu erat-erat.
Eva bersyukur ibunya selalu menasihati dirinya agar tidak melakukan kesalahan-kesalahan yang dapat merugikan orang lain maupun dirinya sendiri. Dia juga tidak mau membuat hati ibunya sedih karena perbuatannya yang tidak baik.
__ADS_1
" Percayalah suatu saat kau akan menemukan pria yang baik dan menyayangimu apa adanya nak ". Imbuh Sarah lagi sambil tersenyum.
Eva membalasnya dengan anggukan kepalanya, dirinya pun masih betah dala pelukan sang ibu karena pelukan dari ibunya membuatnya tenang dan nyaman.