
Tetapi tiba-tiba Jessy merasakan kepalanya sakit dan pandangannya pun menjadi kabur, dia tetap berusaha berjalan mengikuti langkah kaki suaminya, tapi dirinya tidak sanggup lagi dan tubuhnya pun terjatuh dilantai Mall tersebut. Steve membelalakan kedua matanya melihat istrinya jatuh pingsan di dekatnya secara tiba-tiba itu.
" Jessy, Jessy. Bangunlah." Serunya setelah mendekapkan tubuh Jessy di pelukannya.
Tidak ada jawaban, Jessy masih belum sadar. Sebagian orang yang melihat kejadian tersebut segera membantu Steve dan membawa Jessy ke bagian klinik kesehatan yang sudah tersedia di Mall tersebut.
Rasa cemas menyelimuti Steve, bagaimana tidak dari tadi istrinya itu terlihat baik-baik saja tapi kenapa tiba-tiba bisa pingsan.
Dia menunggu diluar ruangan dimana Jessy ditangani oleh pihak media yang sedang bertugas di klinik tersebut. Ada sekitar 30 menit, barulah seorang laki-laki yang mengenakan jas putih bersih keluar dari ruangan itu.
" Steve. " Panggil Dokter tersebut yang melihat Steve sedang duduk gelisah di kursi.
Steve segera menoleh kearah suara dan menemukan siapa yang memanggilnya tadi. " Kakak." Serunya melihat seseorang yang amat sangat dikenalnya itu.
Dokter laki-laki yang lebih tua 5 tahun dari Steve, merupakan kakak sepupu Steve dari keluarga mamanya. Kakak sepupu Steve yang bernama Jordan, berprofesi sebagai Dokter.
"Kak Jordan. Kenapa bisa ada disini ?." Tanya Steve yang heran lalu menghampiri Dokter Jordan.
"Kau sendiri, sedang apa disini ?." Tanyanya balik yang juga heran.
" Aku sedang menunggu istriku, kak."
" Orang yang didalam itu istrimu, Steve ? Itukah Jessy ?."
__ADS_1
Steve menganggukan kepalanya membenarkan orang didalam tersebut adalah istrinya, Jessy. " Iya Kak. Kenapa Kak Jordan ada disini ?."
" Ah. Aku menggantikan temanku yang berhalangan tugas di klinik ini. Aku terkejut kau ada disini, Steve. Dan aku juga tidak tahu jika wanita yang aku periksa di dalam tadi adalah istrimu. " Jelas Jordan kepada Steve. " Maaf, aku tidak sempat hadir waktu kau menikah." Sambungnya lagi menepuk pundak Steve dengan pelan.
" Tidak apa-apa kak. Kau juga sedang melanjutkan pendidikanmu, jadi aku memakluminya. Oh ya, bagaimana keadaan Jessy, Kak ? Dia baik-baik saja kan ?."
" Dia baik-baik saja, aku sarankan segera ke rumah sakit sekarang lebih tepatnya temui Dokter Kandungan, Steve. " Tutur Jordan dengan tersenyum.
" Dokter Kandungan ?." Ulangi Steve lagi dengan mengerutkan keningnya.
" Iya. Ini hanya dugaan ku saja. Aku rasa Jessy sekarang sedang hamil, Steve."
" Hamil !." Seru Steve yang mengulangi kata hamil.
Saat mereka masuk, terlihat Jessy sudah sadar dan sedang duduk bersandar di atas ranjang pasien. Sebuah senyuman Steve menyambutnya, atas saran dari kakaknya akhirnya Steve membawa Jessy ke rumah sakit terdekat.
Keduanya pun pamit kepada Jordan, lalu pergi meninggalkan klinik kesehatan serta Mall tersebut menuju rumah sakit terdekat.
***
Setibanya mereka berdua di rumah sakit, Jessy tampak masih binggung karena tidak mengetahui tujuan mereka ke rumah sakit untuk apa. Steve tampak diam namun wajahnya tetap tersenyum, dalam pikirannya masih terngiang-ngiang perkataan kakak sepupunya tadi.
Steve mengurus semuanya, mendaftar ke bagian kandungan dan setelah itu kembali menemui Jessy yang sedang menunggunya di kursi.
__ADS_1
" Steve. Kenap kita datang kesini ?." Tanyanya kepada suaminya itu yang duduk di sampingnya.
" Nanti kita akan memgetahuinya, Sayang. " Jawab Steve yang terdengar sedang merahasiakan sesuatu kepada Jessy.
Tidak ada pertanyaan lagi dari Jessy, seperti ucapan Steve barusan akan mengetahuinya nanti. Setelah menunggu sekitar 20 menit, akhirnya Jessy dan Steve dipanggil dan masuk ke dalam ruangan Dokter Kandungan.
Mereka berkonsultasi sebentar dengan Dokter Kandungan yang bernama Dokter Milly lebih tepatnya Steve yang lebih aktif bertanya dengan Dokter Kandungan tersebut.
Tanpa menunggu lama, Jessy pun diperintahkan Dokter Milly untuk baring diatas ranjang yang sudah tersedia. Seorang perawat sedang membantunya dan menuang cairan gel berwarna bening itu keatas perutnya bagian bawah.
Dokter Milly pun memulai pemeriksaannya dengan menaruh alat berbentuk bulat itu keatas tepat cairan gel berwarna bening itu dioleskan. Tak lama kemudian Dokter Milly pun tersenyum kepada Steve dan Jessy, karena ia menemukan sebuah janin kecil sedang tumbuh di dalam perut Jessy.
" Usianya sudah memasuki 4 minggu, Nona. " Ucap Dokter Milly memberitahukan kepada Jessy.
" Apanya yang 4 minggu, Dokter ?." Sahut Jessy yang tidak mengerti.
" Oh maaf, Nona. Saya lupa, selamat ya Nona hamil dan usia kandungan sudah memasuki 4 minggu. " Dokter Milly lebih menjelaskan secara detail kepada Jessy.
" Apa ! Saya hamil Dokter ?." Ulangi Jessy meminta pembenaran lagi kepada Dokter Milly.
" Iya Nona. Selamat Tuan Steve, istri Tuan hamil. " Kali ini Dokter Milly mengalihkan pandangannya kepada Steve.
Jessy yang masih dirundung rasa tidak percaya, terharu mendengar pernyataan dari Dokter Milly. Jujur saja, sejak kejadian dirinya mengalami keguguran, dirinya tidak lagi memikirkan punya keturunan yang terpenting baginya ialah mereka berdua bahagia, entah kapan dikaruniai seorang anak itu tidak masalah.
__ADS_1
Tapi dengan kejadian hari ini, ia tidak menyangka bahwa dirinya diberi hadiah oleh Tuhan. Janin yang baru usia 4 minggu sedang tumbuh di dalam perutnya. Ia pun menangis karena bahagia, Steve yang melihat istrinya sudah menangis pun datang mendekati Jessy.