
Jessy yang dibawa paksa oleh Steve menuju kamarnya dibagian atas membuatnya sedikit merasa aneh, kenapa tiba-tiba Steve menyuruhnya untuk tidur dikamarnya. Setibanya mereka di kamar atas, Steve langsung membuka pintu kamarnya dan menarik tangan Jessy lagi agar masuk kedalam kamar tersebut.
" Beristirahatlah, aku akan turun sebentar menemui Juan ". Perintah Steve kepada Jessy.
Jessy hanya menganggukkan kepalanya pelan karena dalam hatinya masih penasaran dengan keinginan Steve yang tiba-tiba ini. Setelah itu Steve keluar dan menutup pintu kamar lalu menuruni anak tangga untuk menemui Sekretaris Juan yang sedang duduk di sofa ruang tengah.
Di dalam kamar, Jessy melepas jaketnya dan langsung merebahkan dirinya diatas ranjang tidur Steve. Dia menatap disekeliling kamar Steve dan meraba-raba tempat tidur Steve yang empuk.
" Kenapa tempat tidurnya Steve lebih empuk daripada punyaku, ah curang sekali orang itu ". Gumamnya.
Sambil melihat seisi kamar Steve, lama kelamaan rasa kantuk yang dirasakan olehnya membuatnya segera memejamkan matanya dan terlelap dalam tidurnya siang itu.
Sedangkan diruang tengah Steve berbicara kepada Sekretaris Juan untuk menghandle perusahaan sementara waktu karena Steve akan lebih banyak menghabiskan waktunya dirumah bersama dengan Jessy walaupun nanti dia juga akan datang ke perusahaan.
Disela obrolan mereka mengenai perusahaan, Sekretaris Juan memberikan saran kepada Steve agar mempekerjakan 2 orang pembantu dirumahnya.
" Tuan, apa tidak sebaiknya Tuan mempekerjakan pembantu ditempat ini, agar memudahkan Tuan dan juga Nona Jessy ".
" Benar juga, tapi aku tidak ingin orang baru masuk kerumah ini Juan ".
" Kalau begitu, bagaimana jika 2 orang pembantu dirumah besar dipindahkan kesini saja Tuan ".
" Aku setuju, aku akan meminta Bibi Lusy dan Bibi Nat untuk bekerja dirumah ini, aku juga sudah mengenal mereka berdua, sebentar aku akan menelepon mama dulu ". Ucapnya yang mengambil ponselnya di kantong celananya.
Steve mencari nomor mamanya dan kemudian menekan ikon berwarna hijau untuk memanggil. Tak berapa lama terdengar suara sahutan di ponsel Steve, suara yang tak lain adalah suara mamanya. Tanpa basa basi Steve mengutarakan maksud dirinya menelepon sang mama, ada sekitar 10 menit Steve mengobrol dengan mamanya diponsel sampai akhirnya dia menekan ikon warna merah tanda mengakhiri panggilan.
__ADS_1
" Juan, bisakah kau menjemput mereka dirumah besar sekarang ". Pinta Steve saat mengakhiri obrolannya diponsel.
" Baik Tuan, aku akan kesana sekarang ". Jawab sigap Sekretaris Juan sambil menundukkan kepalanya.
" Oya, sekalian juga jemput teman Jessy yang kemarin dan bawa dia kemari agar Jessy tidak kesepian nanti saat kita pergi, kau sudah tahu kan alamat rumahnya ". Ucap Steve yang memberikan senyum ledekkan kepada Sekretaris Juan.
Sekretaris Juan tidak menjawab tapi memberikan kode anggukkan kepala kepada Steve. Kenapa senyuman Tuan Steve seperti itu ! Apa dia sedang menggodaku ! Gumamnya dalam hati.
***
Steve yang sudah naik keatas segera membuka pintunya pelan-pelan, pikirnya Jessy mungkin sudah tidur dan tidak mau mengganggunya. Dan betul saja Steve melihat istrinya itu yang terlelap dalam tidurnya dengan posisi miring membelakangi Steve yang baru saja masuk kedalam kamar.
Dengan hati-hati Steve menaikan selimut sampai ke pinggang Jessy, lalu setelah itu dia masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Dalam tidurnya Jessy mendengar suara air mengalir, perlahan dia membuka matanya dan menggeliat sebentar lalu mendudukkan tubuhnya diatas tempat tidur. Suara air yang terdengar dari dalam kamar mandi membuat tidurnya sedikit terganggu padahal dirinya masih ingin tidur.
Sembari dia memikirkan siapa yang berada didalam kamar mandi, tak lama pintu kamar mandi terbuka dan keluarlah Steve yang masih memakai handuk dipinggangnya dan sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Jessy membulatkan matanya dengan sempurna melihat tubuh Steve apalagi masih ada tetesan air dari rambutnya yang jatuh mengenai tubuh atletisnya.
" Steveeee ... ". Teriaknya sambil menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.
Mendengar namanya disebut membuat Steve sedikit terkejut tapi tidak mengubah posisinya yang masih berdiri ditempatnya.
" Kenapa kau belum memakai bajumu Steve ". Lanjut Jessy yang malu melihat Steve.
" Kenapa memangnya, dan sebentar ... kenapa cepat sekali kau bangun dari tidurmu ". Ujar Steve yang berjalan kesamping untuk mendekat kepada Jessy.
Jessy masih menutup matanya dan tidak tahu jika Steve sudah berada didekatnya. " Aku terbangun karena mendengarmu yang sedang mandi didalam sana ". Jawabnya menunjuk arah kamar mandi.
__ADS_1
" Lalu kenapa kau menutup wajahmu seperti itu ? ". Tanya Steve yang mendudukkan dirinya diatas tempat tidur pas dihadapan Jessy.
Jessy kaget karena merasakan gerakkan tubuh Steve yang sudah berada dihadapannya. " Aku malu melihatmu seperti itu ".
Mendengar alasan Jessy, Steve lalu tertawa kecil menggelengkan kepalanya melihat tingkah lucu istrinya tersebut. Lalu Steve menarik tangan Jessy agar tidak lagi menutup matanya tapi tetap saja walaupun tanganya sudah dipegang oleh Steve kedua mata Jessy masih terpejam.
" Buka matamu sekarang ". perintah Steve.
" Aku tidak mau ". Tolak Jessy lagi.
" Kalau kau tidak membuka matamu, aku akan ..... ".
" Apa, kau mau apa denganku ". Timpal Jessy langsung.
Steve tersenyum usil dan mengerjai Jessy. " Aku akan melakukan sesuatu seperti waktu itu ". Ucapnya yang memegang bahu Jessy dan perlahan menyentuh leher Jessy.
" Awas saja kau .... ". Gerutu Jessy yang mulai geli dengan sentuhan tangan Steve dilehernya.
" Makanya buka matamu sekarang, cepat ". Perintah Steve lagi.
Dengan ragu-ragu Jessy membuka kedua matanya, lalu tidak langsung menatap Steve tapi dia memalingkan wajahnya menghadap arah lain. Dengan gemas Steve langsung memegang kedua pipi Jessy dan mengarahkan wajahnya untuk melihat Steve. Setelah mereka berdua saling adu pandang, Steve belum melepaskan tangannya.
" Mulai sekarang kau harus terbiasa melihat ku seperti ini, oke ". Ucap Steve yang tersenyum nakal kepada Jessy lalu beranjak berdiri menuju kamar ganti.
Jessy menatap punggung Steve dari belakang dan menggerutu dengan sendirinya.
__ADS_1