Terlambat Mencintaimu

Terlambat Mencintaimu
Batal Pergi


__ADS_3

Sekretaris Juan masih ingat jelas bagaimana wajah Kimberly yang kesal terhadapnya, dia juga tidak habis pikir tentang wanita itu ancaman yang pernah ia lontarkan kepada Kimberly tidak di indahkan oleh wanita tersebut.


Sekretaris Juan menghela nafasnya lalu kembali fokus mengemudikan mobil yang mereka kendarai. Sempat tercipta suasana hening sebelum pada akhirnya keheningan tersebut pecah karena suara ponsel Steve yang berdering. Dengan malas Steve mengambil ponselnya yang ia taruh didalam saku bajunya.


Nomor baru ! Jangan-jangan Kimberly lagi. Gumam Steve yang menatap layar ponselnya lalu menggeser ikon warna hijau tanda menerima panggilan tersebut.


" Halo ". Ucapnya tegas.


" Ha-halo Tuan Steve ". Jawab Suara wanita yang tidak dikenali oleh Steve.


Namun bukan suara yang dikenalinya yang membalas ucapannya ditelepon melainkan suara wanita lain. Siapa yang meneleponnya saat ini.


" Tuan .. Aku Lanny, maaf Tuan Jessy tiba-tiba saja pingsan Tuan ". Lanjut Lanny ditelepon setelah sempat terjeda beberapa detik karena takut kepada Steve.


" Apa !". Teriaknya kaget dan menegakkan tubuhnya dikursi mobil.


Sekretaris Juan pun yang mendengar suara teriak Steve menoleh kebelakang untuk mengetahui apa yang terjadi.


" Kenapa bisa pingsan, bukankah tadi keadaanya baik-baik saja ". Lanjutnya lagi dengan nada gusar.


" Iya Tuan, tiba-tiba saja Jessy mengeluh kepalanya sakit dan pingsan ". Jawab Lanny lagi ditelepon.


" Segera bawa Jessy kerumah sakit Nona Lanny, aku akan menyusul kesana ". Imbuh Steve dan kemudian mematikan panggilan diponselnya.

__ADS_1


" Juan, putar balik kita tunda dulu pertemuan dengan klien kita disana karena Jessy tiba-tiba saja pingsan ". Ujarnya kepada Juan agar secepatnya kembali dan menuju rumah sakit.


***


Sekitar 1 jam kemudian Steve dan Sekretaris Juan baru tiba dirumah sakit. Dengan tergesa-gesa Steve lari masuk kedalam rumah sakit dan langsung menuju ruang dimana Jessy berada sesuai yang diberitahukan oleh Lanny melalui pesan diponselnya.


Pintu ruang dimana Jessy berada terbuka lebar dan orang-orang didalam melihat siapa yang membuka pintu tersebut. Tampak Steve dengan raut wajahnya yang cemas segera mendekati ranjang yang Jessy baringi.


Tangan Steve menyentuh wajah Jessy yang terlihat pucat dan tidur. Lalu tangannya turun meraih tangan Jessy dan digenggamnya sambil mendudukan tubuhnya dikursi yang berada disamping ranjang tersebut. Steve tidak memgeluarkan sepatah kata apaun, arah pandangannya masih setia menatap Jessy yang tertidur itu.


" Steve ". Mama Olive memanggilnya dan menyentuh pundak menantunya itu. " Kenapa kalian tidak memberitahukan kepada kami jika Jessy mengalami kanker otak ? ". Tanya Olive dengan nada gusar.


Steve tidak langsung menjawab pertanyaan dari mertuanya itu, dia diam sebentar lalu menjawabnya. " Maaf ma, Jessy melarangku untuk memberitahukan kepada kalian, aku juga bakal tidak tahu jika waktu itu kalau Juan dan Nona Lanny tidak membawanya kerumah sakit. Jessy juga menyembunyikannya dariku Ma, aku telat mengetahuinya karena Jessy hanya diam saja dan berbohong jika aku menanyakan kenapa wajahnya terkadang pucat ". Tuturnya tanpa melihat Mama mertuanya itu.


" Apa Jessy dan kandungannya baik-baik saja ". Tanya Steve dan kali ini dia melihat kearah kedua mertuanya itu.


Olive dan Leo tersenyum dan sama-sama menganggukan kepala mereka. Mereka berdua juga sempat kuatir dengan keadaan anak perempuan mereka tetapi begitu mendengar penjelasan dari dokter hati mereka merasa lega.


Sementara itu terdengar seseorang mengetuk pintu sekali dan membukanya. Ternyata yang datang adalah Brian dan juga Nancy, ketika mereka dihubungi oleh Leo untuk memberitahukan keadaan Jessy saat itu Brian dan Nancy berada didalam pesawat untuk melakukan perjalanan keluar negeri karena ada urusan bisnis namun mereka membatalkannya dan segera menuju rumah sakit.


" Papa .. Mama, bukankah kalian seharusnya sudah dalam perjalanan keluar negeri ?". Tanya Steve heran karena yang dia tahu orangtuanya hari ini akan keluar negeri.


" Leo menelepon kami nak dan memberitahukan tentang keadaan Jessy, tidak apa-apa kami bisa pergi nanti tapi tunggi Jessy benar-benar pulih ". Jawab Brian kepada anak laki-lakinya itu.

__ADS_1


Olive dan Nancy saling berpelukan satu sama lain, tanpa sengaja mereka berkumpul dirumah sakit.


" Bagaimana keadaannya Olive ?". Tanya Nancy yang sekarang berdiri dihadapan Olive.


" Menantumu baik-baik saja Nancy, dokter mengatakan dia akan segera sadar ". Olive menjawab sambil tersenyum kepada besannya itu.


Sementara orang-orang dalam ruangan itu sedang mengobrol satu sama lain, Jessy perlahan menggerakan tangannya dan membuka matanya secara perlahan. Steve yang sedaritadi duduk dikursi sampingnya melihat Jessy yang sudah sadar segera mendekatkan tubuhnya.


" Jessy .. kau sudah sadar !". Ucapnya.


" Steve ". Jessy berusaha mengumpulkan tenaganya dan menyesuaikan pandangannya karena cahaya lampu diruangan itu. " Kenapa kau bisa ada disini Steve ? ".


" Bagaimana keadaanmu apa kau merasakan sakit ditubuhmu ? Katakan dimana sakitnya !". Steve tidak menjawab apa yang ditanya oleh Jessy melainkan melontarkan yang lain.


" Tidak .. aku tidak merasakan sakit ". Jawab Jessy kemudian ia mengalihkan pandangannya kesemua ruangan dan melihat banyak orang disana termasuk mertuanya dan orangtuanya.


" Bukankah papa Brian dan mama Nancy akan keluar negeri hari ini ? Kenapa bisa ada disini ". Seru Jessy binggung.


Brian dan Nancy menghampiri Jessy yang masih baring diranjang. " Kami akan pergi jika menantu kami yang cantik ini sudah pulih ". Jawab Nancy sambil menyentuh pipi Jessy dengan lembut.


Jessy mendengarnya pun menarik kedua sudut bibirnya, tampak tersenyum kepada mama mertuanya itu. ". Terima kasih Ma, Pa ". Jawab Jessy singkat.


Dalam hatinya dia bersyukur memiliki keluarga yang menyayangi dirinya, kedua mertuanya pun menyayanginya seperti anak kandung sendiri. Namun wajahnya beralih kepada Steve, Jessy bisa merasakan jika saat ini Steve sangat mengkhawatirkan dirinya dan anak yang dikandungnya.

__ADS_1


Aku mencintaimu Steve. Jessy berucap dalam hatinya.


__ADS_2